
Ganesha berjalan perlahan menghampiri istrinya yang sedang tertawa sumbang. Tanpa bicara lagi, dia langsug melemparkan tubuhnya ke samping Shopia. Kepalanya dia senderkan pada bahu wanita yang terkejut dengan kedatangannya.
"Shopia, kenapa tertawa kamu menakutkan sekali. Apa kamu ada masalah?" tanya Ganesha.
Masalahku ada pada kamu, Anez.
"Tidak ada. Aku merasa lucu saja dengan film yang sedang aku tonton. Nasibnya sangat miris. Sudah tahu itu lembah, tapi dia tetap saja berjalan ke arah sana. Akhirnya dia terjatuh dan menjadi makanan singa lapar," jelas Shopia.
"Apa film seperti itu lucu?" tanya Ganesha heran.
"Tentu saja. Mas Anez, sampai kapan kontrak kita berjalan?" tanya Shopia berubah serius.
"Kenapa? Apa kamu sudah tidak tahan?" Ganesha membetulkan posisi duduknya. "Shopia, kamu meminta pun, aku tidak akan menceraikan kamu. Kecuali saat aku sudah merasa bosan."
"Aku berharap, Mas Anez secepatnya merasa bosan sama aku."
"Apa sekarang kamu sudah tidak mencintaiku lagi, sehingga berharap berpisah denganku?"
"Mungkin saja. Bukankah perasaan seseorang bisa berubah kapan saja? Dulu, aku memang sangat mengagumi sosok Mas Anez. Tapi sekarang, sepertinya aku akan menyerah saja."
Degh!
Entah kenapa, hati Ganesha seperti terhantam batu besar mendengar apa yang istrinya katakan. Sudut di hatinya merasa tidak rela jika Shopia sudah tidak mencintainya lagi. Dia langsung menatap lekat mata Shopia sebelum akhirnya dia berbicara.
"Apa kamu cemburu dengan Eliza?" tebak Ganesha.
"Apa, Mas? Cemburu? Bukankah aku tidak berhak cemburu pada Mas Anez. Begitupun dengan Mas Anez, tidak boleh cemburu sama aku."
Baiklah Shopia! Aku ingin tahu, apakah benar kamu tidak akan cemburu jika aku dekat dengan wanita lain, batin Ganesha.
Ganesha tidak bicara lagi. Dia langsung beranjak menuju ke kamar mandi. Sementara Shopia hanya melihat punggung kokoh suaminya sampai menghilang di balik pintu kamar mandi.
Wanita cantik itu hanya bisa menghela napas dalam. Dia terus menguatkan hatinya agar tidak menangis. Memang benar dalam perjanjian tidak boleh saling mencampuri kehidupan pribadi, tetapi melihat Ganesha bisa sehangat itu pada gadis lain, sisi hatinya merasa teriris. Sementara padanya tidak pernah mengatakan kata-kata manis. Hanya pemujaan saat laki-laki mendapatkan pelepasan.
...***...
Keesokan harinya, Shopia sudah siap dengan pakaian kerjanya. Dia tersenyum manis menyambut kedatangan Ganesha di meja makan. Wanita cantik itu menyiapkan makanan untuk Ganesha, lalu dia pun kembali duduk di kursinya.
__ADS_1
Tidak ada pembicaraan di meja makan, Ganesha langsung memakan makanan yang sudah disiapkan oleh istrinya. Sampai keduanya selesai makan, barulah Ganesha berbicara.
"Shopia, siapkan baju ganti untuk aku. Nanti malam aku akan menghadiri pesta. Aku tidak mau bolak-balik pulang ke rumah karena acaranya tidak jauh dari perusahaan," suruh Ganesha.
"Baik!" sahut Shopia langsung beranjak pergi ke kamarnya.
Ganesha hanya melihat kepergian istrinya. Entahlah, kenapa dia merasa terusik dengan sikap Shopia yang datar. Wanita itu memang tersenyum, tapi seperti bukan senyum tulus dari hatinya.
Biarkan saja, untuk apa aku peduli padanya? Kalau malam itu tidak terjadi, aku pun tidak akan berbuat jahat padanya. Meskipun aku tahu, kalau Shopia sering memperhatikan aku diam-diam, batin Ganesha.
Laki-laki berperawakan tinggi tegap itu langsung bangun dari duduknya dan memilih untuk pergi ke kantor. Dia pergi begitu saja, tanpa berniat menunggu istrinya yang sedang menyiapkan baju untuknya.
