Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 69 Menikmati Senja


__ADS_3

Pembicaraan laki-laki tampan itu terhenti saat mendengar suara Sania berseru kegirangan melihat sekumpulan burung camar yang beterbangan. Semakin menambah suasana romantis di sore yang cerah itu.


"Mas Piero lihat! Burungnya banyak sekali," seru Sania di tepi dermaga dengan tangan terulur ke depan seperti ingin menangkap salah satu dari burung itu.


Sementara Nike seperti tidak peduli pada Sania. Dia begitu asyik menopangkan dagunya, seraya melihat ke arah matahari yang warnanya sudah berubah kemerahan.


Terlintas dalam ingatannya, saat dia berlarian di tepi pantai bersama dengan dua orang anak laki-laki yang seusianya. Namun, bayangan anak laki-laki itu secepatnya tergantikan dengan bayangan masa kelam saat dia masih kecil. Sehingga Nike memilih untuk tidak mengingatnya.


"Hei, tidak baik melamun di kala senja," tegur Elgar seraya merangkul pinggang Nike. Cassanova itu memang sangat suka mengencani artis pendatang baru yang tergabung dalam JS Entertainment. Tetapi hanya yang masih tersegel yang akan menjadi teman kencannya.


"Bang El, apa bisa kita kembali ke hotel. Kepalaku sedikit pusing," keluh Nike.


"Oke Baby, as your wish. Piero, aku pergi duluan. Nikmati harimu ya!" Elgar menepuk pundak Piero sebelum dia pergi membawa gadis itu.


"Oke El, Aku tunggu kabar baik secepatnya!"


Elgar tidak menyahut ucapan Piero, dia hanya menautkan telunjuk dan ibu jari membentuk huruf O sebagai pertanda mengiyakan ucapan teman sekolahnya itu.


Selepas kepergian Elgar dan Nike, Laki-laki tampan itu menghampiri istrinya. Dia berdiri di depan Sania yang sedang melihat kearahnya dengan mata yang tidak berkedip. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna membentuk bulan sabit. Piero mencondongkan badannya sedikit lalu meniup pelan telinga Sania.


"Kenapa bengong melihat aku, apa aku terlihat sangat tampan?"


"Iya, eh tidak," jawab Sania gugup.


"Tidak usah membohongi diri kamu sendiri. Lagipula, sudah seharusnya seorang istri mengagumi suaminya sendiri. Bukan laki-laki lain, begitupun sebaliknya. Apapun keadaan istrinya, seorang suami hanya boleh mencintai istrinya sendiri," ucap Piero dengan menyelipkan anak rambut Sania ke belakang telinga gadis itu.


Tentu saja hal itu membuat detak jantung Sania semakin berirama tidak karuan. Ada rasa yang tidak biasanya menelusup masuk di relung hatinya. Rasa aman, dihargai, dan perasaan diistimewakan yang kini Sania rasakan.


"Terima kasih, Mas. Sudah bisa menerima aku, meskipun Mas tahu kalau kita tidak sederajat. Aku janji akan menjaga hati aku hanya untuk Mas," ucap Sania dengan menatap lekat mata Piero.

__ADS_1


"Kita saling menjaga hati dan juga mata dari godaan yang bisa menghancurkan pernikahan kita." Piero pun menatap lekat mata Sania.


Sampai akhirnya, entah siapa yang memulai, bibir mereka saling bertautan bersamaan dengan sinar mentari yang menghilang di ufuk barat. Keduanya sama-sama terbuai dengan suasana yang mereka ciptakan sendiri.


Berbeda dengan Ganesha dan Shopia. Kedua pasangan suami istri itu baru saja terbangun dari tidurnya. Setelah mereka kelelahan karena olahraga ranjang di siang bolong.


Kruyuk kruyuk!


Ganesha tersenyum mendengar perut Shopia yang berbunyi nyaring. Dia pun langsung memesan makanan agar di antar ke kamarnya. Namun, laki-laki itu seakan enggan bangun dari tidurnya. Dia kembali memeluk tubuh istrinya.


"Mas, aku mandi dulu. Badanku lengket," ucap Shopia.


