
Keesokan harinya, perlahan Shopia melepaskan pelukan Ganesha. Dia pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Selesai dengan acara bersih-bersih badan dan berpakaian rapi, Shopia segera menuju ke dapur untuk membuatkan bubur.
"Non, mau membuat bubur?" tanya Bi Sari dengan melihat isi panci.
"Iya Bi. Mas Anez sakit."
"Sakit apa?"
"Demam, Bi. Sepertinya karena kelelahan."
"Sebentar, Bibi tambahan rempah-rempah dulu. Den Anez tidak bisa minum obat, jadinya Nyonya suka menyuruh Bibi menggunakan cara lain agar dia bisa cepat sembuh."
"Maksud, Bibi?"
"Den Anez takut kalau melihat obat-obatan. Apalagi jarum suntik," jelas Bi Sari
Akhirnya, Bi Sari yang melanjutkan mengolah bubur. Shopia hanya melihat apa yang wanita paruh baya itu lakukan. Dia hanya mengingat, bahan apa saja yang dipakai untuk membuat bubur khusus itu
Setelah buburnya jadi, Shopia pun segera membawanya ke atas. Terlihat Ganesha seperti habis dari toilet. Dia berjalan sempoyongan dengan mata yang terlihat sayu.
"Ini, Mas. Dimakan dulu buburnya."
"Kamu yang bikin?"
"Dibantu Bi Sari."
Ganesha hanya mendengus kasar mendengar nama itu disebut. Karena sudah pasti rasanya akan aneh. Tapi mau tidak mau dia harus menghabiskannya.
"Kamu, suapi aku!"
"Iya, Mas."
Perlahan Shopia pun menyuapi suaminya. Ganesha hanya melihat apa yang istrinya lakukan. Entah apa yang ada dipikiran laki-laki itu. Dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Wanita yang sedang meniup bubur untuk dia makan.
Seperti ada sebuah tarikan magnet dari sendok yang Shopia arahkan padanya. Ganesha selalu membuka mulutnya setiap kali Shopia menyuapi bubur aneh itu. Tanpa terasa dia sudah menghabiskan satu mangkuk bubur.
__ADS_1
"Mas, ini minumnya!"
"Apa buburnya sudah habis?" tanya Ganesha seraya mengambil gelas dari tangan Shopia.
"Sudah, Mas. Sekarang tinggal minum obat pereda demam saja."
"Tidak, aku tidak mau." Ganesha langsung menutup mulutnya saat mendengar kata obat.
Rasanya Shopia ingin tertawa dalam hati melihat ekspresi wajah laki-laki yang dulu pernah memberinya obat pencegah kehamilan. Dia tidak pernah menyangka kalau laki-laki itu justru sangat takut pada obat, apalagi jika berbentuk tablet dan kapsul.
"Bagaimana Mas bisa sembuh kalau tidak mau minum obat?" goda Shopia.
"Bubur aneh itu sudah dicampur ramuan obat. Kamu pikir rasa bubur yang tadi aku makan itu enak?"
"Enak, buktinya Mas Anez makan sangat lahap. Ya sudah kalau tidak mau minum obat. Aku menyimpan dulu bekas makan Mas ke dapur."
Tumben sekali aku bisa menghabiskannya. Apa dia memakai ilmu sihir hingga aku bisa menurut padanya, batin Ganesha.
Matanya tidak pernah lepas dari gerak-gerik wanita cantik itu. Sampai Shopia menghilang dari balik pintu, barulah Ganesha memutuskan pandangannya. Dia mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dilihatnya wallpaper yang menampilkan fotonya bersama dengan Dora. Namun tanpa sengaja ada wajah Shopia yang terekam sedang menatapnya dalam. Entah kenapa dia senang memasang foto itu.
...***...
Pesta anniversary Keluarga Oenelon terasa penuh dengan kehangatan. Pesta kecil-kecilan yang hanya dihadiri oleh kerabat terdekat dan rekan bisnis itu disajikan dengan konsep kekeluargaan. Semuanya berbaur untuk lebih dekat satu sama lain.
Beruntung keadaan Ganesha sudah membaik. Malam harinya, dia bisa datang ke acara anniversary orang tuanya. Tentu saja bersama Shopia yang nampak cantik dan anggun dengan gaun malam yang dipakainya.
