Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 88 Eliza vs Nike


__ADS_3

Hidup dengan satu ginjal, ditambah berada di lingkungan yang kurang sehat, membuat kondisi Nyonya Lucy semakin hari semakin memburuk. Dia jadi sering keluar masuk rumah sakit selama berada di rumah tahanan. Tentu saja, hal itu membuat Eliza menjadi cemas. Karena satu-satunya orang yang selalu memanjakannya kini tidak berdaya.


"Mama, apa yang harus aku lakukan? Aku sudah mencari pendonor ginjal tetapi belum ada yang cocok dengan Mama," tanya Eliza cemas.


"Eliza, apa tidak ada yang ingin membantu kita? Apa kamu sudah minta tolong pada Om Yongki untuk membantu membebaskan Mama?"


"Belum, Mah. Kak Jordan selalu mengawasi aku."


"Eliza, coba minta tolong pada Anez untuk mencarikan pendonor. Bukankah dia selalu mengikuti keinginan kamu?"


"Mama benar. Hampir saja lupa, kalau Anez selalu tidak bisa menolak keinginan aku."


Setelah mendengarkan apa yang mamanya suruh, Eliza pun bergegas untuk pulang. Dia langsung ke kantor Ganesha karena jaraknya tidak jauh dari rumah sakit tempat mamanya di rawat.


Saat tiba di sana tanpa permisi lagi, Eliza langsung masuk ke ruangan Ganesha. Namun, dia sangat terkejut saat melihat laki-laki itu dipeluk oleh gadis lain. Eliza langsung menghampiri mereka dan memisahkan Nike yang sedang memeluk laki-laki yang dicintainya.


"Apa yang kalian lakukan? Apa pantas kamu memeluk laki-laki yang sudah beristri?" sentak Eliza pada Nike.


"Apa urusan kamu? Istrinya bukan, saudara juga bukan, pacar pun bukan. Benar kan Kak Anez," balas Nike sengit.


"Eliza sahabat aku Nike," ucap Ganesha, "Nike ini adiknya Piero yang hilang Liz."


"Apa? Adiknya Piero? Kamu gak salah?" tanya Eliza merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya.


"Iya, Eliza. Nike adikku yang hilang. Mungkin kamu tidak tahu karena saat Nike hilang, kamu belum bertemu dengan kita," timpal Piero ikut menjelaskan.


Kenapa aku merasa familiar dengan dia, tapi gadis sombong itu sangat menyebalkan menggangu kesenangan aku memeluk Kak Anez batin Nike.


"Oh, kalau begitu aku minta maaf sudah salah menduga. Anez, apa bisa kita bicara berdua? Ada hal penting yang ingin aku katakan," ujar Eliza langsung mendekati Ganesha yang sedari tadi diam menonton perdebatan dua gadis cantik yang berusaha menarik perhatiannya.

__ADS_1


"Bicara apa? Apa harus berdua saja?" tanya Ganesha.


"Iya, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan kamu," ucap Eliza.


"Kamu tunggu saja nanti jam makan siang di kafe depa. Aku tidak mau bicara berdua dengan seorang perempuan di ruangan tertutup," ucap Ganesha dengan beranjak pergi menuju ke kursi kebesarannya. "Sekarang kalian boleh keluar, aku mau kembali kerjanya," usir-nya.


"Anez, jangan lupa tiga puluh menit lagi kita akan meeting. Aku mau mengantar Nike ke lobby dulu. Ayo Nike!" ajak Piero.


"Kak Anez, aku pulang dulu ya!" pamit Nike dengan tersenyum manis pada Ganesha. Sementara pada Eliza, dia tersenyum sinis.


Sontak saja Eliza membalasnya dengan melotot ke arah Nike. Dia merasa tidak suka dengan sikap NIke yang seperti itu. Sementara Piero hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua gadis itu.


"Eliza, kamu dengar kan? Aku hari ini sibuk sekali. Kalau ada perlu nanti saja saat jam makan siang," ucap Ganesha saat melihat Eliza yang tidak beranjak dari tempatnya.


"Ya, aku pergi dulu. Anez, aku harap kamu tidak pernah tergoda dengan gadis itu. Kamu harus ingat, dia tidak pantas untuk kamu. Apalagi asal-usulnya tidak jelas. Aku yakin, kamu bisa berpikir cerdas," ucap Eliza sebelum dia pergi meninggalkan ruangan Ganesha.


