
Tidak ada satu orang tua pun yang akan merasa tenang saat melihat buah hatinya terluka. Itulah yang kini sedang dirasakan oleh kedua orang tua Ganesha. Prada dan Galen sudah mengerahkan semua tenaganya untuk membantu Ganesha menghadapi Dora dan mencari Shopia. Namun ternyata, hal itu masih belum cukup untuk membuat Ganesha kembali bersemangat menjalani hari-harinya.
Meskipun kini masalah Dora sudah selesai dan berakhir di jeruji besi, tetapi hal itu tidak bisa membuat Ganesha bahagia. Hatinya tetap saja gamang karena terus memikirkan Shopia dan anak yang ada di dalam kandungan istrinya. Ganesha terkadang tidak bisa tidur semalaman karena terus memikirkan Shopia.
Hidupnya menjadi tidak beraturan. Dia keluar hanya untuk pergi kerja, selebihnya mengurung di kamar atau pergi ke rumah Shopia dan menginap di sana. Sampai-sampai Ganesha lupa dengan dirinya sendiri yang juga butuh diperhatikan.
"Anez, sudah lebih dari sebulan kamu terus mengurung diri. Jangan menyiksa diri sendiri, Nak. Kamu harus lebih tegar agar bisa secepatnya menemukan istrimu," ucap Prada saat dia berkunjung ke rumah putranya
"Mama, apa yang terjadi pada Shopia? Kenapa kita tidak bisa menemukannya? Padahal kita sudah mengerahkan banyak orang untuk mencari Shopia," ucap Ganesha melas.
"Sabar, Nak. Mungkin ini ujian untuk kamu. Karena setiap pernikahan pasti ada ujian di dalamnya untuk mengukur seberapa besar rasa cinta dan kepercayaan kalian pada pasangan."
Ganesha ingin berbicara lagi, tapi mendadak asam lambungnya kembali naik. Secepatnya dia berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Prada yang melihat itu, langsung menyusul Ganesha dan memberi pijatan di tengkuknya.
Hoek ... Hoek ... Hoek ....
Ganesha terus saja memuntahkan isi perutnya yang kosong. Rasa mualnya semakin menjadi hingga membuat badannya terasa lemas. Pada akhirnya dia ambruk menyender di wastafel.
"Kita ke dokter ya, Nak!" ajak Prada.
"Tidak usah, Mah. Aku ...." Belum juga Ganesha melanjutkan ucapannya, kesadarannya sudah hilang.
"Anez bangun, Nak. Anez bangun! Tolong ... Papa ... Tolong ...." teriak Prada yang sukses mengagetkan suaminya.
Mendengar teriakkan istrinya, secepatnya Galen berlari menghampiri istri dan anaknya. Dia benar-benar sakit hatinya melihat keadaan Ganesha yang lemah seperti itu. Dia pun segera memapah Ganesha bersama dengan Prada menuju ke tempat tidur.
"Pah, kita bawa Anez ke rumah sakit saja. Sepertinya trauma dia kambuh sama saat dulu dia kehilangan gadis itu," ucap Prada cemas.
"Iya, Mah. Papa telpon satpam dulu, agar bantu Papa bawa Anez turun ke bawah." Galen segera menghubungi satpam rumah putranya agar segera datang ke kamara Ganesha.
Tidak butuh waktu lama, satpam pun datang dan segera membawa Ganesha ke mobil. Tubuh mereka yang kekar membuat kedua satpam itu tidak begitu kesusahan mengangkat tubuh bosnya. Tidak seperti tadi saat Galen dan Prada yang terseok-seok membawa tubuh putra mereka.
"Bangun, Nak! Mama dan Papa pasti akan lebih berusaha lagi agar bisa menemukan istrimu," ucap Prada seraya terisak.
__ADS_1
Ibu mana yang tidak akan merasakan hancur hatinya melihat putra semata wayangnya lemah tak berdaya. Begitupun yang kini sedang Prada rasakan. Namun, sebisa mungkin dia menguatkan hatinya, agar Ganesha tidak semakin lemah jika dia terlihat lemah di depan putranya.
