Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 110 Eliza Sadar


__ADS_3

Selepas kepergian semua orang yang berkunjung ke rumah Keluarga Oenelon, Shopia pun membawa suaminya ke kamar mereka. Ganesha terus saja memegang tangan istrinya yang sedang mendorong kursi. Hatinya sangat bahagia karena akhirnya bisa kembali pulang ke rumah.


"Mas, mau mandi sekarang apa nanti?" tanya Shopia saat mereka sudah sampai di kamar.


"Nanti saja. Mas kangen mandi bersama," ucap Ganesha dengan menatap lekat istrinya.


"Sabar ya Mas! Kalau semua penyangganya sudah di lepas, kita bisa melakukannya lagi."


"Shopia, kenapa Mas tidak melihat ibu. Apa dia baik-baik saja?" tanya Ganesha.


"Ibu sedang pergi ke negara suaminya. Katanya sedang mengurus harta warisan untuk Louis dari kakeknya," jelas Shopia. "Mas, apa Mas sudah tahu tentang Eliza?"


"Sudah. Kasian juga, tapi Mas ataupun Papa tidak akan mencabut tuntutan pada dia. Biar dia bisa merenungi kesalahannya."


"Mas, nanti sepulang kontrol, kita menengoknya yuk!" ajak Shopia. "Kata Tante Mary, dia masih koma. Semoga saja segera sadar dan kembali sehat."


"Kamu tidak sakit hati dengan dia?" tanya Ganesha.


"Sakit hati pasti, Mas. Apalagi, dia berencana untuk menjual putri kita. Tapi semuanya sudah terjadi, tidak baik juga kita menyimpan dendam. Toh Eliza sudah mendapatkan teguran dari Tuhan. Untuk apa kita menyimpan kebencian untuk dia?"


Ganesha hanya tersenyum mendengar penuturan istrinya. Dia merasa sangat bersyukur karena memiliki seorang istri yang kaya hatinya. Meskipun kini sudah bergelimang harta, tetapi hal itu tidak merubah istrinya untuk menjadi orang yang congkak ataupun senang berfoya-foya. Shopia tetap Shopia, masih menjadi pribadi yang sederhana.


...***...


Sementara jauh di rumah sakit Bhayangkara, perlahan Eliza membuka matanya. Setelah beberapa hari dia koma, akhirnya gadis itu bisa melihat kembali dunia yang penuh warna. Eliza hanya terdiam seraya matanya menyapu seluruh ruangan. Setitik cairan bening keluar dari pelupuk matanya, saat menyadari hidupnya kini benar-benar sendiri.


Sampai terdengar suara pintu yang terbuka dari luar, Eliza pun kembali memejamkan matanya. Dia tidak mau orang itu melihat dia yang sedang rapuh. Apalagi seluruh tubuhnya kini dibungkus oleh perban seperti seorang mumi.


"Eliza, Papa tidak pernah menyangka kamu akan mengalami nasib tragis seperti ini. Semoga dengan kejadian ini, kamu bisa kembali menjadi gadis kecilnya Papa. Meskipun dulu , kamu sangat manja, tapi kamu gadis kecil Papa yang baik," ucap Tuan Jody dengan menatap lekat wajah Eliza yang pipinya terbakar sebelah.


Tuan Jody menghela napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya, "Cepatlah sehat, Nak! Setelah kamu mempertanggungjawabkan semuanya, Papa akan mencari ahli bedah plastik yang handal untuk mengobati bekas luka bakar kamu."


Perlahan Eliza pun membuka matanya, dia melihat mata Tuan Jody sudah mengembun, membuat sisi hatinya yang terdalam merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukannya. Kebenciannya pada Shopia telah membutakan Eliza atas semua kebaikan Tuan Jody.


"Ma-ma-ma-af-kan A-ku," ucap Eliza dengan terbata. Akibat luka bakar itu, membuat pita suaranya sedikit terganggu.

__ADS_1


"Kamu sudah sadar, Nak?" Tuan Jody nampak terkejut mendengar Eliza berbicara. Dia merasa bahagia karena gadis kecilnya kini sudah kembali sadar.


Eliza hanya mengedipkan matanya untuk merespon ucapan Tuan Jody. Hatinya menghangat mendapatkan perhatian dari paruh baya yang telah dia lukai hatinya. Sungguh Eliza merasa sangat malu saat mendapatkan kebaikan dari orang yang telah dia lukai hatinya.


Sementara Jordan hanya diam sedari tadi. Sedikit pun dia tidak mengeluarkan suaranya. Hanya matanya yang terus menyelidik keadaan Eliza yang hampir seluruh tubuhnya mengalami luka bakar. Beruntung sekali nyawanya masih tertolong. Jordan pun langsung menekan bel untuk memanggil dokter yang menangani Eliza.


