
Wajah yang suram, penampilan yang berantakan, tidak menjadi halangan buat Ganesha untuk kembali ke rumah istrinya. Dia memutuskan tidak akan masuk ke kantor tetapi kembali ke rumah Shopia. Berharap wanita yang selalu memberinya kehangatan itu akan pulang dengan sendirinya.
Sesampainya di sana, terlihat rumah Shopia sudah nampak rapi. Karena memang, setiap hari ada orang yang membersihkannya. Hanya saja orang itu tidak menginap, dia datang di pagi hari dan kembali di siang hari saat pekerjaan rumahnya sudah selesai.
"Maaf, Tuan. Tuan ini siapa? Bu Shopia mungkin sedang keluar, karena saat saya datang, rumahnya sepi dan berantakan."
"Kamu siapa?" Bukannya menjawab, Ganesha malah balik bertanya.
"Saya Mika yang setiap hari membersihkan rumah Bu Shopia."
"Apa pekerjaan kamu sudah selesai?"
"Sudah, Tuan."
"Saya suaminya. Kamu sudah boleh pulang," ucap Ganesha datar.
"Baik, Tuan. Tapi anu Tuan, hari ini seharusnya saya gajian. Tapi Bu Shopia tidak ada. Apa Tuan bisa memberikan uang gaji saya? Karena saya sedang butuh untuk biaya berobat anak saya yang sedang sakit."
"Berapa gaji kamu?"
"Satu juta lima ratus, Tuan."
"Apa kamu punya rekening? Aku tidak bawa uang cash."
"Ada Tuan, sebentar saya cari di ponsel saya dulu. Nomor ponsel Tuan berapa? Biar saya kirimkan lewat pesan," tanya Mika.
"Tidak usah, perlihatkan saja nomor rekeningnya."
__ADS_1
Mau tidak mau Mika pun memperlihatkan nomor rekeningnya. Padahal dia berharap dapat mengetahui nomor ponsel laki-laki tampan yang ada di depannya.
Ya ampun, di lihat dari sisi manapun, suami Bu Shopia ganteng banget. Membuat aku klepek-klepek. Tapi sayang, dia tidak mau memberikan nomor ponselnya. Padahal, kalau dia kasih, mau aku telpon malam-malam untuk mengusir rasa sepi aku, batin Mika.
"Uangnya sudah ditransfer, kamu boleh pulang," ucap Ganesha dengan nada dingin.
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu."
Ganesha ingin menghabiskan hari di rumah persembunyian Shopia. Berharap akan menemukan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk untuk menemukan istrinya. Dia pun kembali ke kamar Shopia karena rasa lelah yang mendera, setelah semalaman mencari keberadaan istrinya.
Namun, keningnya sedikit mengkerut saat dia menemukan sebuah laporan medis bersama dengan obat di dalam laci nakas. Ganesha pun melihat dengan seksama tiap kata yang tertulis di kertas itu. Apalagi ada hasil USG menyatu dengan kertas itu.
"Shopia hamil? Dia ... Dia ... Dia membawa pergi anakku. SHOPIAAAA ... KENAPA KAMU MENGHUKUM AKU SEPERTI INI?" jerit Ganesha dengan badan luruh seketika ke lantai. Hatinya sangat sakit saat menyadari dia kehilangan dua orang sekaligus. Istri dan anaknya yang dia harapkan kehadirannya.
Berkali-kali Ganesha menjambak rambutnya sendiri dengan air mata yang tidak berhenti keluar dari pelupuk matanya. Hancur ... Dunianya benar-benar terasa hancur seketika. Kenapa saat dia ingin memperbaiki semuanya, justru dia harus kehilangan wanita yang tanpa disadarinya sangat berarti dalam hidupnya.
Biarkan saja, dia merasakan sakitnya kehilangan. Agar nanti dia bisa lebih menghargai apa yang yang sudah menjadi miliknya, batin Zara.
Tidak berapa lama kemudian, Piero datang dengan tergesa-gesa. Dia benar-benar disibukkan oleh masalah bosnya. Untung saja Tuan Galen ikut turun tangan untuk membantu mencari ahli telematika. Agar bisa secepatnya membuktikan kecurangan Dora.
