
Udara malam yang dingin, membuat Ganesha semakin mengeratkan pelukannya pada Shopia. Ganesha baru saja menengok bayi yang ada dalam kandungan Shopia. Entahlah, Shopia selalu mudah terperdaya oleh suaminya. Sampai akhirnya, dia ikut terbawa suasana dan ikut menikmati setiap sentuhan yang Ganesha berikan.
Sangat berbeda dengan Piero yang sedang berjalan kaki di sepanjang trotoar. Dia sengaja tidak membawa mobil karena ingin menikmati suasana malam di kota kecil itu.
"Mas Piero, memangnya mau beli apa? Katanya mau mencari oleh-oleh untuk Nyonya dan Tuan," tanya Sania yang sedari tadi mengikuti langkah kaki Piero.
"Aku juga gak tahu, makanya aku ajak kamu. Biasanya perempuan lebih tahu soal makanan khas daerah sini," ucap Piero enteng.
Astaga! Kenapa tidak bilang dari tadi kalau mau beli makanan? Padahal toko oleh-oleh sudah terlewat, batin Sania.
"Kita beli jeniper aja, Mas. Aku pernah mencicipi, Jeniper dari kota ini rasanya enak," saran Sania.
"Jeniper? Memang ada makanan yang namanya jeniper?" tanya Piero heran.
"Itu minuman, Mas. Jeruk nipis peras disingkat jadi jeniper," ucap Sania dengan cengengesan.
"Aku serahkan sama kamu saja untuk membeli minuman yang seperti itu. Aku mau ke taman dulu. Apa kamu mau ikut?"
Bukannya tadi mengajak? Kenapa bertanya lagi? Mas Piero membingungkan.
"Tidak, Mas. Aku ke toko oleh-oleh saja, biar cepat-cepat istirahat. Soalnya badanku lumayan pegal-pegal kena pukulan Parto," tolak Sania.
"Oh, sayang sekali. Padahal aku ingin ada yang menemani."
Tahulah, Mas Piero. Membingungkan! Lebih baik aku tidur.
Setelah Piero memberikan sejumlah uang, akhirnya Sania kembali berbalik menuju ke toko oleh-oleh. Sementara Piero melanjutkan langkah kakinya menuju ke taman kota. Dia duduk sendiri di bangku taman, seraya melihat anak kecil yang saling berlarian mengitari air mancur.
Piero jadi teringat dengan adiknya dulu. Saat mereka masih kecil, suka bermain bersama dengan Ganesha saling kejar-kejaran. Namun, naas adiknya yang selisih umur hanya setahun dengannya, harus hilang ditangan penculik saat mereka sedang bermain petak umpet di taman.
Ganesha yang menyadari adik Piero diculik tidak dapat mengejar penculik itu. Sehingga dia menjadi syok berat melihat kejadian itu. Begitupun dengan Piero yang sedang bersembunyi, menjadi kaget saat mendengar teriakan sahabatnya.
"Vero, kalau waktu itu kamu tidak hilang, mungkin sekarang sudah menikah seperti Shopia. Setiap kali melihat dia, aku selalu teringat sama kamu," gumam Piero
Merasa puas menikmati malam di taman, Piero pun kembali ke hotel. Dia mengerutkan keningnya melihat Sania yang sedang duduk di lobby hotel. Piero pun akhirnya menghampiri gadis itu.
"Kamu sedang apa di sini?" tanya Piero.
__ADS_1
"Sedang menunggu Mas. Aku lupa meminta kunci mobil, soalnya mau menyimpan oleh-oleh."
"Oh, ya sudah ayo! Kuncinya ada di kantong jaket aku sedari tadi," ucap Piero kembali ke luar lobby.
Sania pun hanya mengekor di belakang dengan tentengan di tangan kanan dan kirinya. Membuat seorang pengunjung hotel yang melihat menjadi berkomentar dengan apa yang dilihatnya.
"Kasian sekali istrinya, harus repot-repot bawa barang. Sementara suaminya melenggang begitu saja."
Mendengar ada yang berbicara seperti itu, sontak saja Piero menengok ke belakang. Dia melihat Sania berjalan kesusahan dengan barang yang dibawanya. Piero pun langsung mengambil sebagian dari barang bawaan Sania.
