Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 105 Ambisi Eliza


__ADS_3

Terlihat seorang gadis cantik menuruni anak tangga dengan wajah yang berseri. Eliza sangat pintar sekali menyembunyikan kecemasannya karena kedatangan Tuan Jody dan Jordan. Dia pun berpura-pura tidak terjadi apa-apa di rumah itu dengan menampilkan wajah tanpa dosanya.


"Papa, kapan datang? Tumben mampir ke sini," tanya Eliza setelah berada di anak tangga yang paling bawah.


"Iya, Papa kangen sama kamu. Kata Bibi kalau kamu sedang keluar. Sini Nak, kasih Papa pelukan!" Tuan Jody merentangkan tangannya agar Eliza mendekat ke arahnya.


Gadis itu pun segera mendekat ke arah Tuan Jody karena dia berpikir kalau papanya yang baru datang dari luar negeri itu tidak akan tahu dengan apa yang dia lakukan. Namun, dugaannya sangat melenceng. Karena dia mendapatkan sesuatu yang tidak pernah dia duga sebelumnya.


PLAK! PLAK!


Terdengar begitu nyaring tamparan yang mendarat di kedua pipi mulus itu. Membuat Eliza langsung memegang pipinya karena terasa perih dan kebas. Matanya melotot sempurna karena merasa tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Tuan Jody.


"Apa yang Papa lakukan?" sentak Eliza.


Grep!


Jordan langsung mencengkeram rahang Eliza dengan tatapan nyalang. Dia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya pada Eliza. Tentu saja, hal itu membuat anak buah Eliza langsung waspada. Mereka pun segera mengepung Tuan Jody dan Jordan.


"HARUSNYA AKU DAN PAPA YANG BERTANYA. APA YANG KAMU LAKUKAN PADA KEPONAKANKU? CEPAT TUNJUKKAN DIMANA BAYINYA SHOPIA!" bentak Jordan.


"Kenapa kalian menuduhku? Aku tidak tahu apa-apa," kelit Eliza. "Papa dan Kak Jordan jangan asal menuduhku hanya karena anak kampung itu. Dia baru saja masuk dalam Keluarga Vuttion. Tapi aku sudah bersama dengan kalian sedari aku masih bayi."


"Tapi kamu tidak memiliki darah Vuttion," sentak Tuan Jody.


"Apa Maksud Papa?" tanya Eliza dengan suara yang bergetar. Dia sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki yang selama ini dia pikir sebagai ayah kandungnya. Karena sedikit pun Tuan Jody tidak pernah menunjukkan sikap yang berbeda ataupun membedakannya dengan Jordan.


"Kamu bukan putri kandungku, Eliza. Mulai detik ini, Kamu sudah aku keluarkan dari daftar ahli waris keluarga Vuttion. Aku tidak bisa mentelorir lagi sikap kamu yang keterlaluan," geram Tuan Jody.

__ADS_1


"Aku pun mencabut semua fasilitas yang sudah aku berikan padamu, termasuk membekukan semua kartu kredit dan debit kamu. Kamu, tidak memiliki apa-apa lagi Eliza," timpal Jordan.


"Hahaha ... Kalian bercanda. Papa pikir, aku akan semiskin itu tanpa harta dari kalian. Kalian salah! Aku mendapatkan uang banyak dari hasil menjual bayi kecil itu. Hahaha ...." Lagi-lagi Eliza tertawa. "Cepat tangkap mereka!" suruhnya.


Anak buah Eliza pun segera menyerang Tuan Jody dan Jordan. Membuat ayah dan anak itu kewalahan karena jumlah mereka yang tidak seimbang. Begitupun dengan kedua pengawal Tuan Jody yang terdesak oleh serangan anak buah Eliza yang jumlahnya lebih banyak dari mereka. Sampai akhirnya, keempat laki-laki itu berhasil dilumpuhkan oleh anak buah Eliza.


"Lihat Papa! Meskipun aku bukan putri kandung Papa, tapi aku akan menguasai harta Papa. Ternyata rencana aku lebih cepat dari yang aku perkirakan. Cukup dengan menculik anak kecil itu, kalian bisa sekaligus aku lenyapkan. Hahaha ...."


Mendengar apa yang Eliza katakan, Tuan Jody langsung meludah ke wajah gadis itu. Meskipun kedua tangannya terkunci oleh anak buah Eliza, tetapi mulutnya tidak dibekap oleh mereka.