Sementara Shopia hanya menghembuskan napas kasar saat mendengar suara mobil Ganesha yang sudah menjauh. Dia langsung memesan ojek online agar tidak telat datang kantor.
Sungguh lucu hidupmu Shopia! Kenapa pernah mencintai laki-laki yang tidak pernah menghargai perasaan kamu?
Dia berjalan gontai dengan paper bag di tangannya. Terus saja dia menertawakan dirinya sendiri. Sampai satpam rumah yang melihatnya merasa heran melihat ekspresi wajah Shopia yang tidak biasa.
"Non, mau saya antar ke depan?" tawar Pak Satpam.
Tidak lama kemudian, ojek pesanannya pun datang. Dia langsung berpamitan pada satpam rumahnya. Tidak butuh waktu lama, dia sudah sampai di kantornya. Bahkan, kedatangannya bersamaan dengan mobil Anez yang memasuki kawasan perusahaannya.
Shopia melewati mobil suaminya begitu saja. Dia hanya menganggukkan kepalanya sedikit pada satpam yang menyapanya. Barulah saat berpapasan dengan Piero, dia tersenyum pada laki-laki itu.
"Baru datang, Shopia?" sapa Piero.
"Iya, Mas. Aku ke atas duluan ya!" pamit Shopia dengan tersenyum ramah.
"Oke, aku menunggu Anez dulu."
Wanita cantik itu hanya tersenyum menanggapi sapaan dari orang-orang yang dikenal. Meskipun banyak orang yang menyalakan dengan kejadian di villa waktu itu, tetapi tidak sedikit yang tidak terpengaruh dan percaya pada Shopia.
"Shopia tunggu!" teriak Zara seraya berlari menghampirinya.
"Jangan lari, Zara!" tegur Shopia seraya menghentikan langkahnya.
"Kamu tahu, posisi kamu akan diisi oleh anak baru. Katanya, hari ini orangnya akan mulai kerja. Jadi, selamanya kamu akan jadi assisten-nya Tuan Ganesha," beber Zara.
__ADS_1
"Tidak apa, mungkin aku juga harus mulai mencari kerja lagi," ucap Shopia datar.
"Untuk apa kamu mencari kerja. Kalau kamu lelah kerja di kantor, lebih baik kamu di rumah saja mengurus anak dan suami."
"Maunya sih gitu. Mungkin nanti, kalau aku bertemu dengan jodoh yang tepat," gumam Shopia. "Yuk masuk! Lift-nya sudah terbuka!" ajaknya.
Shopia dan Zara langsung ke dalam lift. Mereka merasa heran, kenapa karyawan yang lain tidak ikut masuk. Namun, saat mereka membalikkan badan, ternyata Ganesha dan Piero serta seorang gadis cantik masuk ke dalam lift yang mereka tumpangi.
Shopia hanya tersenyum samar melihat kedekatan gadis itu dengan suaminya. Dia pun berusaha untuk mengalihkan perhatiannya dengan melihat ke arah lain. Sampai akhirnya, Ganesha berbicara padanya.
"Shopia, hari ini kamu ajari Eliza pekerjaan kamu yang dulu. Dia yang akan menggantikan posisi kamu di divisi keuangan."
"Baik, Tuan!" sahut Shopia datar.
"Kamu harus mengajarinya sampai dia mengerti."
"Baik, Tuan!"
"Kamu tidak boleh mengerjainya hanya karena dia anak baru atau karena kamu memiliki dendam pribadi."
"Baik, Tuan!"
"Kamu harus ...." Ganesha tidak melanjutkan ucapannya saat Piero langsung memotongnya.
"Sudahlah, Anez! Shopia pasti mengerti dengan apa yang akan dia lakukan. Kamu tidak perlu memberitahu dia sampai se-detail itu."
"Iya, Anez. Kamu tenang saja. Aku pasti bekerja dengan baik," ucap Eliza dengan mengelus tangan Ganesha.
Ganesha langsung terdiam, dia hanya menatap lekat istrinya yang sedang menunduk dengan jari telunjuk yang mengetuk-ngetuk paper bag yang sedang dipegangnya. Beruntung terdengar pintu lift sudah terbuka, Shopia dan Zara pun bergegas untuk keluar.
"Permisi, Tuan." Zara langsung berpamitan sementara Shopia hanya membungkukkan badannya sedikit dengan senyum yang dia paksakan.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1