Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 74 Hinaan Eliza


__ADS_3

Suasana hangat terlihat jelas di ruang makan rumah Keluarga Oenelon. Ketiga keluarga yang bersahabat baik itu terlihat saling melepaskan kerinduan. Karena kesibukannya masing-masing, mereka jarang memiliki waktu untuk bercengkrama bersama.


"Kamu hebat Galen! Di antara kita bertiga, kamu yang lebih dulu memiliki cucu," puji Tuan Yongki dengan melirik ke arah Sania yang duduk di samping Piero. " Tidak seperti aku, yang entah kapan akan memiliki cucu."


"Mungkin kamu sebentar lagi, makanya jangan mempersulit ridha kamu buat pernikahan putramu, kalau kita ikhlas semuanya pasti bahagia," ucap Tuan Galen.


"Sudahlah! Aku tidak ingin merusak suasana kita dengan membicarakan mereka. Oh iya, apa Eliza akan menikah dengan Daniel? Aku beberapa kali melihat kalian bersama?" tanya Tuan Yongki lagi.


"Kami hanya berteman. Karena aku sudah menyukai seseorang dan akan menjadikan dia suamiku," ucap Eliza dengan melihat ke arah Ganesha yang sedang mengelap sudut bibir Shopia.


"Oh, begitu. Baguslah, sayang sekali Piero sangat bodoh dengan menyia-menyiakan kamu. Padahal Om berharap banget, persahabatan keluarga kita berubah menjadi keluarga besar."


Kamu lambat Yongki. Saat aku melihat gadis itu, aku sudah menaruh curiga karena wajahnya yang sangat mirip dengan gadis yang pernah Jody kenalkan padaku. Ternyata memang benar, kalau Shopia putri kandung Jody dengan istri pertamanya. Meskipun identitas mereka disembunyikan, batin Galen.


"Shopia, bukankah kamu masih memiliki seorang ibu? Kenapa tidak diajak makan malam bersama?" tanya Lucy tiba-tiba.


"Ibu sedang merawat adikku yang sedang sakit," jawab Shopia dengan tersenyum.


"Mungkin adikmu sudah sebesar kamu ya!" tebak Lucy.


"Tidak Tante, adikku masih kecil. Apa Tante mengenal ibuku?" tanya Shopia.


"Ah tidak! Tante hanya menebak saja." Lucy tersenyum tipis melihat ke arah Shopia. Berbeda dengan tatapan jijik Eliza. Sementara Jordan dan Jody melihat semua perubahan air muka wanita yang licik itu.


"Maaf semuanya, Shopia sudah waktunya tidur malam. Dia sedang hamil jadi tidak boleh tidur terlalu larut," sela Ganesha.


"Hampir lupa, kalau menantu Mama sedang hamil. Shopia, lebih baik pergi tidur. Jangan ikut mengobrol sampai larut dengan kami. Oh iya, lebih baik kita pindah saja ke ruang tengah, biar lebih enak ngobrolnya," timpal Nyonya Prada.


"Kalau begitu, saya Permisi!" pamit Shopia.

__ADS_1


Ganesha segera memapah istrinya untuk naik ke lantai dua. Semua itu tidak lepas dari penglihatan Eliza. Dia semakin kesal karena Ganesha tidak menyapanya sedikit pun.


Setibanya di kamar, Ganesha mengajak Shopia untuk duduk di sofa. Karena memang mereka belum mengantuk. Hanya saja, Ganesha tidak suka melihat cara pandang Eliza dan mamanya pada Shopia.


"Shopia, lain kali kalau ketemu dengan Nyonya Lucy ataupun Eliza, lebih baik kamu menghindarinya. Aura negatifnya sangat kuat. Aku tidak suka mereka melihat rendah pada kamu," ucap Ganesha saat duduk dengan merangkul Shopia


"Iya, Mas. Terima kasih sudah berusaha menjauhkan aku dari mereka. Tapi kenapa bisa Tuan Jody menikah dengan dengan Nyonya Lucy kalau sebenarnya beliau mencintai Nyonya Clara?"


"Karena dalam lingkungan kami ada istilah pernikahan bisnis. Itu yang terjadi pada papamu. Shopia, biasakan memanggil papa pada Om Jody. Bagaimana pun beliau papa kandung kamu," ucap Ganesha dengan membelai lembut rambut istrinya.


