
Langkah kaki Ganesha begitu tergesa, dia ingin cepat-cepat sampai di ruangannya. Sementara Piero dan Eliza, dia suruh agar langsung ke ruangan tempat Eliza bekerja. Ganesha yakin kalau Shopia pasti sedang berada di ruangannya. Benar saja dugaannya, saat dia akan masuk bersamaan dengan Shopia yang akan keluar dari ruangan Ganesha.
"Permisi, Tuan. Baju yang anda minta sudah saya siapkan di kamar pribadi Anda," ucap Shopia saat Ganesha berdiri tepat di depan daun pintu.
Laki-laki itu tidak menjawab, dia hanya menatap lekat istrinya yang tidak mau menatapnya. Perlahan dia mendekati Shopia. Saat sudah berada di depan Shopia, Ganesha mengangkat dagu istrinya agar melihat ke arahnya.
"Lihat lawan bicara, Shopia! Kenapa kamu terus menundukkan kepalamu saat berbicara denganku? Apa aku terlihat sangat menyeramkan?"
Kamu memang sangat menyeramkan, Anez. Hanya dalam satu malam kamu menghancurkan hidupku. Bahkan memberikan aku luka terus-menerus, batin Shopia.
"Tidak, Tuan. Saya hanya harus sadar diri, di mana posisi saya? Lagi pula ini di kantor, saya harus bersikap profesional."
"Apa aku pernah meminta kamu untuk bersikap formal meskipun tidak di depan orang lain?"
"Tidak, Tuan. Anda sangat tahu bagaimana harus memisahkan masalah pribadi dan pekerjaan," sindir Shopia.
"Kamu menyindir aku?"
"Saya tidak berani, Tuan." Shopia memalingkan pandangannya dari tatapan tajam Ganesha.
"Lihat aku, Shopia! Hentikan kegilaan kamu bersikap seperti itu! Aku tidak suka kamu menganggap aku seperti orang asing! Aku ini suami kamu," sentak Ganesha.
"Lalu aku harus bersikap seperti, Mas? Apa aku harus bersikap layaknya seorang istri di depan orang lain, tapi Mas sendiri tidak mengharapkan kehadiran aku? Aku cukup tahu batasan dengan tidak bersikap manja dan selalu menempel pada Mas saat kita ada di kantor. Aku pikir, memang seharusnya kita seperti itu. Apa Mas lupa kalau kita hanya suami istri ...."
Shopia tidak bisa melanjutkan ucapannya karena mulutnya langsung dibungkam oleh mulut suaminya. Entah kenapa Ganesha merasa tidak suka dengan apa yang Shopia katakan. Dia terus mengeksplor seisi rongga mulut Shopia, sampai akhirnya terdengar suara pintu ada yang mengetuk, barulah Ganesha melepaskan pagutannya.
"Kamu terlalu banyak bicara, Shopia. Aku tidak suka mendengarnya," ucap Ganesha dengan napas yang masih memburu.
Dia selalu tidak bisa mengontrol tubuhnya saat sudah mulai menikmati candunya. Untung saja ada orang yang datang ke ruangannya, sehingga mereka tidak berakhir di tempat tidur.
__ADS_1
"Masuk!" suruh Ganesha, setelah dia membuka kunci pintu ruangannya dengan remote control.
Terlihat Piero menyembulkan kepalanya dengan senyum yang menggoda sahabatnya. Dia yakin, pasti telah terjadi sesuatu di ruangan itu. Sampai-sampai pintunya dikunci, padahal hari masih pagi
"Sorry, ganggu kalian. Aku hanya ingin memberikan berkas untuk meeting nanti jam sepuluh. Selain itu, mau bilang kalau Eliza sudah siap di tempatnya," ucap Piero.
"Baik, Mas. Kalau begitu saya permisi, Tuan Ganesha."
"Shopia tunggu! Kamu melupakan sesuatu," pinta Ganesha.
"Maaf, melupakan apa?" tanya Shopia.
"Kemarilah! Lakukan apa yang seharusnya seorang istri lakukan!" suruh Ganesha dengan mengulurkan tangannya.
Awalnya Shopia sempat merasa heran dengan maksud Ganesha, tapi sejurus kemudian dia mengerti kalau Ganesha ingin dia mencium tangannya. Shopia pun melakukan apa yang suaminya inginkan tanpa bicara sepatah kata pun.
