Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 52 Terima kasih, Mas!


__ADS_3

Malam sudah merangkak pagi, rembulan pun sudah kembali ke peraduannya. Shopia terbangun saat mendengar suara gaduh di lantai bawah. Dia pun berniat untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Diamlah! Tidak perlu pedulikan mereka," ucap Ganesha dengan mata yang terpejam. Tangannya menarik kembali Shopia agar kembali tidur bersamanya.


"Aku penasaran, Mas. Kenapa mereka teriak-teriak?"


"Biarkan saja. Paling ada kucing tetangga menyebrang ke rumah kita."


"Mas, tidak ke kantor?"


"Tidak, aku tidak bersemangat kalau jauh dari kamu. Pasti mual aku kambuh. Apalagi kalau Wenny datang membawa berkas, kepalaku langsung pusing mencium bau parfumnya," beber Ganesha. "Aku gak tahu, kenapa karyawan di kantorku pakai parfum yang bikin aku mual. Makanya, aku selalu pakai masker


"Kenapa kemarin saat kita ke pesta Mas gak mual."


"Karena kamu bersamaku."


"Ada-ada saja, Mas Anez. Mas, kalau tidak ke kantor, temani aku jalan-jalan pagi yuk! Kata dokter, ibu hamil harus sering jalan-jalan pagi agar persalinannya lancar."


"Ya sudah Mas temani, tapi harus ada bayarannya."


"Mas ih, selalu saja minta itu."


"Memangnya Mas minta apa?"


"Olahraga malam plus olahraga sebelum sarapan pagi."


Ganesha tergelak sendiri mendengar jawaban istrinya. Karena memang dia selalu meminta apa yang Shopia katakan. Namun kali ini, sebenarnya bukan hal itu yang akan dia minta, tetapi hal yang lain.


"Mas tidak menyangka ternyata istri Mas sangat suka diajak olahraga. Ayo kalau mau?"


"Mas!" panggil Shopia dengan wajah melas.


"Iya-iya, Mas hanya mau minta kamu untuk membuatkan nasi goreng seafood. Bukan mau mengajak kamu olahraga sebelum sarapan. Ayo kita mandi bersama!"


Ganesha langsung bangun dari tidurnya. Dengan tubuh atletisnya yang tidak tertutup sehelai benang pun, membuat wajah Shopia seperti kepiting rebus. Ganesha hanya tersenyum tipis melihat raut wajah istrinya. Dia langsung membopong istrinya dan membawanya ke kamar mandi.


"Mas!!!" pekik Shopia kaget.


"Kenapa masih malu melihat tubuh Mas? Atau kamu tidak bisa menahannya lagi," tanya Ganesha tepat di telinga Shopia yang sama-sama tidak tertutup sehelai benang pun.

__ADS_1


"Apaan sih, Mas. Cepetan turunkan aku, Mas!" rengek Shopia.


"Nanti kalau sudah di kamar mandi."


Benar saja apa yang dikatakan Ganesha, dia menurunkan Shopia perlahan ke dalam bathtub. Mereka mandi bersama dengan bergantian menggosok punggung. Tidak ada olahraga pagi seperti yang biasa mereka lakukan. Hanya mandi seperti anak kecil yang sedang main air dengan temannya.


Selesai membersihkan dirinya, Shopia pun memakai setelan training. Karena memang perutnya belum terlalu besar, sehingga masih nyaman jika memakai celana. Ganesha pun tidak ketinggalan dengan istrinya. Dia terlihat fresh dengan setelan training yang dipakainya. Memang benar, oran yang memiliki wajah rupawan, akan selalu cocok dengan setelan apapun.


Selesai merapikan penampilannya, Shopia segera menuju ke daur untuk membuatkan pesanan suaminya. Dia berpapasan dengan Sania yang sama-sama hendak ke dapur mengambil minum.


"Pagi, Mbak Shopia!" sapa Sania.


"Pagi Sania. Sudah sarapan?" tanya Shopia.


"Sudah, Mbak. Tadi bersama dengan Bi Sari. Mbak Shopia mau pergi olah raga?" tanya Sania dengan menelisik penampilan majikannya.


"Iya, mau jalan-jalan ke taman komplek. Kamu di rumah saja, karena aku pergi bersama dengan Mas Anez."


"Baiklah kalau begitu. Aku mau membantu Bi Sari membuat kue."


