Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 59 Kedatangan Tuan Jody


__ADS_3

Terlihat Bi Sari berdiri di depan pintu kamar, wanita paruh baya itu tersenyum ramah pada Shopia yang membukakan pintu. Meskipun dia merasa tidak enak hati, akhirnya dia berbicara juga.


"Maaf, Non. Di depan ada tamu, mau bertemu dengan Tuan."


"Siapa Bi?" tanya Shopia.


"Tuan Jody dan putranya Tuan Jordan," ucap Bi Sari.


"Oh, makasih ya, Bi. Nanti aku sampaikan ke Mas Anez."


"Kalau begitu, Bibi permisi," pamit Bi Sari.


"Iya, Bi. Tolong siapkan makanan dan minumannya."


"Baik, Non."


Selepas kepergian Bi Sari, Shopia pun kembali masuk ke kamarnya. Namun, dia tidak mendapati suaminya di tempat tidur. Rupanya Ganesha sedang berada di kamar mandi untuk menidurkan adik kecilnya yang tadi sempat terbangun.


"Mas, ada Tuan Jody di depan," teriak Shopia di depan pintu kamar mandi.


"Iya, nanti Mas ke sana. Kamu temui saja dulu. Mas lagi nanggung," Ganesha pun ikut berteriak di dalam kamar mandi.


"Ya sudah, aku ke depan duluan ya, Mas." Lagi-lagi Shopia berteriak.


Merasa tidak mendapatkan sahutan dari Ganesha, dia pun segera menuju ke ruang tamu. Terlihat di sana dia pria tampan berbeda generasi sedang duduk seraya berdiskusi. Mereka tidak menyadari kedatangan Shopia yang muncul dari arah samping. Sampai terdengar suara Shopia, barulah keduanya menengok ke belakang.


"Selamat sore, Tuan-tuan!" sapa Shopia dengan tersenyum ramah


"Selamat So-re." Tuan Jody terpaku melihat penampilan Shopia yang terlihat natural. Benar-benar sangat mirip dengan istri pertamanya. Hanya berbeda dari warna rambut. Shopia memiliki jenis rambut yang sama dengannya.


Tidak jauh beda dengan Tuan Jody, putranya Jordan pun terpaku melihat wajah Shopia. Dia yang sudah bisa mengingat wajah ibunya, saat dulu tiba-tiba saja menghilang, Seperti melihat ibunya kembali.


"Mama ...," lirih Jordan.


"Maaf Tuan-tuan, silakan duduk kembali!" ucap Shopia saat melihat kedua pria tampan itu bengong melihat ke arahnya.


"Terima kasih," ucap Tuan Jody dan Jordan kompak.


"Maaf, Tuan. Suami saya sedang mandi, mungkin tidak akan lama menyusul ke sini," ucap Shopia.


"Tidak apa. Shopia, kalau boleh tahu, orang tua tinggal di mana?" tanya Tuan Jody.

__ADS_1


"Ayah saya sudah meninggal, Tuan. Kalau Ibu, ikut dengan suaminya ke luar negeri."


Apa? Ke luar negeri? Apa mungkin Clara menikah lagi? Tapi kenapa dia tega padaku? Bukankah dia sudah berjanji akan selalu bersamaku? Batin Tuan Jody.


"Silakan diminum, Tuan!" ujar Shopia.


"Terima kasih, Shopia. Ibumu pasti beruntung memiliki putri yang cantik sepertimu. Pasti ibumu pun mirip denganmu."


"Tidak, Tuan. Wajah ibu lebih jauh lebih cantik dari saya. Kata tetangga, wajah saya lebih mirip dengan wajah ayah."


Jody dan Jordan saling berpandangan mendengar penuturan dari Shopia. Mereka jadi penasaran sebenarnya Shopia tinggal dengan siapa selama ini.


"Kalau boleh tahu, siapa nama ayahmu?"


"Boy Martin, Tuan."


Boy? Bukankah itu adiknya Clara. Tapi kenapa dia tidak mau memberitahu keberadaan istriku, batin Jody.


"Shopia, Apa Om Boy sudah meninggal?" tanya Jordan dengan dada yang terasa sangat sesak. Dia tidak menyangka laki-laki yang dulu sering menjaganya saat dia masih kecil, ternyata sudah tiada.


