Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 68 Sania Gugup


__ADS_3

"Daniel, lebih baik kita pergi dari sini. Sepertinya aku tidak berselera makan jika satu tempat dengan cewek udik seperti dia. Ayo cepat pergi dari sini!" ajak Eliza seraya menarik tangan Daniel.


Piero hanya tersenyum melihat kepergian gadis itu. Hubungan persahabatan di antara dia dan Eliza seakan tak berbekas. Eliza semakin memperlihatkan keangkuhan di depannya.


Aku tidak menyesal dengan keputusan yang telah aku buat. Meskipun aku tidak memiliki kekayaan yang berlimpah seperti keluarganya, setidaknya harga diri aku sebagai seorang lelaki tidak akan terinjak. Aku yakin, jika aku menikah dengannya, sudah pasti Eliza akan semakin berbuat sesuka hatinya padaku, batin Piero.


"Ayo Sania! Tidak usah diambil hati dengan semua ucapannya. Harta itu hanya titipan. Bisa saja hari ini dia memiliki harta yang berlimpah, tapi tidak tahu hari esok. Nasib orang tidak ada yang tahu. Kamu jangan berkecil hati mendengar omongan dia ya!"


"Tidak, Mas. Aku sudah terbiasa mendengar hinaan orang. Tidak apa, Mas tidak usah khawatir! Aku bukan cewek cengeng," ucap Sania menenangkan suaminya.


Keduanya kembali melanjutkan rencana semua. Mereka makan dengan lahapnya. Melupakan apa yang telah terjadi barusan. Memang benar adanya apa yang Sania katakan. Kehidupannya yang sederhana di kampung, membuat dia selalu dipandang sebelah mata.


"Kalau makan jangan melamun, lihat sausnya belepotan begini!" Piero membersihkan sisa saus di sudut bibir Sania dengan tangannya.


Membuat jantung gadis itu berdegup dengan kencang. Dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan perhatian seperti yang sering dia tonton di drama Korea.


"Kamu kenapa Sania? Apa makanannya terlalu pedas sampai pipimu memerah begitu?" tanya Piero dengan tersenyum tipis.


"Eng-enggak, Mas! Makanannya gak pedas kho," jawab Sania gugup.


"Dilanjutkan lagi makannya, Sania. Setelah dari sini, kamu ingin ke mana lagi?"


"Pulang saja, Mas. Sudah sore."


"Tidak ingin ke pantai melihat sunset?"


"Bo-boleh Mas." Lagi-lagi Sania menjawabnya dengan gugup. Jantungnya terus saja meloncat-loncat berirama tidak karuan.


Jantung oh jantung kenapa terus dag-dig-dug terus. Aku malu kalau sampai ketahuan sama Mas Piero. Nanti dikira cewek gampangan, batin Sania.


Sania kenapa gugup begitu? Kaya mau sidang skripsi aja, batin Piero.


Piero tidak mau ambil pusing. Dia melanjutkan kembali makannya yang belum selesai. Saat semua makanan yang di piring habis tak bersisa, barulah mereka kembali berbicara.


"Sania!"

__ADS_1


"Mas!"


Pasangan suami istri memanggil secara bersamaan, sehingga Piero dengan kode matanya menyuruh Sania untuk berbicara terlebih dahulu.


"Mas, apa aku masih boleh bekerja menjaga Mbak Shopia? Nenek aku ada di rumahnya. Aku jadi tidak enak kalau tidak bekerja sama dia," tanya Sania.


"Boleh, agar kamu tidak sendirian terus di apartemen saat aku bekerja. Tapi setelah nanti kamu hamil, di rumah saja ya! Jaga anak kita!"


Hamil? Anak? Berarti aku sama Mas Piero akan ... Aduh, kenapa aku semakin gugup begini?


"Halo Sania! Kamu dengar kan apa yang aku katakan?" tanya Piero saat melihat Sania dengan tatapan kosong.


"Kamu sedang melamun apa? Sudah yuk, kalau kamu makannya sudah selesai!" ajak Piero. "Malam ini bagaimana kalau kita menginap di hotel JS yang ada di tepi pantai itu."


"I-iya Mas!" sahut Sania.


Antara siap dan tidak gadis itu menghadapi malam berdua dengan Piero. Memulai sebuah hubungan yang lebih intens. Mungkin terlihat sangat tergesa-gesa untuk dua orang yang tadinya tidak begitu dekat. Tapi rasa penasaran Piero, membuat dia merubah rencananya.


