
Keangkuhan dan kesombongan terlihat jelas di wajah cantik Eliza. Sedari dia kecil, Eliza menang tidak suka bergaul dengan orang-orang biasa. Dia lebih senang bergaul dengan kalangan atas yang sederajat dengannya. Karena baginya orang-orang kalangan bawah itu hanya akan memanfaatkan uangnya saja.
Awalnya Ganesha dan Piero tidak masalah dengan semua itu, tetapi lama-kelamaan mereka menjadi risih. Hanya saja kedua sahabat itu menghormati orang tua Eliza, sehingga mereka masih mau berteman dengan Eliza.
"Eliza, kenapa kamu peduli sekali pada Sania. Apa kamu iri padanya karena dia bisa dekat dengan Piero?" tanya Ganesha yang mendengar percakapan para wanita itu.
"Untuk apa aku iri. Lagipula aku tidak mencintainya. Aku hanya peduli pada ...."
"Shopia, ayo kita pulang! Eliza, aku pulang dulu. Ayo Sania ikut pulang saja!" potong Ganesha. Dia sekalian mengajak Sania karena merasa kasian jika meninggalkan gadis itu sendiri di tengah-tengah pesta orang kaya.
"Apa boleh saya ikut serta?" tanya Sania yang merasa sungkan.
"Iya gak apa!" sahut Ganesha.
Saat mereka akan melangkahkan kakinya menuju ke pintu keluar, bertepatan dengan kedatangan Piero ke sana. Hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang.
"Piero, menginap di rumahku saja dulu. Biar lukamu diobati," ucap Ganesha.
"Tidak usah, Anez. Biar aku mengobatinya sendiri," tolak Piero.
"Kalau tidak mau menginap, ke rumahku saja dulu. Biar nanti Sania mengobati."
"Baiklah kalau begitu."
Selama perjalanan, Piero dan Sania hanya membungkam. Mulut mereka seakan terkunci ratap, enggan untuk mengeluarkan suara. Sementara Ganesha dan Shopia di dalam mobil yang berbeda sedang berbincang. Karena Shopia penasaran dengan apa yang terjadi pada Piero.
"Mas, apa papanya Mas Piero galak sekali. Kenapa tega membuat wajah Mas Piero menjadi babak belur?"
"Om Yongki memang tegas. Setiap keinginannya menjadi perintah untuk Piero," jelas Ganesha.
"Ngeri juga menjadi Mas Piero. Nanti bagaimana dengan Sania kalau papanya Mas Piero galak seperti itu?"
"Biar mereka yang urus. Kita hanya mendukung setiap rencana yang akan mereka jalankan."
Saking asyiknya mengobrol, tanpa terasa mereka sudah sampai di halaman rumah Ganesha. Keduanya pun langsung bergegas turun. Ternyata Piero dan Sania yang sudah tiba lebih dulu. Terlihat Sania sedang mengompres pipi Piero yang sedikit membengkak. Laki-laki tampan itu hanya diam seraya melihat ke arah wajah Sania yang tepat ada di depannya.
"Sania, tolong di rawat ya!" mohon Ganesha yang sukses membuat kedua insan itu menjadi kaget dengan kedatangan Ganesha dan Shopia. "Aku ke atas dulu mengantar Shopia," pamitnya.
__ADS_1
"Iya, Bro. Santai aja," sahut Piero.
Selepas kepergian Ganesha, Sania pun angkat bicara. " Mas, apa tidak sebaiknya kita batalkan saja perjanjiannya. Aku tidak tega melihat Mas Piero babak belur begini."
"Aku laki-laki, kalau hanya kena tamparan segini belum seberapa."
Tidak berapa lama kemudian, Ganesha datang untuk melihat keadaan sahabatnya. Setelah selesai Piero diobati, kedua sahabat itu pun memutuskan untuk berbincang serius di ruang kerja Ganesha.
"Piero, apa benar Sania pacar bohonganmu
"Iya, aku sengaja menyewanya untuk menggagalkan pernikahanku dengan Eliza."
"Kalau kamu tidak menginginkan pernikahan itu, kenapa kamu bertunangan dengan Elisa?"
"Aku hanya ingin memberitahu pada papa, kalau aku pun memiliki pemikiran sendiri dan memiliki keinginan sendiri yang tidak bisa dia paksa dan harus mengikutinya terus."
"Aku jadi khawatir akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pada Sania.'
"Aku akan memastikan keamanannya. Kamu jangan khawatir, Anez. Aku sudah mempertimbangkan semuanya."