"Om Boy? Apa Tuan mengenal ayah saya?"


"Maaf, Shopia. Aku teringat adik mamaku, namanya sama Boy. Mungkin karena aku sangat merindukannya, jadi aku merasa kalau Boy ayah kamu itu om aku," jelas Jordan.


"Oh, mungkin namanya mirip ya, Tuan." Shopia tersenyum manis pada Jordan, membuat laki-laki yang jarang tersenyum itu jadi tertular.


Namun, sepertinya hal itu membuat Ganesha merasa tidak senang. Karena saat dia tiba di sana, melihat istrinya sedang melempar senyum dengan laki-laki lain.


"Hm ... Maaf Om Jody, Anda lama menunggu," ucap Ganesha.


"Tidak apa, Anez. Maaf kedatangan Om mengganggu kalian. Tadi Om mau ke kantor kamu, tapi kata sekretarismu sudah pulang. Makanya Om ke sini," ucap Jody.


"Oh, begitu. Ada apa ya, Om mencari saya?" tanya Ganesha.


"Om, mau menanyakan soal Eliza. Apa dia suka membuat masalah di kantor?" tanya Jody mencari alasan.


"Sepertinya tidak, Om. Memangnya kenapa ya, Om?"


"Om, mau mengajak dia bergabung di perusahaan Om saja. Tapi dia menolak dan tetap ingin bekerja di perusahaan kamu. Om hanya mau minta sama kamu, kalau dia bikin ulah, kamu lansgung pecat saja. Apalagi, kalau dia mencari masalah dengan istrimu, kamu langsung bilang saja sama, Om."


"Baik, Om. Saya pasti akan melakukan apa yang Om minta."

__ADS_1


"Kalau tidak bisa menghubungi Papa, kamu bisa menghubungi aku," ucap Jordan yang sedari tadi diam.


"Tumben Kak Jordan peduli dengan Eliza."


"Kakak tidak mau dia berulah. Apalagi kalau sampai menyakiti istrimu. Kami tidak akan tinggal diam," ucap Jordan meyakinkan.


Aneh sekali, kenapa mereka tiba-tiba saja mengkhawatirkan Shopia? Apa Kak Jordan diam-diam mencintai istriku? Tidak bisa! Aku tidak akan biarkan ada lelaki lain yang berusaha mendekati Shopia, batin Ganesha.


"Kakak tenang saja, Shopia tanggung jawabku. Aku pasti akan menjaganya dengan baik," ucap Ganesha.


"Oh, iya Anez. Apa Om bisa bertemu dengan Piero. Om ingin mengetahui kebenaran tentang gadis yang datang bersamanya waktu itu," ucap Jody.


"Bisa, Om. Piero paling ada di taman belakang. Sayang, tolong panggilkan Piero dulu ya!" pinta Ganesha.


"Iya, Mas. Sebentar saya panggilkan. Permisi, Tuan!" pamit Shopia.


Dia pun segera pergi ke taman belakang. Terlihat Piero sedang memberi ikan di kolam. Tidak di tempatnya, Sania sedang merajut untuk mengisi waktu luangnya.


"Mas Piero, Tuan Jody ingin bicara dengan Mas," ucap Shopia.


"Apa beliau ada di sini?" tanya Piero kaget.


"Iya, ada di depan dengan Mas Anez. Sepertinya beliau ingin membicarakan soal Eliza. Tapi kenapa sifatnya bertolak belakang dengan Eliza ya?"


"Mungkin Eliza mengikut dengan sifat mamanya. Aku ke depan dulu ya!" pamit Piero.


"Iya, Mas!"


Setelah kepergian Piero, Shopia mendekat ke arah Sania yang sedang merajut. Dia begitu terkagum-kagum dengan keahlian Sania yang pandai merajut. Ibu hamil itu akhirnya tidak kembali ke depan, karena dia asyik melihat Sania.


"Sania, kamu belajar dari siapa. Lincah sekali tangan kamu," puji Shopia.


"Nenek yang mengajari aku. Mbak Shopia mau mencoba?" tawar Sania.


"Tidak Sania, aku tidak bisa merajut. Aku lebih suka melihatnya."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2