
Semenjak kepergian mereka ke vila itu, Shopia semakin berhati-hati pada Ganesha. Namun, wanita itu semakin mengerti keinginan suaminya. Shopia sudah mulai terbiasa dengan sikap Ganesha yang terkadang susah dimengerti. Meskipun begitu, Ganesha sudah tidak bersikap kasar lagi padanya.
Zara pun sudah pindah ke rumah barunya. Sesekali Shopia minta ijin pada Ganesha untuk bermain ke rumah Zara. Padahal dia ingin merehatkan badannya sejenak di rumahnya sendiri.
Seperti saat ini, Shopia bisa bebas menginap di rumahnya, karena Ganesha sedang perjalanan dinas ke luar negeri. Shopia dan Zara pun menikmati kebersamaan mereka yang jarang terjadi. Karena saat ada Ganesha, Shopia selalu bersama dengan laki-laki itu.
"Shopia, kita ngmall yuk! Jarang banget kita bisa jalan bareng," ajak Shopia.
"Boleh, sekalian kita nyalon. Biar aku yang traktir," ucap Shopia.
"Beda nih Bu Bos, udah mulai main traktir." Zara tersenyum menggoda sahabatnya.
"Sekali-kali, hitung-hitung syukuran rumah. Punyaku kan udah lunas," ucap Shopia.
"Enak punyamu udah lunas. Aku masih lama. Tapi biarlah, daripada aku kost yang bayarannya lumayan besar. mending buat cicil rumah. Iya gak?"
"Yup betul banget. Beda nih kalau anak akunting, hitung-hitungan laba ruginya kuat banget," goda Shopia.
"Pasti dong! Udah yuk, kita berangkat sekarang!" ajak Zara dengan menarik tangan sahabatnya.
Mereka pun berangkat dengan mobil yang Anez berikan. Kedua sahabat itu terlihat sangat bahagia menikmati kebersamaan mereka. Namun, saat tiba di parkiran, keduanya dibuat bengong dengan kehadiran seseorang yang sudah lama tidak dilihatnya.
"Dora ...." lirih Shopia pelan.
Shopia hanya diam mematung saat melihat Dora keluar dari mobil bersama dengan ibunya. Sangat kebetulan sekali mobil mereka parkir bersebelahan. Belum sempat dia menyapa, Tessa sudah bicara lebih dulu.
__ADS_1
"Wah, hari ini sangat sial sekali. Di ibu kota yang luas ini, kenapa harus bertemu dengan pelakor itu? Dora, jangan pernah dekat-dekat lagi sama benalu seperti dia. Menjijikan!" hina Tessa.
"Ya ampun Tante, sudah tua juga ngomong gak dijaga. Hati-hati loh nanti kuburannya gak muat." Bukan Shopia yang bicara, tapi Zara langsung membalas ucapan mamanya Dora. Entah kenapa, dari dulu dia memang tidak pernah suka dengan ibu dan anak itu. Meskipun semua orang bilang kalau Dora cantik dan mempesona tapi dia tidak pernah menyukai gadis itu.
"Cih! Kalian berdua itu memang cocok berteman. Sama-sama dari kasta Sudra. Tidak punya tata krama dan sopan santun pada orang tua," cibir Tessa.
Zara yang tersulut, ingin membalas kembali ucapan Tessa. Tetapi Shopia langsung memegang tangan Zara dengan kuat, sebagai tanda tidak boleh melayani hinaan dia. Akhirnya Zara pun hanya diam dengan bibir yang mengerucut.
"Maaf Tante. Kami permisi," pamit Shopia pada Tessa. "Dora, senang melihat kamu kembali. Aku duluan," lanjutnya.
Shopia segera menarik tangan Zara agar segera pergi dari sana. Rasanya tidak etis mereka harus bertengkar di parkiran. Namun, baru saja Shopia melangkahkan kakinya, terdengar Dora berbicara.
"Aku kembali karena aku ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Shopia, tidakkah kamu ingin berterima kasih padaku, karena kamu bisa merasakan jadi seorang Nyonya. Tapi sayang, waktumu telah habis. Sudah seharusnya kamu kembali ke tempat asal kamu," sinis Dora.