"Kamu tahu Eliza, penyesalan terbesarku karena sudah menyayangi kamu dengan tulus. Aku tidak pernah menyangka, darah kriminal dari ayahmu mengalir deras di tubuhmu. Kamu tahu, kenapa orang tua kamu bisa meninggal? Karena ayahmu tertangkap setelah membobol akun Bank dan mengalihkan dana yang sangat besar ke rekeningnya." Tuan Jody menatap nyalang pada Eliza yang sedang membersihkan bekas ludahnya.


"Aku pikir, asal bisa mendidik kamu dengan baik, maka kamu akan jadi orang yang baik. Tapi sikap Lucy yang selalu memanjakan kamu, membuat kamu tumbuh menjadi gadis yang angkuh dan tidak berperasaan."


"Sudah cukup bicaranya! Ryan, cepat bawa mereka ke kamar yang sama dengan gadis itu!" suruh Eliza.


"ELIZA MENYERAHLAH! RUMAHMU SUDAH DIKEPUNG," teriak Piero


Nyonya Mary yang ikut dengan Piero saat dia tahu bahwa Nike dalam bahaya, langsung merebut pengeras suara yang dipakai oleh Piero. Dia sangat khawatir, Eliza melakukan hal tidak dia harapkan pada Nike.


"ELIZA! JANGAN SAKITI NIKE! DIA ADIK KEMBARMU. KALIAN BERDUA BERSAUDARA," teriak Nyonya Mary tiba-tiba.


"Mama, apa yang Mama katakan?" tanya Piero kaget mendengar apa yang mamanya katakan.


"Nanti saja mama jelaskan. Sekarang cepat tolong adikmu! Mama tidak mau terjadi apa-apa pada Nike," ucap Nyonya Mary panik.


Sementara Eliza terlihat mulai panik saat mendengar rumahnya sudah dikepung. Dia jadi teringat saat dia dan Nyonya Lucy tidak berhasil kabur dari orang-orang kiriman Piero. Apalagi, mendengar laporan dari anak buahnya.

__ADS_1


"Nona, pasukan kita kalah jumlah. Mereka juga membawa senjata yang lengkap. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ryan setelah dia mengintip, memastikan lawan yang mengepungnya.


"Kamu jangan bodoh Ryan! Kita memiliki banyak sandra untuk menggertak mereka agar bisa kabur. Cepat bawa anak kecil itu!" suruh Eliza.


Namun, saat Ryan masuk ke kamar tempat dia menyimpan bayi kecil itu, ternyata sudah tidak ada. Hanya jendela kamar yang terlihat terbuka. Begitupun dengan sandra yang dia simpan di kamar tamu. Mereka hilang tak berbekas. Hanya daun jendela yang menutup dan terbuka sendiri karena tertiup angin.


"Nona, sandra kita hilang semua. Apa yang akan kita lakukan? Apa harus menyerah saja?" tanya Ryan.


"Lebih baik kalian menyerah sebelum kami menjadikan kalian kambing guling," serobot seorang laki-laki berseragam lengkap dengan penutup kepala hingga wajahnya tidak dapat dikenali.


"Siapa kalian? Apa urusan kalian?" tanya Eliza.


Baru saja dia selesai bicara, Piero dan yang lainnya menerobos masuk ke dalam rumah megah itu setelah mendapatkan kode dari pasukan khusus Keluarga Wiratama. Polisi pun langsung membekuk Eliza dan anak buahnya yang tidak memiliki persiapan matang menghadapi orang-orang bersenjata itu.


"Maaf Eliza, meskipun kamu sahabat aku. Tapi apa yang kamu lakukan itu sangat keterlaluan. Aku tidak bisa mentelorir kamu. Sebaiknya kamu pertanggungjawaban apa yang kamu lakukan di depan penegak hukum," ucap Piero dengan menatap wajah cantik Eliza.


Dia benar-benar tidak pernah menyangka kalau Eliza akan berbuat nekat seperti itu. Sahabatnya yang selalu dia bela dan dia jaga. Ternyata berubah menjadi orang jahat karena sebuah ambisi.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Shopia-Anez update, yuk kepoin juga karya teman Author yang keren ini.


__ADS_1


__ADS_2