Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 26 Terjebak Kembali


__ADS_3

Baju berserakan, seprai yang berantakan menjadi saksi penyatuan dua insan yang saling menyerahkan hati dan tubuhnya. Perlahan Ganesha melepaskan belitan tangan Shopia yang melingkar di perut sixpack miliknya. Dia melihat jam sudah menunjukkan angka tujuh. Rupanya dia bangun kesiangan setelah semalam menggempur istrinya sampai dini hari.


"Biarkan saja dia istirahat, aku sebaiknya bergegas ke kantor karena ada meeting pagi ini," gumam Ganesha.


Ganesha pun bergegas membersihkan dirinya. Lalu berpakaian rapi dan langsung berangkat ke kantor tanpa membangunkan Shopia lebih dulu. Ganesha hanya tersenyum tipis saat teringat penyatuannya semalam dengan Shopia yang benar-benar menggila.


"Tidurlah! Hari ini aku kasih cuti spesial untuk kamu," ucap Ganesha dengan mencium pipi Shopia sebelum dia berangkat ke kantor.


Tanpa disadarinya, Shopia terbangun saat merasakan benda kenyal itu menempel di pipinya. Wanita itu baru membuka matanya saat Ganesha sudah pergi dari kamarnya. Hatinya menghangat mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya.


"Semoga saja, Mas Anez benar-benar berubah dan mulai mencintaiku. Meskipun sekarang ada Dora yang berusaha untuk mendapatkan hati Mas Anez kembali," gumam Shopia seraya dia bangun dari tidurnya.


Dia turun ke bawah setelah membersihkan dirinya dan berpakaian rapi. Terlihat Bi Sari sedang membersihkan rumah. Shopia pun langsung bertanya pada wanita paruh baya itu.


"Bi, Mas Anez tadi sarapan di rumah?"


"Sarapan, Non. Tapi hanya minum susu dan roti saja. Non mau sarapan? Biar Bibi siapkan" jawab Bi Sari.


"Tidak usah, Bi. Aku mau bikin nasi goreng sendiri. Bibi lanjutkan saja pekerjaannya," tolak Shopia.


"Baiklah, Non!" sahut Bi Sari dengan melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat terhenti.


Sementara Shopia langsung bergegas ke dapur untuk membuat sarapannya sendiri. Dia terlihat bersemangat dengan wajah yang berseri. Sepertinya bunga-bunga cinta bermekaran dengan subur di hatinya.


Setelah menghabiskan sarapannya, Shopia pun kembali ke kamarnya. Dia bersiap untuk pergi ke rumahnya. Sudah lama dia tidak melihat keadaan rumah yang jarang dia tempati itu. Tidak lupa dia berpamitan dengan Bi Sari sebelum berangkat ke rumahnya.

__ADS_1


Kedua sudut bibirnya terus saja terangkat mengingat kejadian semalam. Namun, senyum cerah itu mendadak luntur saat tanpa sengaja melihat Ganesha dan Dora di lampu merah. Ingin rasanya dia memutar arah, mengikuti ke mana dua orang itu pergi. Tetapi mobilnya tidak bisa bergerak karena terhimpit di antara mobil lain yang sama-sama menunggu lampu berubah berwarna hijau.


"Mas Anez ke mana? Apa mungkin yang semalam hanya sebuah kado ulang tahun untukku. Bukan karena dia benar-benar menerima aku sebagai istrinya?"


Terus saja Shopia menerka-nerka apa yang akan Ganesha dan Dora lakukan. Sampai saat lampu hijau sudah menyala, dia belum juga menyalakan mobilnya.


Tin ... Tin ... Tin ....


Suara klakson yang bersahutan menyadarkan Shopia dari lamunannya. Dia pun segera melajukan mobilnya membela jalanan ibu kota. Dia hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk menepis setiap prasangka buruk yang menggelitik pikirannya.


"Tenang Shopia. Kembali pada niat awal kamu. Seandainya memang Mas Anez ingin kembali pada Dora, maka kamu harus mundur."


Shopia terus saja terlarut dalam pikirannya, sampai tidak terasa mobil yang dibawanya sudah terparkir di depan rumah. Dia pun langsung turun dan memilih kembali tidur karena kepalanya terasa berdenyut memikirkan Ganesha dan Dora.