"Anez, bangunlah! Kamu jangan lemah seperti ini, kita pasti menemukan jalan keluarnya," ucap Piero menggoyang-goyangkan bahu Ganesha yang terduduk di lantai.
"Shopia pergi dengan anakku, Piero. Kamu harus segera mencarinya. Aku tidak mau tahu, Shopia harus kembali padaku."
"Apa? Shopia hamil? Kamu tenang saja, Tuan Galen sudah mengerahkan anak buahnya. Aku juga sudah sama. Kamu tinggal tunggu hasilnya. Tapi kamu tidak boleh lemah seperti ini! Ingat Anez, semua orang menggantungkan harapan padamu. Kalau kamu lemah seperti ini, Bagaimana dengan perusahaan? Bagaimana dengan ribuan karyawan. Aku yakin, secepatnya Shopia bisa ditemukan." Piero berusaha meyakinkan sahabatnya.
Dia merasa kaget saat melihat Ganesha yang benar-benar terlihat rapuh. Piero tidak menyangka kalau kepergian Shopia membuat Ganesha seperti kehilangan arah.
__ADS_1
"Piero, kalau sampai Shopia tidak ditemukan juga, aku akan menghancurkan Dora dan Robin. Menghancurkan keluarganya juga."
...***...
Beberapa hari setelah hari itu, Ganesha membuktikan ucapannya. Kekuatan uang yang dimilikinya, memang tidak bisa diragukan lagi. Ganesha dan papanya tidak tanggung-tanggung mengerahkan semua tenaga ahli agar mengungkapkan kebenaran dari foto dan video yang dipakai oleh Dora untuk menjeratnya. Kehilangan Shopia membuat dia tidak memiliki belas kasihan pada mantan tunangannya itu. Apalagi, saat Dora mengakui kalau dia dalang dari penculikan Shopia.
Bahkan, dia berencana menarik semua investasi pada perusahaan milik keluarga Dora. Membuat orang tua gadis itu menjadi kalang kabut. Karena memang, investasi dari keluarga Oenelon terbilang cukup besar.
Kalau sampai ditarik begitu saja maka kondisi keuangan perusahaan milik keluarga Dora akan goyah. Jack yang tidak ingin mengalami kebangkrutan akhirnya menekan egonya untuk memohon kepada Ganesha. Pria paruh baya itu sengaja datang ke perusahaan Ganesha untuk meminta laki-laki yang batal jadi menantunya agar mempertimbangkan kembali keputusanny.
"Nak Anez, masalah Dora tidak ada sangkut pautnya dengan Om dan perusahaan. Om tidak pernah tahu kalau Dora bersikap seperti itu. Tolong Nak Anez pertimbangan kembali," pinta Jack.
"Maaf, Om. Keputusan aku sudah final. Karena putri Om, istri dan anakku sekarang tidak diketahui keberadaannya. Kalau Om bisa menemukan Shopia, mungkin aku bisa mempertimbangkannya." Ganesha melihat ke luar jendela. Hatinya benar-benar sangat terluka dengan kehilangan Shopia dan anaknya.
"Ke mana Om harus mencarinya? Dora pun tidak tahu ke mana perginya Shopia. Nak Anez tahu sendiri, kalau aksi penculikan Dora dan Robin gagal karena ternyata ada orang yang menghadang mereka dan membawa pergi Shopia."
"Maka dari itu, kalau Omm tidak mau investasi dariku diambil, cari orang itu dan temukan Shopia secepatnya. Maka aku tidak akan menarik semua investasi aku di perusahaan Om. Bahkan aku akan menambahnya."
"Baik, Nak Anez. Tapi Om minta satu hal lagi, seandainya Shopia ditemukan, tolong cabut tuntutan pada Dora. Dia memang bersalah, tapi apa Nak Anez tidak kasian dengan kondisi Dora? Sekarang dia sedang hamil, kasian anaknya jika dia harus lahir di penjara."
"Itu salah dia sendiri. Kenapa bermain-main denganku? Dia mengaku hamil anakku, padahal itu anak laki-laki lain. Aku tidak habis pikir dengan Dora. Dia pikir aku bodoh akan percaya begitu saja dengan foto-foto itu dan video editan. Aku hanya sedang mencari waktu agar bisa menjerat dia ke ranah hukum dan ternyata, dia menggali lubangnya sendiri."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1