Setibanya di sana, tanpa sengaja dia berpapasan dengan Elgar yang sedang merangkul seorang gadis cantik. Piero sempat tertegun saat melihat sorot mata gadis itu. Dia teringat dengan seseorang yang sudah lama tidak dilihatnya.


"Tidak El. Dia istriku. Apa kamu ada waktu? Aku ada sedikit perlu denganmu," ucap Piero dengan mata melirik ke arah gadis yang sedang bersama dengan Elgar.


"Waktuku senggang. Kenapa? Apa kamu ingin berkenalan dengan gadisku? Nike, kenalkan dia Piero teman sekolahku," ucap Elgar pada gadis dengan rambut yang berwarna coklat menyala


"Hai! Kenalkan Nike," sapa gadis itu dengan tersenyum manis. Dia mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan dengan Piero.


"Piero dan ini istriku Sania," ucap Piero dengan menerima uluran tangan gadis itu.


"Sania, Mbak!" Sania pun ikut menerima uluran tangan dari Nike.


"Apa kalian ingin pergi ke dermaga? Aku dan Nike akan pergi ke sana. Kebetulan dia baru datang dari luar negeri dan meminta aku untuk menemaninya berjalan-jalan di daerah sini," beber Elgar tanpa diminta.


"Boleh!" Piero pun menyetujui untuk bergabung bersama dengan Elgar.


Tadinya ingin berdua saja dengan Sania. Tapi mumpung bertemu dengan Elgar, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk meminta tolong mencarikan pengawal yang handal untuk Shopia. Karena akan susah, jika aku sengaja mencari Elgar, batin Piero.

__ADS_1


Akhirnya, mereka berempat pun pergi bersama-sama ke dermaga setelah Piero menyelesaikan administrasi terlebih dahulu untuk check-in di hotel itu. Agar saat pulang dari pantai, dia bisa langsung ke kamarnya.


Saat tiba di dermaga , langit sudah berwarna jingga keemasan. Piero membiarkan Sania untuk berbincang dengan Nike. Sementara dia berbincang serius dengan Elgar.


"Sepertinya ada hal serius yang ingin kamu katakan padaku!" tebak Elgar.


"Iya, El. Aku ingin minta tolong sama kamu, untuk meminjam pengawal bayangan keluarga kamu," ucap Piero tanpa basa-basi.


"Pengawal apa? Aku tidak memilikinya," kelit Elgar.


"Please Elgar, demi nyawa seseorang. Aku harus melindungi orang yang tidak berdosa. Dia menjadi korban kecemburuan seseorang pada orang tuanya."


"Maksud kamu siapa? Aku tidak suka membantu orang tanpa tahu dengan jelas soal orang itu," tanya Elgar.


"Ganesha. Nyawa istrinya terancam, karena identitas aslinya sudah terungkap. Aku dan Ganesha hanya ingin berjaga-jaga, khawatir dia menjadi target ibu tirinya kembali. Sama seperti waktu dia masih kecil, dia hampir mati karena racun dari ibu tirinya," jelas Piero.


"Bukankah istri Anez hanya karyawan biasa?"


"Iya. Apa aku bisa mempercayai kamu jika aku ceritakan semuanya?"


"Kalau kamu tidak percaya dan tidak butuh pertolongan aku, sebaiknya kamu tidak usah cerita apapun, Piero!" tukas Elgar merasa kesal dengan pertanyaan Piero..


"Sorry, Bro! Aku hanya was-was. Apalagi sekarang istrinya Anez hamil. Yang sudah pasti membutuhkan tempat yang aman dan nyaman."


"Oke, aku mengerti. Tapi aku ingin tahu duduk permasalahannya, kenapa aku harus melindungi dia. Karena aku dan keluargaku tidak akan melindungi seorang penjahat. Meskipun itu keluargaku sendiri."


Piero pun menceritakan semua yang dia ketahui dari Ganesha tentang asal usul Shopia yang ternyata memiliki darah Vuttion. Tentang masa kecil Shopia yang masih tanda tanya dan tentang Nyonya Lucy yang tergabung dalam sebuah persekutuan bawah tanah.


"Baik, aku akan meminta Opa untuk meminjamkan salah satu pengawalnya. Karena semua pengawal terlatih keluargaku di bawah kendali Opa."


(Yang pernah baca Simpanan Brondong Tajir S2, pasti kenal Elgar)


...~Bersambung...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2