"Bareng sama Mas aja. Tapi nanti dulu, Mas mau minta Piero buat bawa baju ganti ke sini," ucap Ganesha seraya mencari kontak asistennya. Saat sudah mendapatkannya, Ganesha pun segera menghubungi Piero.


"Halo, Anez! Ada apa menghubungi aku?" tanya Piero dengan napas yang terdengar memburu.


"Iya, halo. Kamu lagi apa? Kenapa ngos-ngosan begitu?" tanya Ganesha.


"Oke, aku ngerti. Aku hanya minta tolong bawakan baju ganti untuk aku dan Shopia ke hotel XXI. Tiga puluh menit harus sudah sampai di sini."


"Kenapa kamu tidak beli baju dulu sebelum check-in? Hotel itu kan nyatu dengan Mall."


"Aku lupa. Udah cepetan, gak pake lama."


Klik!


Ganesha langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia langsung bangun dari tidurnya dan membawa Shopia ke kamar mandi. Pasangan suami-isteri istri itu bergantian saling menggosok punggung dan membilas tubuh mereka bersama-sama di bawah guyuran air shower. Seperti anak kecil yang sedang bermain air hujan.


Berbeda dengan Piero yang terlihat menahan kekesalannya karena Ganesha sudah menggangu moments romantisnya bersama dengan Sania. Namun, Sania dengan sabar menenangkan suaminya.

__ADS_1


"Sudah, Mas. Tidak usah kesal. Sudah jadi resiko pekerjaan kita menjadi seorang asisten. Nanti pasti ada kesempatan lagi untuk kita menikmati senja bersama," ucap Sania dengan memegang tangan suaminya.


"Kita ke pusat kota dulu ya! Mereka menginap di sana," ucap Piero.


"Iya, gak apa. Ayo Mas! Mereka pasti menunggu," ajak Sania.


Keduanya pun segera beranjak pergi menuju ke rumah Ganesha yang terlewati jika mereka akan ke pusat kota. Sehingga tidak usah mencari dulu di butik. Karena hanya akan memakan waktu lebih lama lagi. Setelah mendapatkan semua yang diinginkan bosnya, pasangan suami istri itu segera menuju ke hotel tempat Ganesha dan Shopia menginap.


Setibanya di sana, terlihat Ganesha memakai handuk kimono yang disediakan oleh hotel. Rupanya laki-laki tampan dengan sorot mata tajam itu, baru selesai membersihkan dirinya. Dengan wajah tanpa dosa, dia bicara pada Piero.


"Piero, tumben kamu lambat. Seharusnya kamu sampai ke sini lima belas menit yang lalu," ucap Ganesha dengan menyenderkan badannya di punggung sofa.


"Anez, hari ini aku masih cuti kalau kamu lupa. Aku hanya tidak tega saja kalau sampai tidak membawakan baju ganti untuk kalian. Makanya lain bawa baju ganti sebelum check-in," sarkas Piero.


"Benarkah kamu masih cuti? Ya ampun aku lupa! Baiklah, sebagai ganti jam cuti kamu yang aku pakai, aku akan memberikan bonus bulan ini."


"Itulah yang aku suka dari kamu, tidak pernah pelit memberi bonus."


"Piero, kalau kamu mau pakai kamar, pesan saja. Nanti masukan saja tagihannya sekalian punyaku. Aku mau pakai baju dulu, Shopia pasti menunggu di dalam." Ganesha pergi meninggalkan Piero yang duduk di sofa bersama dengan Sania. Karena memang, tempat tidur dan tempat menonton televisi terhalang sekat.


"Mas, kita nginap di hotel yang tadi saja. Lebih enak suasananya daripada di sini. Meskipun kamar yang di sana tidak sebesar kamar ini," bisik Sania.


"Baiklah, nanti kita kembali ke sana."


Benar-benar gadis sederhana. Dia lebih suka di tempat yang tidak terlalu besar tapi nyaman. Dibandingkan di sini yang fasilitasnya lebih mewah karena Anez mengambil presidential suite, sedangkan kamar yang aku ambil hanya junior suite room, batin Piero.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, give dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2