Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 87 Sania Cemburu


__ADS_3

Pesta penyambutan Baby El telah usai, kini rumah keluarga Oenelon nampak sepi karena semua penghuninya sudah terlelap tidur. Tapi tidak untuk pasangan orang tua baru itu, mereka terlihat sedang sibuk menjaga putrinya yang menangis tengah malam.


Baru saja Ganesha mau tidur nyaman dengan istrinya, tiba-tiba saja bayi mereka nangis karena ingin menyusu. Mau tidak mau Shopia pun melepaskan pelukan suaminya dan menyusui bayinya.


"Shopia, kenapa El tidak tidur dengan perawat saja seperti di rumah sakit?" tanya Ganesha dengan menahan kantuknya.


"El butuh mamanya bukan perawat. Aku tidak mau putri kita lebih sayang pada perawat karena waktu mereka yang lebih banyak dengan El. Aku ingin memberikan kenangan indah pada masa kecil El," ucap Shopia.


"Baiklah, aku mengerti! El, berbagi dengan Papa ya! Papa juga butuh mama kamu," ucap Ganesha seraya memeluk Shopia dari belakang.


Dia menopangkan dagunya pada bahu Shopia yang sedang menyusui. Sungguh Ganesha jadi tidak bisa tidur kalau dia tidak memeluk istrinya dan menghirup aroma tubuh Shopia sepuasnya.


Shopia hanya tersenyum tipis melihat kelakuan suaminya. Bisa-bisanya Ganesha tertidur di bahunya. Sampai akhirnya papa muda itu jatuh sendiri saat dia sudah tertidur pulas.


"Ada-ada saja Mas Anez. El juga miminya kuat sekali. Sudah satu jam tapi masih belum kenyang juga," gumam Shopia.


Setelah Baby El merasa puas melahap sumber kehidupannya, bayi mungil itu pun kembali tertidur lelap. Perlahan Shopia menyimpan bayinya di tempat tidur yang sengaja disatukan dengan tempat tidurnya. Dia kembali tidur dengan memeluk suaminya.


Berbeda dengan Piero yang tidak bisa tidur memeluk istrinya, karena ibu hamil itu sedang merajuk. Tadi dia tidak sengaja melihat Nike dan Piero berpelukan. Meskipun perasaan Piero hanya sebatas rasa sayang seorang Kakak pada adiknya, tetap saja menimbulkan kesalahpahaman bagi yang tidak tahu menahu soal masa lalu mereka.


"Sania, kamu kenapa sepertinya kesal begitu sama Mas? Bilang dong, salah Mas apa?" tanya Piero yang merasa bingung menghadapi sikap diam Sania.


"Aku gak papa, Mas gak salah."


"Kalau Mas gak salah, kenapa tidurnya membelakangi begitu? Apa dede bayinya kangen sama Papa? Ayo kita tengokin!"


"Gak kangen, karena Papanya sudah punya yang lain."


"Maksud kamu apa? Yang lain siapa? Bicara yang jelas Sania! Aku tidak mengerti kalau kamu tidak bicara terus terang, apa salah aku?"


"Pikir aja sendiri!"


Piero menggeram kesal dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia ingin marah pada istrinya. Tapi dia juga mengerti kalau hormon kehamilan istrinya sangat mempengaruhi mood ibu hamil itu. Akhirnya Piero memilih diam dan memejamkan matanya.


"Tuh kan, Mas Piero gak sayang sama aku dan anakku. Diam-diam dia berselingkuh dengan artis baru itu. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Sania pelan dengan meneteskan air matanya.

__ADS_1


Hatinya terluka dengan apa yang dilihatnya tadi. Apalagi, Piero tidak mau menceritakan tentang kejadian tadi. Kenapa dia bisa sampai memeluk Nike di depan mama mertuanya. Membuat Sania berpikiran yang tidak-tidak. Hatinya benar-benar mencelos, merasa jadi orang yang tidak diharapkan oleh keluarga suaminya.


Ya Tuhan! Kenapa dia malah menangis? Bukannya bicara terus terang salah aku di mana. Aku juga bingung karena tidak merasa sudah melakukan kesalahan padanya, batin Piero.


Piero hanya diam membiarkan Sania meluapkan energi negatifnya lewat tangisan. Setelah tidak terdengar lagi suara isak tangis istrinya, barulah Piero membalikkan badan Sania agar menghadap ke arahnya. Dihapusnya jejak air mata yang membasahi pipi chuby ibu hamil itu. Piero mencium kedua mata Sania secara bergantian, sebelum akhirnya dia ikut terlelap bersama dengan istrinya.