"Aku masih belum percaya, Mas. Mungkin, kalau ibu yang mengatakan semuanya, aku baru bisa percaya."


"Kak Jordan sudah mengatur waktu untuk menemui Bu Kia secara pribadi. Semoga saja secepatnya. Sebelum Nyonya Lucy menyadari keberadaan ibumu."


"Mas, apa itu artinya ibu dalam bahaya?" Aku tidak ingin ada korban karena aku," ucap Shopia sendu.


"Bukan karena kamu Shopia. Tapi kecemburuan dan keserakahan Tante Lucy."


Cup


"Piero, hari ini kamu terlihat gagah," ucap Eliza setelah dia mencium pipi Piero.


"Apa-apaan sih, Liz?" Piero mengusap bekas bibir Eliza dengan tangannya.


"Piero, Papa tunggu di depan!" ujar Tuan Yongki sebelum pergi dari meja makan.


"Iya, Pah. Sania, aku ke depan dulu!" pamit Piero langsung pergi begitu saja.


Sania hanya menganggukkan kepalanya. Dia jadi terdiam seribu bahasa. Ingin dia marah, tapi Sania merasa rendah diri di depan orang-orang kaya itu. Sampai akhirnya di memilih untuk membantu Bibi untuk membereskan meja makan karena orang-orangnya sudah berpindah tempat.

__ADS_1


"Kalau pembantu tetap saja pembantu meskipun didandani secantik apapun. Tidak mungkin mendadak menjadi seorang putri. Ck! Aku tidak mengerti, di mana Piero menyimpan otaknya sampai memilih kamu menjadi istrinya." Eliza tersenyum meremehkan Sania.


"Padahal banyak gadis cantik dan terhormat yang menyukainya. Ya ... Walaupun aku bukan salah satu orang yang menyukainya. Tapi aku sangat menyayangkan, dia menjatuhkan pilihannya pada cewek kampung seperti kamu," hina Eliza dengan menatap sinis Sania.


"Nona memang benar, tapi apa Nona tidak tahu, kalau manusia terikat dengan takdir? Secantik dan sekaya apapun gadis itu, tetapi jika memang ditakdirkan cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Sampai kapan pun dia tidak akan bisa bersama dengan laki-laki yang dicintainya. Kalau aku sih, lebih baik membuka hati untuk laki-laki lain," balas Sania.


"Berani kamu menghinaku?" sewot Eliza.


"Maaf Nona, saya tidak berani."


"Ada apa Eliza? Kenapa kamu memarahi istriku?" tanya Piero yang baru kembali dari depan.


"Siapa yang memarahi istri kamu? Dia menghina aku, mengatakan kalau cintaku bertepuk sebelah tangan. Ini gara-gara kamu Piero! Gara-gara kamu bersandiwara menghamili gadis kampung itu, dia jadi berani sama aku," sentak Eliza sewot.


"Apa katamu, Eliza? Piero bersandiwara? Jadi-jadi gadis itu tidak hamil?" tanya Nyonya Mary syok menghadapi kenyataan kalau dia sudah dibohongi putranya sendiri.


"Iya, Tante! Mereka sudah membohongi kalian semua. Sebenarnya Piero tidak pernah menghamili gadis itu. Dia sengaja berbohong agar tidak menikah denganku," beber Eliza dengan tersenyum sinis.


"Keterlaluan kalian! Aku merestui pernikahan kalian, karena berpikir memang gadis itu sedang hamil. Tapi ternyata, aku hanya dibohongi," geram Nyonya Mary.


"Maaf, Mah. Aku salah, tapi Sania sekarang memang sedang hamil. Dia baru hamil lima minggu," sesal Piero.


"Apa? Kamu beneran menghamili gadis kampung itu? Piero, kenapa selera kamu rendah sekali?" tanya Eliza kaget. Karena selama ini dia berpikir kalau pernikahan Piero dan Sania itu hanya main-main, tidak mungkin mereka sampai melakukan hubungan suami istri yang sesungguhnya.


"Terserah apa yang akan kamu bilang, Eliza. Yang jelas pernikahan aku dengan Sania bukan permainan. Aku mencintai istriku apa adanya dia bukan karena ada apanya dia."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2