"Kalau kamu susah bawanya, kenapa tidak minta tolong?" tanya Piero.
"Gak apa kho, Mas. Aku tidak selemah itu," ucap Sania.
Sania hanya tersenyum tipis melihat Piero dari belakang. Meskipun mereka sudah kenal lama, tetapi baru kali ini keduanya terlihat dekat. Karena biasanya, mereka berkomunikasi saat ada pekerjaan.
Setelah Piero memasukkan semua barang bawaannya, keduanya pun langsung bergegas menuju ke kamar masing-masing karena memang hari sudah larut. Badan Sania pun sudah berdemo ingin istirahat.
...***...
Sementara Shopia hanya diam karena badannya terasa letih setelah digempur oleh suaminya. Bagaimana tidak, setelah malam mereka mendaki gunung, pagi harinya Ganesha mengajak Shopia mengarungi samudera kenikmatan.
"Shopia, apa kamu sakit?" tanya Ganesha saat melihat istrinya tidak bersemangat.
"Aku capek, Mas. Ingin tidur," keluh Shopia.
"Nanti tidur di mobil. Piero, ayo kita berangkat!" ajak Ganesha.
"Siap, bos. Kamu duluan saja ke mobil, aku mau ke kamar Sania dulu. Dari tadi belum kelihatan batang hidungnya. Takutnya dia masih tidur," suruh Piero.
"Oke, kamu pulang bersama Sania saja. Aku mau langsung berangkat sekarang dengan supir," suruh Ganesha.
"Ya sudah, nanti aku pulang ikut mobil Sania."
Kedua sahabat itu akhirnya berpisah. Ganesha dan Shopia memilih untuk langsung pulang, sedangkan Piero kembali masuk ke hotel. Dia bergegas menuju ke kamar Sania setelah dia meminta kunci cadangan ke resepsionis terlebih dahulu.
Saat sampai di sana, benar saja kalau Sania masih tertidur pulang. Gadis itu baru bisa terlelap saat menjelang dini hari. Karena dia merasa sangat terganggu dengan suara live music yang berada tepat di bawah kamarnya.
__ADS_1
"Sania bangun! Sudah siang." Piero menggoyang-goyangkan badan gadis itu agat segera terbangun dari tidurnya.
Bukannya Sania bangun, dia malah menarik Piero agar ikut tidur bersamanya. Sampai akhirnya Piero terjerembab dan menubruk tubuh Sania. Hingga tanpa sengaja, bibirnya bersentuhan dengan gadis itu. Tentu saja hal itu membuat Sania langsung bangun dari tidurnya.
"Awww ... Apa yang Mas lakukan di kamarku?" Sania memekik kaget.
"Kamu bangun kesiangan Sania. Aku hanya ingin membangunkan kamu," jawab Piero segera bangun dari tubuh Sania.
"Apa? Aku kesiangan!" Lagi-lagi Sania memekik kaget.
"Iya, cepatlah membersihkan diri. Kita harus secepatnya kembali ke ibu kota." suruh Piero.
"Baik, Bos!" sahut Sania seraya berlari menuju ke kamar mandi.
"Bibirnya lembut sekali," gumam Piero dengan mengelus bibirnya berkali-kali. Dia pun beranjak menuju ke sebuah Sofa yang ada kamar itu.
Tidak butuh waktu lama bagi Sania untuk membersihkan dirinya. Dia segera berpakaian dan merapikan penampilannya. Setelah dirasa sudah siap, Dia pun menghampiri Piero yang sedang duduk. Sania merasa heran saat melihat Piero terus menerus memegang bibirnya.
"Mas, ayo berangkat! Aku sudah siap," ajak Sania membuyarkan lamunan Piero.
"Eh ... Sudah siap ya?"
"Iya, kenapa Mas melamun?"
"Tidaka apa. Sania, soal tadi aku minta maaf karena tidak sengaja jatuh ke pelukan kamu."
"Sudahlah, Mas. Jangan dibahas! Aku malu mendengarnya.
"Oh! Kenapa tidur kamu pulas sekali? Apa kamu begitu betah tinggal di sini?"
"Tidak juga Mas. Aku hanya suka saja bisa dekat dengan Mas, makanya tidak bisa tidur." Bohong Sania.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1