Setibanya di rumah sakit, Ganesha pun langsung di bawa ke ruang IGD. Sementara Prada dan Galen dengan setia menunggu putranya. Tak lupa Galen pun segera memberitahu Piero tentang keadaan Ganesha.
"Hallo, Piero! Tolong kamu handle dulu meeting dengan klien hari ini. Om maupun Anez tidak bisa datang. Sekarang Anez ada di rumah sakit," ucap Galen saat panggilan teleponnya sudah tersambung.
"Apa, Om? Anez di rumah sakit? Pantas saja dia tidak datang ke kantor."
"Iya, tadi dia pingsan."
"Apa? Pingsan? Aku akan ke sana sekarang." Piero mendadak panik mendengar sahabat sekaligus bosnya di bawa ke rumah sakit karena pingsan.
"Piero, kamu dengar tidak apa yang Om katakan? Kamu gantikan meeting dengan klien dulu sebelum datang ke sini. Di sini ada Om dan Tante."
"Baik, Om. Aku akan menggantikan Om meeting. Mungkin sepulang meeting aku akan langsung ke sana."
"Ya sudah, Om tutup teleponnya sekarang."
Klik!
"Hallo, Nick. Bagiamana pencarian kamu? Apa sudah ada tanda-tanda keberadaan Shopia?" tanya Galen saat panggilan teleponnya sudah tersambung pada Nicholas, orang suruhannya.
"Maaf, Bos. Belum ada tanda-tanda. Orang itu rapat sekali menyembunyikan menantu Anda, Bos."
"Usaha lebih keras lagi. Aku akan memberikan bonus yang besar jika secepatnya menemukan Shopia."
"Siap Bos. Aku pasti akan lebih maksimal untuk mencari keberadaan menantu Bos."
"Bagus! Jangan mengecewakan aku, Nick!"
Klik!
Galen langsung memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak saat dia melihat pintu ruang IGD ada yang membukanya dari dalam. Galen dan Prada pun segera menghampiri seorang lelaki dokter muda yang ke luar dari ruang IGD.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan putra kami, Dok?" tanya Galen dan Prada kompak.
"Putra Anda mengalami dehidrasi sehingga aliran darah dan oksigen pada tubuh terhambat," jelas dokter yang menangani Ganesha.
"Apa sekarang sudah sadar, Dok?"
"Sudah, Tuan. Tapi sepertinya Tuan Anez butuh istirahat yang cukup, sehingga kami menyuntikkan obat tidur agar kondisinya cepat membaik."
"Apa kami sudah bisa melihatnya?"
"Sebentar lagi Tuan Anez akan dipindahkan ke ruang perawatan. Mungkin nanti Tuan dan Nyonya bisa melihatnya di sana."
"Baiklah, Dok. Terima kasih," ucap Galen pasrah.
"Sudah menjadi kewajiban saya, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu!" pamit dokter itu.
"Iya, Dok!" sahut Prada.
Benar saja apa yang dikatakan oleh dokter itu, tidak lama kemudian dua orang perawat mendorong brangkar untuk memindahkan Ganesha ke ruang perawatan. Galen dan Prada langsung mengikuti ke mana putranya di bawa. Sampai pada sebuah ruang perawatan VVIP, barulah mereka memasukinya.
"Pah, apa yang harus kita lakukan sekarang? Mama tidak tega melihat Anez? Ke mana sebenarnya Shopia? Kenapa dia menghilang seperti di telan bumi?" tanya Prada saat sedang menjaga Ganesha yang masih tertidur pulas.
"Kita hanya bisa berdoa pada Tuhan agar orang yang sudah menyembunyikan Shopia, mau mengembalikannya pada kita. Papa juga merasa, ada orang penting di balik hilangnya Shopia. Sampai sulit sekali menemukan jejaknya," ucap Galen menenangkan istrinya.
"Papa benar, kita harus minta tolong pada Allah. Apa Allah marah pada kita, Pah? Karena sudah lama, kita tidak memohon padanya."
"Mungkin saja, ini cara Allah menegur kita, Mah. Agar kita tidak melupakan Kuasa-Nya. Karena Allah hendak mengembalikan kita pada ketaatan, maka dari itu Allah hadirkan masalah atau pun musibah sebagai teguran atas kelalaian kita."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift, dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1