Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 48 Sania Sakit


__ADS_3

Merasa tidak nyaman karena bajunya basah, Piero pun langsung membukanya begitu saja. Dia tidak peduli dengan Sania yang sedang duduk di kursi di sampingnya. Namun, tetap saja akhirnya dia mengganti semua baju yang dipakainya di kursi belakang. Selesai dia berganti baju, barulah Piero berbicara.


"Sania gantilah baju kamu! Aku tidak akan melihat ke belakang saat kamu berganti baju," suruh Piero.


"Baik, Mas!" sahut Sania langsung berpindah ke kursi belakang.


Piero hanya melihat lurus ke depan melihat jalan tol yang padat merayap. Sedikit pun dia tidak ada niat untuk berbalik ke belakang mengintip Sania yang sedang berganti baju. Sampai akhirnya, Sania sudah di duduk di kursi depan, barulah dia melihat ke arah gadis itu.


"Maaf, ya! Kalau tadi bicara aku asal," sesal Piero.


"Mas, Piero tidak salah. Mungkin itu hanya firasat saja. Makanya Mas berbicara seperti itu."


Keduanya kembali terdiam saat mobil sudah mulai melaju. Piero fokus pada jalanan, sedangkan Sania perlahan menutup matanya. Saat rasa pusing mulai menyerangnya. Sampai mobil sudah terparkir rapi di basement apartemen, gadis itu masih saja terlelap tidur.


"Sania bangun! Sudah sampai." Piero menggoyang-goyangkan tangan gadis itu. Dia merasa kaget karena ternyata tangan Sania terasa panas. Perlahan Piero pun menempelkan punggung tangannya di dahi Sania.


"Ternyata dia demam. Gadis yang aku kira kuat, ternyata bisa lemah saat hatinya terluka," gumam Piero. "Sudahlah, kau bawa saja ke atas. Mana mungkin aku tega menyuruh dia pulang sendiri."


Piero turun dari mobilnya, lalu membuka pintu mobil yang ada di samping Sania. Meskipun kesusahan, akhirnya Piero dapat membawa gadis itu naik ke unit apartemennya. Perlahan, Piero membaringkan Sania di atas tempat tidur.


Dirasa Sania tertidur dengan nyaman, Piero pun beranjak pergi ke dapur untuk mengambil air hangat untuk mengompres Sania. Rasanya sudah sangat lama sekali dia tidak merawat orang sakit. Semenjak kehilangan adiknya, Dia hanya merawat dirinya sendiri. Karena kedua orang tuanya selalu sibuk dengan pekerjaan mereka.


"Kenapa aku merasa de javu saat dulu Vero sakit. Mama yang selalu sibuk dengan karirnya, selalu tidak sempat untuk memperhatikan anak-anaknya. Bahkan aku dan Vero sakit pun selalu tidak tahu," gumam Piero.


"Lebih baik aku panggil dokter, agar dia cepat sehat." Piero langsung mengambil ponselnya dan menghubungi dokter yang biasa bekerja di klinik perusahaan.


"Halo dokter, bisa ke apartemenku sekarang?" tanya Piero saat panggilan teelponnya sudah terhubung.


"Bisa, Mas. Saya berangkat sekarang."


"Oke, aku tunggu!"


Klik!


Piero langsung memutus panggilan teleponnya. Dia pun beranjak pergi menuju ke ruang depan untuk menunggu kedatangan dokter. Tidak lama kemudian, dokter yang di tunggu pun datang.

__ADS_1


"Loh, Mas Piero bukannya sedang sakit? Tapi kenapa terlihat bugar?" tanya dokter itu.


"Bukan aku yang sakit. Tapi temanku," jawab Piero. "Ayo ke kamar!" ajaknya.


Dokter itu pun hanya mengikuti ke mana Piero membawanya. Dia tidak banyak bertanya dengan status hubungan gadis itu dengan Piero. Karena memang mereka tidak terlalu dekat. Hanya sebatas dokter dan pasien.


Setelah dokter itu memeriksa dan memberikan obat untuk demam serta resep obat yang harus dibeli di apotek, dia pun langsung pulang. Tinggallah Piero yang merasa ngantuk karena kelelahan setelah perjalanan jauh. Selesai dia memberikan obat pada demam pada Sania, akhirnya Piero tertidur di samping gadis itu.