"Kerjakan saja apa yang ingin kamu kerjakan. Tapi ingat, harus siap kalau nanti aku butuhkan."


Shopia hanya menggelengkan kepalanya melihat apa yang dilakukan oleh Sania. Dia langsung mencari bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat nasi goreng seafood pesanan Ganesha. Dengan dibantu oleh Sania saat menyiapkan bahannya, nasi goreng pun sudah siap dihidangkan.


"Mas ini nasi gorengnya," ucap Shopia seraya menyimpan nasi goreng itu di atas meja.


"Kamu tidak makan?" tanya Ganesha saat melihat hanya ada satu piring nasi goreng untuknya saja.


"Aku sarapan roti saja sama susu."


"Kenapa seperti terjadi persilangan? Dulu aku tidak suka makanan berat di pagi hari. Sekarang kamu yang tidak menyukainya."


"Gak tahu, Mas. Semenjak hamil, aku lebih suka makan roti dan susu di pagi hari."


"Mungkin anakku ingin seperti papanya yang tampan ini."


"Aku gak nyangka, Mas Anez bisa juga narsis. Padahal dulu sukanya cuek dan diam."


Ganesha hanya mengangkat bahunya seraya menyendokkan makanan. Karena dia pun tidak tahu jawabannya. Hanya satu hal yang dia tahu, saat bersama dengan Shopia, dia jadi bisa mengeksepresikan dirinya.

__ADS_1


Saat selesai sarapan, keduanya pun pergi berjalan-jalan mengelilingi taman komplek. Mereka duduk berdua di bangku taman yanga ada di bawah pohon termbesi. Ganesha dengan refleks mengelap keringat yang ada di dahi istrinya. Membuat Shopia menjadi diam mematung.


"Apa kamu lelah berjalan sejauh itu?" tanya Ganesha dengan tidak menghentikan tangannya.


"Lumayan, Mas. Mungkin karena aku jarang jalan-jalan, jadinya mudah lelah."


"Mulai besok kamu biasakan jalan pagi setelah Mas berangkat. Nanti Mas akan menyuruh Sania untuk menemani kamu."


"Baiklah, Mas. Hm ... Mas, terima kasih ya!" ucap Shopia dengan tersenyum manis.


"Terima kasih untuk apa?"


"Terima untuk semua perubahan pada diri Mas. Aku merasa jadi wanita paling beruntung karena memiliki, Mas." Shopia memegang tangan kekar Ganesha yang baru saja selesai mengelap keringat di dahinya.


"Mas yang berterima kasih padamu. Karena kamu mau memaafkan kesalahan, Mas."


"Apa kamu ingin menjenguk sahabat kamu? Dora sudah mengaku bersalah soal foto-foto editan dan penculikan kamu. Tapi dia tidak mengaku telah memasukan obat ke minuman kamu ataupun Mas."


"Sudahlah, Mas. Aku tidak ingin membahasnya lagi. Mungkin itu sudah jalan kita untuk bersama."


"Benar, sepertinya kita harus berterima kasih sama orang yang sudah mengerjai kita."


Puas merehatkan sejenak badannya di bahan pohon yang teduh itu. Pasangan suami istri itu pun kembali pulang ke rumahnya. Mereka sedikit kaget melihat Piero sudah ada di rumahnya sedang mengobrol serius dengan Sania.


"Piero kapan datang?" tanya Ganesha kaget.


"Belum lama. Mungkin satu jam yang lalu. Bagaimana keponakan aku?" Piero balik bertanya pada Ganesha.


"Makin pintar. Dia mengerti kalau orang tuanya butuh waktu untuk berdua." Ganesha tersenyum tipis karena ucapannya sendiri.


"Ck! Kamu tuh, selalu saja tidak mau jauh dari wanita yang kamu cintai." Piero berdecak sebal karena hari ini Ganesha mendadak tidak masuk kerja. Padahal sudah ditunggu oleh klien. Lebih parahnya lagi. Laki-laki itu sengaja mematikan ponselnya sehingga Piero tidak bisa menghubunginya.


"Karena kebahagiaanku hidup bersama dengan orang yang aku cintai. Coba saja kamu jatuh cinta Piero. Pasti akan merasakan apa yang aku rasakan sekarang."


"Iya, Mas Piero. Kenapa tidak sama Sania saja?"


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2