...***...


Keesokan harinya, saat sang surya sudah menampakan sinarnya dengan gagah, terlihat Shopia sedang menjemur putrinya ditemani oleh Ganesha, Piero dan Sania. Mereka berempat sengaja berjemur bersama seraya menikmati hamparan bunga yang berwarna-warni di taman belakang rumah Ganesha. Sementara Tuan Galen sedang mengurus singa kesayangan keluarganya.


"Anez, apa kamu sudah tahu kalau Vero sudah kembali?" tanya Piero memulai obrolan.


"Vero? Adik kamu? Bagaimana kamu bisa menemukannya? Apa dia mengenali kita?" tanya Ganesha kaget.


"Awalnya, dia tidak mengenali aku, tapi saat bertemu dengan Mama dan Papa, ingatan masa lalu yang dia simpan rapat-rapat kembali menguap. Akhirnya Vero menceritakan semuanya pada Mama," ucap Piero.


"Kapan kamu bertemu dengannya?" tanya Ganesha dengan melirik ke arah sahabatnya.


"Aku sudah lama bertemu dengannya, tapi aku baru tahu tadi malam kalau Nike itu Vero," jawab Piero dengan menengadah melihat ke langit biru.


"Iya." Piero pun menceritakan semua yang dia dengar dari mamanya. Karena semalam, setelah dia memeluk Nike, papanya terlihat berjalan ke arahnya sehingga Nike buru-buru pergi.


"Astaga! Berarti semalam Nike memanggil aku Kak Anez, karena dia ingin bilang kalau dia itu Vero. Aku malam bersikap masa bodoh padanya," seru Ganesha.


"Kenapa Mas dengan Nike?" tanya Shopia yang menghampiri suaminya.


"Nike itu adiknya Piero, semalam Mas malah bicara yang tidak-tidak sama dia," jelas Ganesha.


"Maksudnya, adik Mas Piero yang hilang itu?" tanya Sania tiba-tiba.


"Iya, Sania. Semalam Mas baru tahu dari Mama kalau Nike itu Vero" ucap Piero.


"Berarti yang semalam Mas peluk itu, adik Mas?" tanya Sania dengan wajah yang terkejut


"Iya, apa karena itu semalam kamu marah sama Mas?" tanya Piero dengan menatap lekat istrinya.

__ADS_1


Sania tidak menjawab pertanyaan Piero, dia hanya menganggukkan kepalanya. Membenarkan pertanyaan suaminya. Piero hanya tersenyum karena ternyata Sania cemburu melihat dia memeluk Nike.


"Wah, Uncle Piero dicemburuin nih sama Aunty Sania," goda Shopia dengan menggendong Baby El.


Terlihat Sania yang tersipu malu karena godaan dari Shopia. Namun, secepatnya Piero merangkul istrinya dan mengajak ibu hamil itu duduk bersamanya.


"Tidak apa Sania, Mas senang kalau kamu cemburu. Berarti kamu benar-benar cinta sama Mas," ucap Piero dengn mengerlingkan matanya.


"Astaga! Kenapa sahabatku jadi genit begini? Ayo Sayang, kita tinggalkan saja mereka di sini. Lebih baik bersih-bersih," ajak Ganesha langsung merangkul pinggang istrinya.


"Silakan dilanjutan pacarannya Mas, aku mau mandiin dulu El," pamit Shopia.


"El apa papanya Shopia?"


"Keduanya, Mas." Shopia tersenyum sendiri dengan jawaban konyolnya.


Dia mengikuti langkah kaki Ganesha yang mengajaknya masuk ke rumah. Setelah memberikan putrinya pada perawat, barulah Shopia menyusul Ganesha yang sudah lebih dulu masuk ke kamarnya.


"Shopia, sudah selesai belum masa nifasnya?" tanya Ganesha saat dia akan pergi mandi.


"Belum, Mas. El kan belum empat puluh hari," jawab Shopia.


"Kenapa lama sekali?" gumam Ganesha seraya berlalu pergi.


Shopia hanya tersenyum melihat wajah melas Ganesha, karena sebenarnya dia suah tidak keluar darah. Hanya saja, usia El memang belum empat puluh hari. Jadi dia belum berani memberikan jatah pada suaminya.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik lik, comment, rate, vote, gift, dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Shopia dan Anez update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.


__ADS_1


__ADS_2