Shopia hanya tersenyum samar mendengar apa yang Dora katakan. Dia melanjutkan kembali langkah kakinya tanpa berniat untuk menoleh ke arah Dora. Shopia hanya tertawa dalam hati karena takdir mempermainkannya. Baru saja hubungannya membaik dengan Ganesha. Kini pemilik hati laki-laki itu datang ingin mengambil kembali laki-laki yang sudah menjadi suaminya.
Zara tidak tahu setiap permintaan yang Anez kabulkan selalu ada harga yang harus aku bayar, batin Shopia.
"Aku tidak apa-apa Zara. Dari awal memang Dora yang Anez cintai, bukan aku." Shopia tersenyum getir dengan apa yang dikatakannya. Tetapi, dia terus menguatkan hatinya kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Sudahlah! Dari pada kita pusing-pusing, lebih baik kita karaoke yuk!" ajak Zara langsung mengalihkan pembicaraan.
"Katamu mau ke salon. Jadina mau ke mana?" tanya Shopia setelah dia bisa menetralkan perasaannya.
"Ke salon dulu, baru kita karaoke. Let's go baby!" Zara langsung merangkul bahu Shopia. Mereka pun kembali berjalan dengan langkah ceria. Untuk sesaat, Shopia bisa melupakan kegundahannya.
__ADS_1
Setibanya di salon yang dituju, kedua wanita cantik itu memilih perawatan seluruh badan. Mereka pun menunggu giliran dengan duduk di kursi tunggu. Zara terus saja berceloteh untuk menghidupkan suasana. Sementara Shopia, hanya sesekali menimpali.
"Ya Tuhan! Kenapa harus bertemu lagi dengan pelakor. Mbak-Mbak cantik, hati-hati loh dengan wanita ini. Dia itu seorang pelakor. Calon suami anakku saja dia rebut. Padahal dia sahabat anakku dan sering kali ditolong oleh anakku," tunjuk Tessa saat masuk ke salon yang sama dengan Shopia.
"Ih, cantik-cantik pelakor." Salah satu pengunjung langsung bergidik jijik.
"Mbak, kalau tidak tahu kejadian yang sebenarnya, lebih baik jangan ikut menghakimi. Sudah jelas-jelas kalau sahabat aku dijebak tapi dia dituduh merebut. Yang jadi pertanyaannya, untuk apa coba sahabat aku dijebak? Coba Dora jelaskan, untuk apa kamu menjebak Shopia?" Zara langsung menyerang balik.
Meskipun dia tidak tahu kejadian pastinya, tapi dia yakin kalau ada orang yang sudah memasukkan obat pada minuman Shopia. Sehingga sahabatnya tidak sadar saat ada laki-laki yang telah menikmati tubuhnya di saat sedang tidur.
"Jaga bicaramu, Zara! Kamu jangan menuduh orang sembarangan. Aku tidak pernah memasukkan apapun ke minuman Shopia. Aku bisa menuntut kamu dengan kasus pencemaran nama baik," sentak Dora merasa tidak terima dengan apa yang Zara katakan.
"Oh, ya? Silakan saja, biar sekalian terungkap sebenarnya apa yang telah terjadi saat malam itu," tantang Zara.
"Mama, ayo kita pindah ke salon yang lain saja. Bersama dengan orang seperti mereka membuat aku alergi," ucap Dora langsung menarik tangan mamanya.
Zara hanya tersenyum miring melihat kepergian Dora. Dia semakin yakin, kalau waktu itu Shopia dikerjai sampai harus berakhir di tempat tidur bersama dengan Ganesha. Namun, tidak ada seorang pun yang mau mengungkapkan kebenarannya.
"Zara, terima kasih. Hanya kamu yang mau membela aku. Saat semua orang memojokkanku," ucap Shopia dengan suara yang bergetar.
"Karena aku sahabat kamu. Yang akan selalu ada untuk kamu dalam suka dan duka. Shopia, kamu tidak sendiri karena aku akan selalu bersama kamu."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....