
Awan mendung bergelayut manja di angkasa. Piero semakin mempercepat laju kendaraannya. Dia ingin secepatnya sampai di ibu kota dan mengistirahatkan badannya. Namun ternyata, keinginannya tidak dikabulkan oleh semesta.
Tiba-tiba saja hujan deras mengguyur. Kondisi jalan yang licin dan jarak pandang yang terbatas, membuat Piero mengurangi laju kendaraannya. Ditambah lagi, telah terjadi kecelakaan di jalan tol. Yang membuat jalanan menjadi macet.
"Mas, kita ke rest area dulu yuk! Aku juga ingin buang air kecil," ajak Sania.
"Ya sudah, tidak jauh dari sini ada rest area."
Benar saja apa yang dikatakan oleh Piero. Tidak sampai lima ratus meter, terlihat ada rest area. Piero pun segera membelokkan mobilnya. Dia memilih untuk menunggu Sania di kafe.
"Mas, aku pesan makan dulu ya! Perutku lapar sekali," ucap Sania saat dia sudah membuang hajatnya.
"Pesan saja. Kopi aku juga belum habis," ucap Piero,
Tanpa sungkan Sania memesan makanan yang diinginkannya untuk mengganjal perut yang lapar. Dia bersikap biasa saja di depan Piero, seolah-olah mereka sudah berteman dekat. Sementara Piero hanya memperhatikan apa yang Sania lakukan. Dia melanjutkan kembali membalas pesan yang masuk ke ponselnya.
"Mas, gak makan?" tanya Sania dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Sania, makan saja dulu. Bicaranya nanti setelah kamu selesai makan."
Sania hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Piero. Dia pun kembali asyik menikmati makanannya. Sampai makanannya sudah habis, barulah dia berbicara.
"Mas, kita lewat kota saja. Kayaknya butuh waktu lama evakuasi kecelakaan itu. Di depan 'kan ada pintu keluar tol," saran Sania.
"Kamu tahu banyak daerah sini?"
"Tahu, kampung aku tidak jauh dari sini. Apa kita mampir saja dulu ke rumahku? Kalau kita keluar dari tol yang di depan nanti, kita melewati kampung aku saat menuju ke ibu kota."
"Aku tidak enak dengan keluarga kamu. Nanti mereka mengira kalau aku calon kamu," jawab Piero asal.
"Mas, tenang saja, aku sudah tunangan kho. Lihat, Mas! Sudah ada cincin di jari manis-ku," tunjuk Sania.
"Oh, jadi kamu sudah punya tunangan? Kapan kalian menikah?" tanya Piero.
__ADS_1
"Nanti, saat calon suamiku sudah menjadi pegawai negeri. Itu permintaan calon mertuaku," jawab Sania sendu.
"Memang yakin kalau calon suami kamu akan diangkat jadi pegawai negeri?" tanya Piero dengan wajah serius. Dia mendadak kepo dengan pernyataan dari gadis itu.
"Ya semoga saja secepatnya agar aku cepat menikah," jawab Sania.
"Bagaimana kalau calon suami kamu tidak diangkat juga? Apa kamu akan menunggu hingga tua?"
"Mas Piero, kenapa doakan orang itu jelek sekali? Aku juga tidak tahu harus bagaimana, setiap kali aku bertanya, pasti jawabannya sama. Padahal aku pacaran sama dia sudah lima tahun, kalau tunangan sih baru setahun yang lalu."
"Berarti kamu pacaran long distance relationship? Apa kamu yakin kalau calon suami kamu itu setia?"
"Aku yakin, karena aku tahu kalau dia mencintai aku."
"Semoga saja, kamu tidak merasakan sakitnya dikhianati."
"Mas Piero doa-nya jelek sekali. Sudah ah jangan bahas calon suami aku. Nanti malah bilang kalau calon suamiku ternyata malah mendu ...." Sania tidak melanjutkan ucapannya saat dia melihat sepasang muda-mudi yang masuk ke dalam kafe.
"Rodeo!" panggil Sania.
Mendengar namanya dipanggil, laki-laki itu pun langsung menoleh ke asal suara. Dia sangat terkejut saat melihat calon istrinya sedang berdiri tepat di belakangnya. Secepatnya, dia pun melepaskan genggaman tangannya.
