
Suasana riuh pesta dan asyiknya bercengkrama dengan kolega, membuat Ganesha lupa kalau dia datang bersama dengan istrinya. Sampai akhirnya Jimmy menyadarkan dia.
"Anez, kamu datang sendiri? Shopia mana?" tanya Jimmy yang baru datang bergabung.
"Shopia bersama aku. Astaga aku lupa kalau tadi dia pamit untuk mencari makanan," jawab Ganesha kaget. "Aku akan mencarinya dulu," pamit Ganesha.
Dia pun segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Shopia. Dengan kaki yang terus melangkah mencari istrinya, telinga dia pasang untuk melakukan panggilan telepon. Tapi sayang, Shopia tidak mengangkatnya juga.
"Kemana dia? Kenapa harus hilang lagi?" gerutu Ganesha dengan mata tajam terus mencari Shopia ke segala arah. Sampai pada sebuah Sofa yang ada di pojok ruangan, barulah dia menghentikan langkahnya.
Ganesha menghela napas lega saat melihat Shopia sedang bercengkrama dengan seorang wanita yang seusia mamanya. Dia pun segera mempercepat langkahnya untuk menemui wanita yang sudah memenuhi hatinya.
"Shopia, kenapa lama tidak kembali."
"Loh, Tuan Muda Oenelon. Apa kabarnya? Apa Nyonya dan Tuan Oenelon tidak datang ke sini?" tanya Laurent.
"Aku baik, Nyonya. Bagaimana kabar Anda? Kebetulan orang tuaku sedang berada di luar negeri. Kapan Anda kembali ke tanah air?" tanya Ganesha seraya mengulurkan tangan untuk menjabat tangan teman mamanya itu.
"Belum lama. Apa Anda kenal dengan Shopia?"
"Dia istriku, Nyonya."
"Oh, lama di luar negeri jadi aku tidak tahu kalau kamu sudah menikah."
Ganesha pun ikut larut dalam obrolan bersama Nyonya Laurent. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin larut. Namun, sepanjang perjalanan Shopia terus kepikiran dengan foto yang ditunjukkan oleh Nyonya Laurent kepadanya. Dia benar-benar penasaran dengan sosok orang yang berada di dalam foto itu. Apalagi ucapan Nyonya Laurent membuat dia jadi terngiang-ngiang.
"Clara itu istri pertama Jody tapi pernikahannya tidak diakui oleh keluarga besar Vuitton, sehingga Jody menikah lagi dengan istrinya yang sekarang karena perjodohan. Tapi, saat anak bungsunya berumur tiga tahun, Clara dan putrinya menghilang. Aku pikir, kalian sudah kembali."
"Tidak mungkin kalau mama itu Clara. Karena wajahku tidak memiliki kemiripan dengan Mama tetapi dengan papa," gumam Shopia.
"Kamu bicara apa?" tanya Ganesha yang tidak mendengar dengan jelas ucapan istrinya.
"Tidak apa. Aku hanya berpikir, kenapa Mas Piero tidak menikah sama Sania saja. Kalau Eliza kan, sudah jelas dia sukanya sama Mas. Bukan sama Mas Piero," kelit Shopia.
"Coba kamu tanyakan pada Sania. Apa dia mau menikah dengan Piero?"
__ADS_1
"Apa Mas setuju?"
"Kenapa tidak? Sania gadis baik, tapi sepertinya agak susah mendapatkan restu dari Om Yongki. Dia sukanya menantu dari kalangan atas."
"Untung aku tidak jatuh cinta dengan Mas Piero. Bisa-bisa sakit hati doble. Ditolak oleh Mas Piero, tidak direstui pula oleh keluarganya."
"Apa kamu menyukai Piero?" tanya Ganesha berubah dengan nada serius.
"Suka, karena Mas Piero itu baik dan suka menolong aku." jawab Shopia dengan tersenyum.
"Katakan sekali lagi!"
"Mas Piero baik."
Grep!
Ganesha langsung memojokkan istrinya ke pintu mobil. Untung saja pintunya selalu terkunci otomatis jika ditutup rapat, sehingga tidak khawatir mereka akan terjatuh.
"Shopia, apa kamu ingin dihukum?" tanya Ganesha dengan menatap lekat istrinya. Tangannya mengunci tangan Shopia agar tidak memberontak.