"Mama, Papa happy anniversary. Semoga langgeng hingga nanti dan dipenuhi dengan kebahagiaan. Aamiin." Shopia mencium punggung tangan mertuanya berganti setelah dia mengucapkan selamat pada mereka.
"Terima kasih, Shopia. Terima kasih sudah menjaga putra Mama."
"Iya, Shopia. Papa juga senang kamu bisa menjaga Anez. Bahkan bisa membuat dia menghabisi buburnya." Tuan Galen langsung menimpali.
"Ck! Papa dan Mama senang sekali membuatku susah. Sudah buburnya aneh yang kasih juga lebih aneh lagi," Ganesha berdecak sebal di depan orang tuanya.
"Anez Anez. Selalu saja lain di mulut lain di hati. Apa kamu tidak ingin mengucapkan selamat pada Mama dan Papa?" tanya Tuan Galen.
__ADS_1
"Iya selamat buat Mama dan Papa. Semoga bahagia dan menjaga aku selamanya." Ganesha memeluk mama dan papanya bergantian. Dia senang melihat keharmonisan orang tuanya.
Tidak berapa lama kemudian, acara inti pun dimulai. Pasangan yang sudah tidak muda lagi itu nampak bahwa bahagia karena di anniversary yang ke dua puluh delapan, kini mereka sudah memiliki seorang menantu.
"Terima kasih untuk semua tamu yang datang. Semoga semua yang hadir selalu ada dalam lindungan-NYA. Semoga tahun depan, saat kami merayakan anniversary, sudah ada seorang cucu yang menemani kami di sini," ucap Tuan Galen dengan melirik ke arah putra dan menantunya.
Setelah cukup berbasa-basi, Galen dan Prada pun segera memotong kue yang bertingkat lima itu. Potongan pertama untuk mereka saling menyuapi. Sementara potongan kedua, mereka berikan pada Ganesha dan Shopia. Agar anaknya berbagi makanan dalam satu piring.
Setelah acara potong kue dan makan bersama, Ganesha mengajak Shopia untuk ke kamarnya. Namun, baru saja mereka akan melangkahkan kakinya, Eliza menahan kedua pasangan itu.
"Anez, boleh aku pinjam buku Oliver Twist? Aku ingin sekali membacanya," tanya Eliza.
"Ada di perpustakaan mini. Nanti aku bawakan ke kantor ya, sekarang aku mau istirahat dulu," jawab Ganesha.
"Sebentar saja Anez. Setelah itu, aku tidak akan mengganggu kamu lagi." Eliza memegang tangan Ganesha setengah memaksa pada laki-laki itu.
Ganesha menghela napas dalam sebelum dia berbicara pada Eliza. "Baiklah, tapi aku tidak bisa menemani kamu lama-lama di sana."
Ganesha langsung pergi begitu saja ke perpustakaan mini yang ada di halaman belakang rumahnya. Sebuah bangunan dengan dinding kaca sehingga bisa terlihat semua aktivis yang ada di dalam bangunan itu karena semua rak buku diletakkan di tengah-tengah ruangan.
"Lihat! Dia lebih mementingkan keinginan aku dari pada memilih bersama kamu." Eliza tersenyum sinis seraya menyenggol bahu Shopia. Gadis itu segera mengikuti langkah panjang Ganesha.
Aku jadi penasaran dengan apa yang Eliza katakan. Baiklah Shopia, waktunya kamu membuktikan apa yang gadis itu katakan. Mas Anez akan lebih memilih bersama kamu atau menemani Eliza di perpustakaan, batin Shopia.
Dia pun segera menyesal Ganesha dan Eliza. Saat sampai di sana, terlihat Eliza sedang mendekatkan dadanya pada tangan Ganesha. Hatinya sempat tercubit melihat semua itu, tapi dia penasaran saat belum mencoba untuk merayu suaminya. Terserah Ganesha akan menganggapnya apa, karena di mata Ganesha dia hanya perusak kebahagiaan laki-laki itu.
"Mas Anez, ayo kita tidur! Bukankah Mas Anez mau pijat? Biar lebih enak badannya." Shopia mendekat ke arah Ganesha dan mengelus dada suaminya lembut.
Pijat? Kapan aku memintanya? Apa ini tanda Shopia meminta jatah padaku, karena semalam aku tidak memberikannya. Baiklah aku akan memuaskan kamu, Shopia.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1