"Sania, kamu dengan siapa?" tanya Rodeo kaget.
"Aku baru pulang dinas ke luar kota. Tapi ternyata bertemu dengan kamu dan Rose. Apa kalian berpacaran?" tanya Sania berusaha bersikap tenang.
"Kami memang berpacaran. Sekarang aku sedang mengandung anak Rodeo. Sania, apa kamu belum tahu kalau Rodeo sudah membatalkan pertunangan kalian?" tanya Rose dengan tidak tahu malu.
"Apa kamu bilang? Membatalkan pertunangan? Apa benar begitu, Rodeo?" tanya Sania dengan dada yang bergemuruh hebat.
"I-iya Sania. Ayo kita bicara di luar!" ajak Rodeo dengan menarik tangan Sania.
Namun, secepat kilat Sania menghempaskan tangan tunangannya itu. Marah dan sakit hati kini memenuhi dadanya. Dia hanya mengikuti ke mana Rodeo membawanya. Sementara Rose, hanya melihat lewat jendela apa yang dilakukan ayah dari bayinya itu.
__ADS_1
"Apa benar yang Rose tadi katakan?" tanya Sania dengan menatap tajam Rodeo.
"Iya, aku tidak sengaja tidur bersama dia saat ada tugas seminar ke luar kota bersamanya. Aku minta maaf Sania, semua ini di luar dugaanku. Rose hamil, padahal aku hanya satu kali melakukan itu dengannya," jelas Rodeo.
"Oh, berarti benar. Lucu ya, selama lima tahun ini, aku hanya menjaga jodoh orang. Selamat untuk kalian. Apa boleh aku memberi kalian hadiah sebagai ucapan selamat?" sarkas Sania.
"Sania, aku ...."
"Boleh ya!" tanpa menunggu jawaban dari Rodeo, Sania langsung mengayunkan tangannya.
Plak! Plak! Bugh! Bugh!
Dua tamparan sukses mendarat di pipi Rodeo. Ditambah dengan pukulan di perut dengan lutut gadis itu. Laki-laki itu hanya pasrah menerima setiap pukulan dari Sania karena dia akui kalau dia memang salah.
Sementara Piero hanya menggelengkan kepalanya melihat drama tanpa rencana itu. Dia tidak menyangka, kalau kata-kata asalnya itu benar-benar terjadi. Saat melihat Sania pergi menembus hujan lebat, barulah Piero beranjak dari tempatnya dan mengejar gadis itu.
Piero menghela napas lega saat melihat Sania sedang menelungkupkan wajah di kap mobil miliknya. Dia yakin, kalau Sania pasti sedang menangis. Perlahan dia pun menghampiri gadis yang menjadi bawahannya.
"Menangislah! Puaskan tangisanmu sampai hatimu merasa lega. Tapi setelah hari ini, jangan keluarkan lagi air matamu. Cukup sehari kamu menangisi laki-laki yang seperti itu," ucap Piero dengan menyenderkan badannya ke mobil.
Sania tidak menjawab apapun. Dia masih meratapi hidupnya. Kenapa dunia ini seolah tidak berpihak padanya. Padahal selama ini dia sudah berusaha menjadi anak yang baik. Tapi tetap saja mereka selalu memandangnya sebelah mata, hanya karena dia anak korban broken home. Yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dan dirawat oleh neneknya dalam kesederhanaan.
"Kalau sudah puas menangisnya, ayo kita pulang! Sepertinya jalanan sudah mulai lancar. Meskipun merayap," ajak Piero.
Tanpa menyahut, Sania pun masuk begitu saja ke dalam mobil. Dia tidak lagi ceria seperti tadi. Mulutnya seakan terkunci. Dia hanya menganggukkan kepala dan menggeleng saat Piero mengajaknya berbicara. Membuat Piero akhirnya memilih diam.
Kasian sekali dia. Laki-laki yang dia yakini mencintainya, ternyata mengkhianati dia. Semoga saja nanti kamu bertemu dengan laki-laki yang baik, yang mau menerima kamu apa adanya dan mencintai kamu setulus hatinya.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya Kawan! Klik, like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1