"Tidak salah katamu? Kamu salah besar karena memuji laki-laki lain di depanku. Ditambah, kamu seperti sengaja untuk menantang aku."
"Tidak, Mas. Aku tidak berpikir seperti itu."
"Benarkah?" Tangan Ganesha menelusup masuk ke dalam gaun malam Shopia dengan belahan hingga di atas lutut. Dia mengelus lembut paha istrinya dengan bibir yang tersenyum miring.
"Serius! Mas ... Ah ... Jangan!"
"Kenapa mendessah? Apa kamu ingin menggodaku?" Tangan nakalnya terus saja merayap di balik gaun malam Shopia.
"Mas, hentikan! Ah ...."
"Tidak, sebelum kamu mendapatkan hukumannya."
Perlahan Ganesha mendekatkan wajahnya dan meraup bibir mungil yang berwarna merah cherry itu. Tangannya terus saja memberikan sentuhan pada titik sensitif Shopia membuat ibu hamil itu jadi ikut terhanyut.
__ADS_1
Sementara Sania dan supir yang duduk disampingnya langsung menyalakan musik dengan suara yang lumayan kencang. Agar mereka tidak mendengar lagi suara decakan dari kursi belakang. Untung saja tadi tirai penutup sudah terpasang sempurna. Sehingga mereka tidak perlu melihat apa yang sedang terjadi di belakang.
Saat mobil sudah sampai di depan rumah, Ganesha pun langsung melepaskan istrinya. Dia tersenyum puas karena bisa mengerjai Shopia di mobil. Meskipun mereka tidak sampai ke tahap penyatuan. Akan tetapi, keduanya sama-sama terbuai dengan sensasi yang berbeda.
"Mas, kamu semakin nakal," gerutu Shopia.
"Tapi kamu juga suka, kan? Buktinya kamu ...."
Tangan Shopia langsung membekap mulut suaminya. Dia tidak ingin Ganesha memperjelas keadaan yang sebenarnya terjadi. Apalagi, di depan ada Sania dan supir. Membuat dia menjadi malu.
"Aku turun duluan," ucap Shopia setelah menarik kembali tangannya.
Dia segera berlalu begitu saja menuju ke kamarnya. Saat tiba di sana, dia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan make-up. Begitupun dengan Ganesha yang menyusul istrinya masuk ke dalam. Meninggalkan Sania dan supir yang masih termenung di tempatnya.
"Sania, kamu tidak turun? Bapak mau memasukkan mobil ke garasi."
"Ah, iya Pak. Aku turun, tadi aku malu bertemu dengan Mbak Shopia dan Tuan Anez. Bisa-bisanya mereka begituan saat mobil sedang jalan. Malah aku yang malu mendengar suaranya," keluh Sania.
"Jangan diambil pusing! Orang kaya memang suka seenaknya. Mulai membiasakan diri saja melihat kemesraan mereka. Yang penting, mereka memberi kita gaji yang lumayan besar dibandingkan di tempat lain."
"Iya, Bapak benar. Aku masuk dulu, Pak!" pamit Sania seraya turun dari mobil.
Gadis itu berlalu pergi menuju ke kamarnya yang ada di kamar bawah. Bersisian dengan kamar Bi Sari. Namun, saat tiba di sana, telinganya kembali ternoda mendengar suara-suara lucknut dari kamar suami-istri yang bekerja di rumah itu.
"Ya Tuhan, ngenes sekali nasibku. Baru diputuskan sama tunangan, malah harus mendengar suara-suara itu," gerutu Sania. Dia menutup kepalanya dengan bantal agar suara Bi Sari tidak terdengar jelas. Sampai akhirnya di tertidur pulas karena rasa lelah yang mendera.
Berbeda dengan Tuan dan Nyonya rumah. Mereka memilih melanjutkan olahraga malam yang tadi tertunda. Ganesha benar-benar tidak bisa melewatkan malam tanpa menyentuh istrinya. Mau tidak mau, Shopia hanya bisa mengikuti keinganan suaminya. Karena dia tidur pun, Ganesha selalu mengganggunya.
"Ah ... Shopiaaa ...." Lenguhan panjang Ganesha menjadi akhir dari olahraga malam yang selalu membuat pria tampan itu menjadi candu. "Terima kasih, Sayang!"
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1