Tidak berapa lama kemudian, Dokter dan perawat berdatangan untuk memeriksa keadaan Eliza yang baru sadar dari komanya, sehingga Tuan Jody dan Jordan memilih untuk ke luar dari ruang perawatan Eliza dan membiarkan tenaga medis menjalankan tugasnya.


"Papa, apa Papa yakin akan mengobati Eliza?" tanya Jordan.


"Iya, Nak! Bagaimanapun juga, dia sudah menjadi bagian hidup papa selama dua puluh tahun lebih. Papa yakin dia pasti akan berubah seperti Eliza saat masih kecil yang selalu baik pada semua orang."


"Bagaimana kalau dia menjadi jahat lagi?" tanya Jordan dengan menatap lekat papanya. Dia merasa sangsi kalau Eliza akan berubah baik.


"Nak, selama Eliza berada di lembaga pemasyarakatan, dia pasti mendapatkan bimbingan dan pembinaan agar menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga saja hal itu akan membuka mata hatinya agar dia tidak mengulangi kesalahannya lagi."


"Semoga saja, Pah. Dia bisa seperti yang Papa harapkan."


Baru saja Jordan mengakhiri ucapannya, terlihat Nyonya Mary dan Nike berjalan dengan tergesa. Mereka diberitahu oleh dokter kalau Eliza sudah sadar. Kebetulan juga, keduanya memang sudah berada di parkiran ingin menjenguk Eliza.


"Iya, aku ingin mengetahui keadaan Eliza," jawab Tuan Jody.


"Bagaimana keadaannya, apa dia bisa normal lagi?" tanya Nyonya Mary cemas.


"Entahlah, dokter masih memeriksa dia. Semoga saja, dia baik-baik saja," ucap Tuan Jody.


"Pah, aku ke kafetaria dulu," pamit Jordan.


"Iya, Nak. Nanti Papa hubungi kamu kalau sudah memastikan keadaan Eliza."


"Tante, aku pergi dulu!" pamit Jordan pada Nyonya Mary.


Pemuda tampan dan mapan itu langsung pergi meninggalkan Tuan Jody di depan ruangan Eliza. Dia berjalan menuju ke kafetaria rumah sakit Bhayangkara. Namun, saat dia melewati ruang anak, sesaat Jordan tertegun melihat nama dokter yang bertugas di sana. Sebuah nama yang selalu tersimpan di hatinya dan tidak pernah tergantikan oleh gadis manapun.


Dokter Tiffany Lewis, apa dia bekerja di sini? Kapan dia kembali ke tanah air? Bukankah dia memutuskan untuk tidak pernah kembali?

__ADS_1


Jordan terus bertanya-tanya dalam hatinya, dia tidak pernah menyangka akan menemukan kembali cintanya yang hilang. Perlahan kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan khusus anak, sampai ada seorang perawat yang menegurnya.


"Maaf, Tuan. Anda ingin menjenguk siapa?" tanya perawat yang berjaga di sana.


"Dokter Tiffany," jawab Jordan.


"Maaf Tuan, Dokter Tiffany sedang memeriksa pasien. Kalau Anda ada perlu, silakan menunggu di depan ruangannya!" suruh perawat itu.


"Apa boleh aku menunggu di sini?" tanya Jordan kekeh.


Perawat itu tidak langsung menjawab. Dia menimang-nimang dulu, sampai akhirnya dia membuat keputusan sendiri. "Silakan tunggu di sana, Tuan. Mungkin sebentar lagi Dokter Tiffany selesai tugas."


"Terima kasih!" sahut Jordan dengan menuju ke kursi yang ditunjuk oleh perawat itu.


Jordan memutuskan untuk bermain game seraya menunggu kedatangan Tiffany. Namun, saat dia sedang asyik bermain game, terdengar ada suara yang menyapanya dari belakang. Dia pun langsung mematikan ponselnya dan segera berdiri seraya membalikkan badannya.


"Jordan!"


"Fanny!"


Jordan tersenyum pada gadis yang sangat dia rindukan. Berbeda dengan Tiffany yang menjadi kikuk saat bertemu kembali dengan mantan kekasihnya. Meskipun sebenarnya di antara mereka tidak pernah ada kata putus.


"Apa kabar Fanny? Bisa kita bicara?"


"Aku baik, sepertinya aku tidak ada waktu Jordan. Mungkin lain kali saja," tolak Tiffany.


"Baiklah! Aku akan menunggu sampai jam kerja kamu selesai."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik, like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Shopia dan Anez update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2