Semoga saja firasat aku tidak benar kalau Nike sedang memanfaatkan keadaan untuk mendekati aku. Meskipun dia adiknya Piero dan teman kecilku, tapi aku tidak mungkin membalas perasaannya, batin Ganesha.


"Sudah waktunya meeting," ucap Piero mengingatkan.


"Ayo!" sahut Ganesha seraya beranjak dari tempat duduknya.


Kedua sahabat itu pun langsung pergi menuju ruang meeting yang sudah disiapkan. Terlihat sudah banyak perwakilan dari tiap departemen yang sedang menunggunya. Ganesha pun langsung memimpin meeting bulanan itu dengan Piero yang selalu berada di sampingnya.


Lumayan lama mereka mendengarkan laporan hasil evaluasi dari tiap departemen. Sampai saat jam makan siang, barulah meeting-nya selesai. Ganesha pun langsung menuju ke kafe yang sudah dia janjikan dengan Eliza. Begitupun dengan Piero yang sudah ditunggu oleh Sania di kafe yang sama. Karena tadi, dia meminta Sania untuk datang ke sana.


"Mau bicara apa?" tanya Ganesha to the poin.


"Pesan saja dulu. Kita bicara sambil makan," ucap Eliza.

__ADS_1


Ganesha pun segera memesan makanan yang ingin dimakannya. Begitupun dengan Eliza, karena sedari tadi di sebelum memesan makanan saat menunggu Ganesha. Seraya menunggu pesanan datang, barulah Eliza memberanikan diri untuk berbicara pada sahabat kecilnya.


"Anez, aku tidak akan basa basi lagi. Aku minta tolong pada kamu untuk membantuku mencarikan pendonor ginjal. Keadaan Mama semakin memburuk karena dia harus hidup dengan satu ginjal di lingkungan yang kumuh. Please Anez! Anggap saja ini permintaan dari sahabat kamu. Meskipun Mama memang bersalah di masa lalu, tapi Mama tidak pernah jahat sama kamu dan keluarga kamu, kan?" Eliza menatap lekat wajah Ganesha dengan penuh pengharapan.


"Keuntungan apa yang akan aku dapat kalau membantu mama kamu?"


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Eliza kaget mendengar pertanyaan Ganesha.


"Eliza, kamu tahu kan, siapa yang sudah mama kamu celakai? Dia istriku. Sekarang kamu meminta tolong pada suami yang menjadi korban mama kamu, kepercayaan diri kamu sangat tinggi, Eliza!" Ganesha tersenyum miring pada sahabat kecilnya.


"Kenapa kamu tidak meminta tolong pada Papa kamu dan Kak Jordan. Mereka pasti bisa membantu kamu kalau mereka menginginkan untuk membantu mama kamu."


"Kalian sama saja. Padahal mama tidak pernah jahat pada Keluarga kamu, tapi sedikit pun kamu tidak ingin membantu kesusahan Mama," sungut Eliza kesal dengan penolakan Ganesha.


"Bukan aku tidak mau membantu kamu. Tapi kamu salah orang jika minta tolong pada keluarga korban kejahatan mama kamu. Seharusnya kamu berpikir dulu sebelum menentukan siapa yang harus kamu minta pertolongan."


"Baiklah aku mengerti! Lihat saja, aku pasti akan mendapatkan pendonor itu bagaimana pun caranya," ucap Eliza.


Mereka langsung terdiam saat pelayan datang membawakan makanan pesanan keduanya. Tidak ada lagi obrolan di antara keduanya. Hanya terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring. Saat makanannya sudah selesai barulah Eliza berbicara kembali.


"Anez, aku harap kamu tidak mengatakan apapun yang kita bicarakan pada papa. Aku mengerti kalau kamu tidak mau membantu. Tapi kalau kamu mau membantu aku, aku rela menyerahkan tubuhku padamu."


"Maaf Eliza, aku tidak tertarik dengan bekas jamahan laki-laki lain."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


Sambil nunggu Shopia dan Anez, yuk mampir juga ke karya keren satu ini.



__ADS_2