'Baiklah kalau itu memang sudah menjadi keputusan kamu. Aku hanya bisa mendukungmu Piero. Kalau nanti terjadi suatu hal yang tidak kita inginkan, kamu jangan suka minta tolong padaku."
"Berapa lama kamu akan meminjamnya?"
"Mungkin sampai pertunanganku dengan Elisa batal."
"Baiklah! Lakukan kesukaanmu! Hanya saja tolong jangan rusak Sania." pesan Ganesha.
"Kamu kok khawatir sekali sama Sania. Apa kamu tidak percaya padaku Anez?"
"Aku percaya pada kamu, tapi terkadang kejahatan itu terjadi karena adanya kesempatan."
"Baiklah baiklah ... Aku tidak akan pernah menyentuh lebih jauh pada anak gadis orang sebelum aku menikahinya."
Setelah puas kedua sahabat itu berbincang, akhirnya Piero pun berpamitan pada Ganesha. Dia mengajak Sania untuk ikut serta, karena dia yakin pasti papanya akan datang kembali besok pagi. Orang tua itu pasti akan datang untuk memastikan setiap kata yang diucapkan padanya.
Meskipun sebenarnya Sania merasa enggan untuk ikut dengan Piero, tapi mau tidak mau akhirnya dia pun mengikutinya karena uang dp yang sepuluh juta, membuat dia harus menurut pada keinginan Piero.
__ADS_1
"Kamu harus menjaga Sania. Tidak boleh merusaknya!" pesan Anez sebelum Piero
pergi dari rumahnya.
Selepas kepergian Piero dan Sania, Ganesha pun langsung beranjak pergi menuju ke kamarnya. Terlihat di sana Sofia sudah mulai tertidur dengan selimut yang hanya menutupi sampai ke perutnya. Ganesha mendekat ke arah Sofia ditatapnya lekat wajah cantik istrinya. Entah kenapa, dia teringat kata-kata orang yang ada pesta kala itu.
Kata-katanya, menjadi terngiang-ngiang. Kabar yang diterimanya juga, membuat dia tidak menyangka kalau wajah Sofia ternyata sangat mirip dengan istri pertama Tuan Jodi.
Sofia sebenarnya kamu siapa?Apa mungkin kamu putrinyaya Tuan Joidy.Tapi bukankah ibumu menikah lagi dan tinggal di luar negeri apa mungkin itu minyak Clara seperti yang mereka katakan
Perlahan tangan Ganesha mengelus lembut pipi Shopiah, membuat Sophia menjadi merasa terganggu tidurnya namun bukan Ganesha jika dia membiarkan istrinya tidur terlebih dahulu. Sementara dia belum mendapatkan sesuatu hal yang diinginkannya setiap malam.
"Mas aku ngantuk,"" keluh Shopia.
'Tidurlah! Kamu cukup tertidur dan nikmati, biar Mas yang bekerja sendiri."
"'Mas, bagaimana aku bisa tidur kalau Mas mainkan semuanya," gerutu Shopia
"Kalau kamu memang tidak bisa tidur, lebih baik kita main bersama biar mas tidak sendirian bermain ya!"
Pada akhirnya Sofia hanya mengikuti keinginan Ganesha karena dia tidur pun tidak akan bisa pulas, saat tangan nakal Ganesha terus merayap menyusul setiap inci tubuhnya. Apalagi. berakhir dengan olahraga malam yang sangat-sangat memabukkan.
Berbeda dengan Piero dan Sania. pasangan muda-muda itu terlihat canggung berada dalam satu apartemen dalam keadaan sadar. Hati Sania terus saja was-was, takut Piero memanfaatkan kesempatan yang ada. Apalagi, dia sangat menjaga kehormatannya bahkan Rodeo pun belum pernah menyentuh setiap titik sensitif di tubuhnya selain menikmati bibirnya.
"Mas aku tidur di mana?" tanya Sania.
"Kamu tidur di atas tempat tidur saja, biar aku yang tidur di sofa. Karena apartemen ini hanya memiliki satu kamar tidur."
"Enggak papa nih, Mas? Apa Mas saja yang tidur di kasur biar aku yang tidur di sofa."
"Tidak apa! Aku seorang lelaki, mana mungkin aku mau biarkan seorang gadis tidur di sofa. Sementara aku enak-enakan tidur sendiri di atas tempat tidur. Tidurlah! Hari sudah malam kita harus bersiap untuk hari esok pasti papa akan datang ke sini."
"Baiklah, Mas! Selamat malam, aku tidur duluan ya! Soalnya aku udah ngantuk sekali."
"Iya tidurlah!"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....