
Selepas kepergian tamu-tamunya, Galen dan Prada memilih untuk beristirahat. Sementara Piero menyuruh tim keamanan yang di bawah kendalinya, untuk memeriksa rumah Keluarga Oenelon, khawatir Lucy menyimpan sesuatu di rumah itu.
Benar saja dugaannya, pengawal bayangan yang dipinjamnya dari Elgar menemukan alat penyadap dan kamera tersembunyi yang berukuran sangat kecil. Sehingga tidak dapat terlihat jelas jika tidak diteliti dengan baik. Piero hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tidak mengerti kenapa Lucy bisa licik seperti itu.
"Tuan, boleh saya bawa ke lab dulu? Saya ingin tahu alat ini buatan siapa karena tulisannya sangat kecil," ucap Jack, pengawal bayangan.
"Boleh saja. Tolong selidiki dengan tuntas ya!"
"Siap! Kalau begitu, aku permisi dulu," pamit Jack.
Setelah kepergian Jack dan tim keamanan rumah Keluarga Oenelon, Piero pun masuk ke kamarnya. Dilihatnya Sania seperti menyeka air matanya. Piero pun segera menghampiri istrinya.
"Sania, maafkan atas sikap mama dan papaku. Kamu juga tidak usah mendengarkan apa yang Eliza katakan, ya!" Piero merengkuh tubuh istrinya agar masuk ke dalam dekapannya.
"Aku tidak papa, Mas. Bukan hal yang aneh saat ada orang menghinaku, tapi entah kenapa sekarang aku jadi mudah tersinggung jika ada orang yang berbicara pedas padaku," adu Sania.
"Itu wajar karena sekarang kamu sedang hamil. Saat sedang hamil, biasanya hormon estrogen dan progesteron di tubuh akan mengalami peningkatan secara signifikan, sehingga memengaruhi cara kerja neurotransmitter (zat kimia di otak) dalam mengatur suasana hati."
"Mas kho tahu?" tanya Sania merasa kaget.
"Mas harus tahu banyak tentang ibu hamil karena sekarang istri Mas sedang hamil. Istirahat ya! Mungkin Shopia juga sedang istirahat."
"Mas, tidurnya mau dipeluk," ucap Sania malu-malu.
"Iya, yuk kita tidur!" ajak Piero dengan tersenyum cerah. Karena peluk bukan sembarang peluk yang diminta oleh Sania. Itu hanya sebuah kode untuk pasangan suami istri itu memadu kasih.
Piero pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati setiap inci tubuh Sania. Seperti kata pepatah pucuk dicinta ulam pun tiba. Piero memang menginginkan, ditambah Sania juga memintanya. Membuat pasangan muda-mudi itu langsung terbakar gairah, sehingga suara-suara penuh penghayatan itu memenuhi seisi kamar.
Sementara di luar kamar, Ganesha sempat mengerutkan keningnya saat tanpa sengaja mendengar racauan Piero yang menggema. Dia tersenyum sendiri karena yakin pasti Piero sudah mendapatkan pelepasannya. Saat sudah tidak terdengar lagi suara-suara yang membuat bulu kuduk merinding, barulah Ganesha mengetuk pintu kamar sahabatnya.
Tok ... tok ... tok.
"PIERO, JANGAN LUPA PEREDAM SUARANYA!" teriak Ganesha kemudian dia berlalu pergi menuju ke dapur. Dia keluar dari kamarnya, karena Shopia mendadak kelaparan setelah mereka memberi petunjuk pada putrinya, jalan mana yang harus dilalui saat sudah waktunya untuk lahir ke dunia.
__ADS_1
Sesampainya di dapur, Ganesha membuat roti sandwich dan segelas susu coklat seperti apa yang Shopia minta. Dia kembali ke kamarnya, dengan nampan di tangan.
"Shopia, bangunlah! Ini rotinya," ucap Ganesha seraya menyimpan roti di atas nakas.
"Makasih ya, Mas." Shopia mengambil roti itu dan langsung memakannya.
"Iya, sama-sama." Ganesha hanya bisa tersenyum saat melihat istrinya begitu lahap.
Sesekali tangannya membersihkan sudut bibir Shopia yang terlihat ada remahan roti yang menempel. Laki-laki tampan itu terus saja memperhatikan cara makan istrinya. Sampai saat roti itu habis, dia dengan sigap mengambil susu dan memberikannya pada Shopia.