Sementara di tempat lain, terlihat Ganesha sedang memapah Dora ke apartemen gadis itu. Tadi saat di kantor, Dora mengeluh lambungnya sakit dan meminta Ganesha untuk mengantarnya. Karena saat itu tidak ada Piero, Ganesha pun akhirnya mau mengantar Dora. Dia khawatir Dora pingsan saat kerja karena penyakit maag gadis itu sedang kambuh.


"Kak Anez, antar aku ke kamar ya!" pinta Dora pelan.


"Iya, nanti aku panggil dokter untuk memeriksa keadaan kamu."


"Tidak usah, Kak! Aku ada stok obat untuk maag aku. Kakak temani aku saja."


Ganesha pun dengan patuh mengikuti keinginan Dora. Tekadnya semalam untuk menjauhi gadis itu seperti menguap begitu saja. Dia merasa tidak tega saat melihat Dora terlihat lemah seperti itu.


"Dora, sebentar Kakak ambikan minum untuk kamu minum obat," ucap Ganesha setelah dia merebahkan Dora di tempat tidur.

__ADS_1


"Iya, Kak!" sahut Dora.


Setelah kepergian Ganesha, Dora langsung membuka laci nakasnya. Dia mengambil sebuah botol spray dari dalam sana. Setelah menyemprotkan begitu banyak ke laci nakasnya, Dora pun kembali ke posisi semula.


Tidak lama kemudian, Ganesha datang dengan satu gelas air putih di tangannya. Dia menyimpannya di atas nakas sebelum duduk ditepi tempat tidur. "Dora, obatnya simpan di mana? Biar Kakak ambilkan," ucapnya.


"Di laci nakas, Kak."


Tanpa ada rasa curiga, Ganesha langsung membuka laci nakas yang da di samping tempat tidur Dora. Dia mendadak pusing saat mencium hawa dari dalam nakas. Sementara Dora langsung menyemprotkan kembali formula yang akan membuat Ganesha tidak sadarkan diri.


Benar saja, hanya dalam hitungan detik Ganesha sudah tidak sadarkan diri. Laki-laki tersungkur hampir menabrak ujung nakas. Namun Dora dengan sigap menangkap laki-laki itu dan membawanya ke tempat tidur.


"Kak Anez, Kak Anez, lagi-lagi kamu terjebak. Padahal dulu aku tidak berniat untuk menjebak kamu, tapi kenapa kamu yang berakhir di tempat tidur dengan Shopia. Aku hanya ingin harga diri gadis itu hancur, karena aku benci Shopia selalu mengalahkan aku dalam akademik dan karier. Dia yang selalu mendapatkan pujian dari orang-orang, sedangkan sama aku mereka biasa saja. Padahal aku yang lebih cantik dan kaya dari dia," ucap Dora seraya mengelus wajah Ganesha lembut.


Satu persatu kancing baju Ganesha di lepaskan. Meskipun dengan susah payah, akhirnya Dora dapat membuka baju Ganesha. Bukan hanya baju yang Dora lepas tetapi seluruh kain yang menempel di badan laki-laki itu dia lepaskan juga.


Selesai melucuti seluruh baju Ganesha, kini Dora melucuti bajunya sendiri. Dia tersenyum smirk dengan terus mencubit badannya sendiri untuk meyakinkan Ganesha kalau mereka sudah berhubungan. Setelah dirasa cukup, Dora mengambil beberapa pose dengan tangan Ganesha merangkul dirinya. Selesai mengambil gambar, Dora pun segera mengirimkannya pada Shopia dan Prada.


"Mas Anez, Shopia tidak pantas mendapat cintamu dan kasih sayang keluargamu. Kita lihat apa yang akan dilakukan orang tuamu saat mereka tahu kalau kamu tidur bersamaku." Dora terus saja melihat ke arah Ganesha yang tertidur pulas. Tangannya terulur meraba dada bidang dan perut kotak-kotak laki-laki itu.


"Setahun lebih tidak bersamamu, badanmu terlihat semakin kekar. Tapi sayang, aku tidak bisa melakukannya denganmu sekarang."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Autrhor ya kawan! Klk like, comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2