...***...


Berbeda dengan Ganesha yang sedang bermanja-manja pada istrinya. Pria tampan itu terus saja mengikuti ke mana Shopia pergi. Bahkan saat Shopia ingin buang air kecil pun, dia harus minta ijin dulu pada suaminya agar tidak dicari.


"Mas, bangun dulu. Aku mau ke kamar mandi," pinta Shopia.


"Mau apa?" tanya Ganesha yang terus saja menciumi perut istrinya.


"Aku mau buang air kecil. Mas, mau ikut?" tanya Shopia menggoda suaminya.


"Kalau boleh, Mas mau ikut."


"Baiklah, tapi jangan lama. Mas masih kangen dengan anak kita," ucap Ganesha.


Astaga! Kenapa Mas Anez jadi seperti itu? Aku kho merasa aneh. Seperti bukan Mas Anez yang aku kenal.


Tidak butuh waktu lama bagi Shopia menuntaskan hajatnya. Dia pun segera kembali menemui Ganesha yang menunggunya di sofa. Terlihat pria tampan itu tersenyum cerah menyambut kedatangannya.


"Kenapa lama sekali?" tanya Ganesha.


"Apa Mas? Lama? Perasaan gak ada satu jam," protes Shopia.


"Sudah sini duduk lagi." Ganesha langsung menarik tangan Shopia agar duduk di pangkuannya. "Mas mau tanya sesuatu, tapi jawab jujur ya!"


"Tanya apa?"


"Mas penasaran, siapa yang sudah menolong kamu dari penculik itu. Apa Zara? Memangnya dia pintar bela diri?"

__ADS_1


"Bukan Zara sih, tapi Gio yang membekuk penculik itu. Kebetulan Zara melihat aku dibawa pakai mobil itu. Lalu dia mengikuti seraya memberitahu suaminya. Akhirnya aku dibawa ke kampung karena khawatir akan ada orang yang menculik aku lagi."


"Ternyata di kampung pun kamu mau diculik. Mulai saat ini, Mas akan meminta Sania untuk menjadi asisten kamu. Kemana pun kamu pergi, dia harus ikut."


"Mas, bukannya Dora sudah ditahan? Berarti aku sudah aman."


"Mas hanya mau jaga-jaga. Agar kejadian kemarin tidak terulang."


"Gimana baiknya saja, Mas."


"Itu namanya istri, Mas." Ganesha mencolek hidup Shopia. Lalu tangannya turun ke bawah, mengelus bibir yang berwarna merah cherry itu. Ganesha tersenyum mesra sebelum dia meraup candunya.


Pertahankan Shopia benar-benar runtuh saat berhadapan dengan laki-laki dengan sejuta pesona. Dia tidak bisa memungkiri hatinya, kalau sebenarnya sangat merindukan Ganesha. Akhirnya, Shopia pin terhanyut mengikuti permainan suaminya.


"Mas, memang mau di sini?" tanya Shopia saat Ganesha membuka bajunya.


Ganesha tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya. Dia pun langsung membopong Shopia dan membawanya ke tempat. Ganesha tidak ingin membuang waktu, hingga dia pun langsung melanjutkan sesuatu yang sudah dia mulai.


Keesokan harinya, mereka dikejutkan oleh Piero yang terus menelponnya dan meminta Ganesha untuk pergi ke apartemen. Ganesha pun langsung membersihkan diri agar bisa secepatnya menuju ke apartemen sahabatnya.


Tidak lupa dia pun mengajak Shopia untuk mandi bersama. Hanya mandi, tidak ada acara mandi plus-plus, seperti yang biasa mereka lakukan. Setelah semuanya siap, dia pun memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu karena khawatir anaknya akan kelaparan.


"Mas, memangnya kita mau ke mana? Sepertinya buru-buru sekali," tanya Shopia saat menikmati sepotong roti bakar.


"Ke apartemen Piero. Tadi kita disuruh ke sana."


"Memangnya ada harus ke sana?"


"Mas juga tidak tahu. Hanya saja, semalam Piero bilang kalau Sania sakit jadi menginap di apartemen dia."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite...


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2