"Makasih, Mas." Shopia tersenyum senang mendapatkan perhatian dari suaminya.
"Habiskan ya susunya!"
"Siap Papa," ucap Shopia dengan menirukan seperti suara anak kecil.
Ganesha hanya tersenyum tipis seraya mengusap rambut Shopia pelan. Dia terus saja memperhatikan wajah cantik Shopia yang terlihat bersinar. Ganesha merasa tidak pernah bosan untuk melihat wajah cantik istrinya.
Kadang aku tidak mengerti, kenapa dulu bisa sangat membencinya. Padahal dia gadis yang baik. Bersyukur Tuhan sudah membuka mata hatiku sehingga aku bisa tahu, siapa berlian yang sesungguhnya.
"Tidak apa. Buat stok jika nanti Mas kangen tapi harus bekerja dan tidak bisa bersama dengan kamu. Agar setiap Mas menutup mata, yang terlihat hanya wajah kamu," ungkap Ganesha.
"Mas, sekarang sudah pintar merayu." Pipi Shopia terlihat bersemu merah mendengar apa yang suaminya katakan.
"Mas tidak merayu, semakin Mas dekat kamu, semakin Mas mengenal kamu lebih jauh, semakin Mas tidak bisa jauh dari kamu."
"Aku juga sama, Mas."
"Tidur ya! Mas mau menyimpan gelas kosong dulu," suruh Ganesha seraya mencium kening Shopia.
Dia beranjak pergi dari kamarnya untuk menyimpan nampan dan gelas kosong ke dapur. Namun, saat dia akan kembali, berpapasan dengan Piero yang akan ke dapur. Akhirnya mereka memilih pergi ke perpustakaan mini.
"Anez, aku tidak menyangka kalau masalah keluarga Vuttion berat juga. Tadi pengawal menemukan penyadap di bawah sofa. Sebenarnya persahabatan seperti apa yang orang tua kita bangun?" tanya Piero.
__ADS_1
"Entahlah! Sepertinya kita harus mempercepat untuk bertemu dengan Ibu Kia. Aku akan mengatur pertemuannya. Lagipula, sekarang dia tinggal di rumah Shopia. Jadi kita tidak kesusahan mencarinya," ucap Ganesha.
Keduanya terus saja berbincang. Sampai malam sudah semakin larut, barulah keduanya beranjak pergi dari sana.
...***...
Kesehatan Louis kini sudah membaik. Kia pun sudah tinggal di rumah Shopia. Wanita yang sudah tidak muda lagi itu terlihat jarang keluar, kalau pun dia keluar, pasti dia akan memakai masker.
Kia selalu was-was, khawatir Lucy akan mengetahui keberadaannya di ibu kota. Seandainya uang yang ditinggalkan suaminya tidak habis dipakai Nike, mungkin dia memilih untuk tetap tinggal di sana. Hidup tenang dengan putra semata wayangnya.
Namun, semua itu hanya angannya saja. Obsesi Nike untuk menjadi artis terkenal, membuat uang tabungan yang ditinggalkan semuanya semakin menipis. Beruntung Nike mendapatkan tawaran dari temannya untuk bergabung di JS Entertainment, sehingga mereka memilih untuk pulang kampung ke negara asalnya.
"Louis, jika nanti tamu ibu datang, kamu diam di kamar saja ya! Jangan keluar!" pesan Kia.
"Apa Kak Shopia akan berkunjung, Mom?" tanya Louis.
"Iya," jawab Kia.
"Apa boleh aku berbincang dengan Kak Shopia? Sepertinya Kak Shopia baik, tidak seperti Kak Nike yang terkadang kasar."
"Kak Shopia memang baik. Kamu jangan bicara jelek soal Kakak kamu, bagaimana pun dia itu kakak kamu."
"Iya, Mom. Tapi aku lebih suka Kak Shopia, Kapan-kapan kita main ke rumahnya lagi ya, Mom!"
"Iya, Sayang. Tapi Mama tidak enak hati sama suaminya. Kalau di rumah Kak Shopia nanti jangan macam-macam ya!"
"Yes, Mom! Aku akan jadi anak yang patuh."
"Bagus! Mommy senang kalau kamu mau menurut sama Mommy."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, Rate, vote, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....