
Harapan tinggallah harapan, meskipun Eliza sudah berusaha mencari pendonor ginjal, tetapi selalu saja ada hal yang membuat calon pendonor itu tiba-tiba mengurungkan niatnya. Begitupun saat dia mencari ke bank organ, ada saja halangan yang membuat dia gagal mendapatkan ginjal yang sehat untuk Nyonya Lucy.
Sampai akhirnya, keadaan wanita yang dulu cantik dan glamor itu, kini terlihat tinggal kulit membalut tulang. Bahkan, keluarga kandung dan sekutunya, seakan meninggalkan dia sendiri dalam penderitaan. Bukan tanpa sebab mereka berbuat seperti itu, tetapi mereka tidak ingin ikut hancur seperti Lucy.
Hanya Eliza yang masih sering menjenguknya di rumah sakit. Sementara Tuan Jody dan Jordan, sama sekali tidak melihat keadaan wanita itu. Mereka hanya menyiapkan dana untuk pengobatan Nyonya Lucy.
"Eliza, bisa panggilkan Papa dan Jordan kemari? Mama ingin bicara dengan mereka. Panggilkan juga putri bungsu papamu," pinta Nyonya Lucy saat Eliza datang berkunjung.
"Mama, untuk apa Mama ingin bertemu dengan Shopia. Gara-gara dia, sekarang Mama harus terbaring di rumah sakit. Mereka semua menyebalkan," geram Eliza.
"Eliza, terima kasih selalu mendampingi Mama. Satu hal yang ingin Mama katakan padamu, jangan terobsesi karena cinta. Karena itu hanya akan menghancurkan diri kita sendiri. Jangan seperti Mama! Karena Mama terobsesi dengan papamu, sehingga Mama melakukan kesalahan itu," ucap Nyonya Lucy dengan nada lemah.
Selama di rumah sakit, dia terus merenungkan apa yang telah dilakukannya selama ini. Dia baru menyadari kalau apa yang dia lakukan, kembali berbalik padanya. Saat dia tulus menyayangi Eliza, kini gadis itu pun tulus menyayanginya dan tidak meninggalkan dia saat berada di titik terendahnya. Begitupun dengan sikap jumawa yang selalu dia perlihatkan di depan sekutu dan keluarganya. Membuat dia harus merasakan tidak dipedulikan oleh mereka.
"Mama, aku akan ingat pesan Mama, tapi kalau Mama meninggalkan aku, maka aku akan balas dendam pada mereka."
"Jangan, Nak! Jangan kotori hatimu dengan hal itu. Cukup Mama yang menjadi orang jahat. Mama berharap kamu bisa menjalani hidupmu dengan baik bersama dengan papa dan kakakmu."
...***...
Sementara di tempat lain, Tuan Jody dikagetkan oleh foto pernikahannya dengan Lucy yang tiba-tiba saja jatuh dan pecah. Dia pun segera menyuruh orang untuk membereskannya. Tuan Jody hanya menatap foto itu dengan lekat tanpa berkata apapun.
__ADS_1
Dia bergegas meninggalkan kantornya menuju ke rumah Shopia karena merasa kangen dengan cucunya yang semakin menggemaskan. Namun, saat sampai di rumah keluarga Oenelon, dia sempat terkejut melihat Eliza ada di sana.
"Silakan duduk, Pah! Kebetulan Eliza juga baru datang," ucap Shopia seraya mencium punggung tangan Tuan Jody.
"Papa gak ke kantor? Tadinya aku mau ke kantor Papa sepulang dari sini," tanya Eliza.
"Papa mendadak kangen cucu Papa. Eliza, apa ada yang penting?" tanya Tuan Jody.
Eliza menghela napas dalam sebelum dia memulai berbicara. "Kondisi Mama memburuk, Pah. Meskipun selama tujuh bulan ini sering kontrol dan cuci darah, tetapi kondisinya tidak membaik juga. Tadi aku melihat ke rumah sakit dan Mama meminta Papa, Kak Jordan dan Shopia untuk datang ke sana. Katanya ada hal yang ingin dia bicarakan pada kalian."
"Aku tidak bisa ke sana sekarang. Mungkin nanti menunggu Mama dan Mas Anez pulang. Soalnya El tidak ada yang menjaga," ucap Shopia.
"Nanti Papa ke sana dengan Jordan."
"Eliza, persidangan sudah selesai. Papa hanya bisa membantu agar mama kamu jadi tahan rumah. Tapi Papa minta maaf, karena Papa tidak bisa membawa Mama kamu ke rumah Papa. Bukankah kamu juga tahu kalau Papa sudah menceraikan Mama kamu?"
"Iya tidak apa, Pah. Aku akan mencari rumah untuk aku dan Mama tinggal. Kalau begitu aku permisi dulu," pamit Eliza
Eliza pun langsung bergegas pergi dari sana. Sementara Tuan Jody masih asyik bermain dengan cucunya. Dia jadi teringat saat dulu Shopia masih kecil.
"Shopia, Anez biasa pulang jam berapa?" tanya Tuan Jody.
__ADS_1
"Mungkin sebentar lagi, Pah. Apa ada yang penting, Pah?" tanya Shopia.
"Papa ingin mengumumkan pada publik tentang kamu putri Papa. Apa kalian bisa datang saat nanti di acara ulang tahun perusahaan?"
"Diusahakan Papa. Tapi apa harus semua orang tahu tentang aku sebagai putri Papa?" tanya Shopia.
"Mereka harus tahu siapa kamu sebenarnya. Agar tidak ada orang yang berani meremehkan keturunan Vuttion," ucap Tuan Jody.
"Baiklah, Pah. Nanti aku akan bilang pada Mas Anez."
"Nak, Mama kamu ke mana? Dari tadi Papa tidak melihatnya," tanya Tuan Jody lagi.
"Mama sedang arisan, Pah."
Merasa sudah terobati rasa rindunya, Tuan Jody pun berpamitan pulang. Pria paruh baya itu selalu teringat dengan masa kecil Shopia, setiap kali dia melihat Baby El. Makanya dia sering mengunjungi cucunya untuk mengenang masa lalunya bersama dengan mendiang istrinya.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1
Sambil nunggu Shopia update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.