"Jadilah istri yang baik, kunci surga ada pada ridho suamimu," ucap Ganesha. Dia tersenyum dalam hati melihat ekspresi kaget Shopia. Dia menemukan kata-kata itu saat tadi tanpa sengaja mendengar di lampu merah.
Shopia sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ganesha. Apa itu artinya, Ganesha ingin menjalani pernikahan mereka seperti pasangan suami istri pada umumnya atau sengaja hanya untuk mengikatnya?
"Iya, Mas. Saya pergi dulu," ucap Shopia pelan.
Wanita cantik itu berjalan dengan gontai. Dia sangat bingung dengan sikap dan ucapan suaminya yang terkadang seperti dua sisi mata yang berbeda. Saat sampai di ruangannya, terlihat Eliza sedang berbincang dengan managernya.
"Nih, Shopia sudah datang. Kamu sekarang kurusan. Apa begitu melelahkan menjadi assisten Tuan Anez di rumah dan di kantor?" tanya Jimmy, manager keuangan.
"Bisa saja, Mas. Mungkin aku belum terbiasa dengan pekerjaan baruku," ucap Shopia dengan tersenyum. "Hallo Mbak Eliza, senang bisa berkenalan dengan Mbak."
Shopia mengulurkan tangan mengajak berjabatan tangan dengan karyawan baru itu. Akan tetapi gayung tidak bersambut. Eliza hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis tanpa ada niat untuk menjabat tangan Shopia.
__ADS_1
"Aku sudah tahu kamu, kho!" sahut Eliza. "Bisa kita mulai sekarang? Aku menunggumu sudah cukup lama," lanjutnya.
"Santai saja Eliza. Shopia ini salah satu karyawan kebanggaan aku. Lagi pula Tuan Anez tidak akan marah pada putri investornya," ucap Jimmy.
"Bisa saja, Mas Jimmy." Eliza tersenyum ramah pada Jimmy. Sangat berbeda sikap yang dia tunjukkan pada Shopia.
"Kalau begitu, aku kembali ke ruanganku ya! Masih banyak pekerjaan yang menanti," pamit Jimmy. Ayah dua anak itu pun langsung berlalu pergi meninggalkan kedua gadis itu.
"Baik, Mbak Eliza. Mari kita mulai saja!" ajak Shopia.
Wanita cantik pun mulai menjelaskan detail pekerjaan yang biasa dia lakukan. Namun, Eliza seperti acuh tak acuh mendengarkan penjelasan dari Shopia. Barulah saat Ganesha dan Piero masuk ke sana. Dia berpura-pura serius mendengarkan penjelasan dari Shopia.
Sementara Ganesha yang masuk ke ruangan Jimmy, penglihatannya tidak lepas dari Shopia. Dia terus saja melihat istrinya dari balik jendela besar yang ada di ruangan Jimmy. Ganesha membiarkan Piero dan Jimmy yang sibuk berdiskusi.
Dia sabar sekali menghadapi Eliza. Padahal yang aku tahu, gadis itu sangat rewel sama seperti Dora. Mereka selalu memaksa aku untuk memenuhi semua keinginannya. Tapi Shopia, dia tidak pernah menuntut apapun. Saat dulu masih dekat dengan Dora, gadis itu sering mengalah pada sahabatnya. Tapi kenapa aku bisa membencinya? Apa mungkin yang tanpa sengaja aku dengar waktu di Jepang itu benar?
"Bagaimana, Anez? Apa perlu kita merubah semua program yang sudah berjalan?" tanya Piero.
Namun sepertinya, Ganesha tidak menanggapi. Piero pun langsung mengikuti arah pandang bos sekaligus sahabatnya itu. Saat dia tahu apa yang membuat Ganesha terdiam, Piero hanya bisa menghela napas.
"Hallo Anez! Kamu memandang terus istrimu sampai tidak mendengar apa yang kita katakan," ucap Piero membuyarkan lamunan bos-nya.
"Sudahlah, Anez. Lebih baik kamu berdamai dengan keadaan. Kasihan Shopia, menikah denganmu belum ada satu bulan saja badannya sudah kurus begitu. Dia memang salah, tapi tidak semua karena kesalahan dia, kan? Lagi pula, lebih baik kamu memiliki istri seperti Shopia dibandingkan dengan Dora. Entahlah, kalau kamu sama Dora, aku merasa kurang sreg," ungkap Jimmy.
"Aku tidak butuh penilaian kalian. Lebih baik kalian tidak usah ikut campur dengan urusan pribadiku."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote, dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....