Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 8 Jangan Cemburu!


__ADS_3

Keadaan Shopia kini sudah membaik, rencananya hari ini dia mulai bekerja kembali. Tentu saja dia langsung menjadi assisten pribadi Ganesha. Sesuai dengan kesepakatan yang sudah mereka tanda tangani.


Shopia bersikap masa bodoh dengan semua cibiran teman kerjanya. Dia sengaja menulikan telinga dengan apa yang mereka katakan. Hatinya seakan mati rasa dengan apa yang sudah terjadi.


"Zara, apa kamu percaya dengan apa yang mereka katakan?" tanya Shopia saat bertemu dengan sahabatnya.


"Aku lebih percaya padamu. Hanya saja, aku sangat menyayangkan dengan apa yang terjadi. Seandainya kamu menurut padaku, mungkin saja semua itu tidak akan terjadi," ucap Zara.


"Mungkin sudah takdirku harus ternoda dan menanggung malu," ucap Shopia dengan tersenyum kecut.


"Jangan berkecil hati! Aku akan selalu bersama kamu," ucap Zara dengan menggenggam tangan Shopia. Dia ingin meyakinkan pada sahabatnya, bagaimana pun keadaan Shopia, dia akan selalu jadi sahabatnya.


"Shopia, kamu dipanggil Tuan Ganesha. Baru saja sehari jadi assisten pribadi bos sudah belagu. Bukannya kerja, malah mengobrol di mesin fotocopy," sinis Wenny, sekretaris Ganesha.


"Aku pergi dulu ya, Zara. Terima kasih kamu masih menganggap aku sahabat," ucap Shopia sebelum dia pergi meninggalkan Zara. Dia tidak menanggapi ucapan Wenny dan memilih pergi begitu saja.


"Dasar assisten gendeng!" gerutu Wenny.


"Mbak Wenny yang gendeng, ngasih tahu kho kayak gitu. Pantas saja Shopia bersikap begitu karena Mbak Wenny sendiri yang memancingnya," ucap Zara.


"Apaan sih kamu ikut-ikut saja," sinis Wenny.


"Ingat loh, Mbak. Sekarang Shopia jadi assisten pribadi. Sudah pasti hubungan dia dengan bos lebih dekat dari Mbak Wenny. Bagaimana kalau nanti Shopia adukan apa yang Mbak Wenny lakukan. Memang sudah siap kehilangan pekerjaan," ucap Zara seraya pergi meninggalkan Wenny. Dia sengaja menakut-nakuti sekretaris Ganesha itu, agar Wenny lebih bisa menjaga ucapannya.


Benar juga apa yang dia bilang. Bagaimana kalau Shopia jadi tukang ngadu? batin Wenny.


Dia bergidik ngeri lalu berlalu pergi menuju ke tempat kerjanya. Sampai-sampai dia tidak menyadari kalau di depan office boy yang melintas di depannya dengan membawa ember dan alat pel. Hingga tabrakan itu tidak dapat dihindari.


"Kenapa kamu memotong jalanku, hah? Lihat, bajuku basah!" seru Wenny.


"Maaf, Mbak. Tadi Mbak yang datang sendiri menabrak saya," kilah Office Boy itu.


"Wenny, kenapa buat keributan? Mana Shopia? Kenapa belum datang juga ke ruangan aku?" sentak Ganesha. Dia merasa kesal karena menunggu lama kedatangan Shopia.

__ADS_1


"Ta-tadi dia sudah pergi ke ruangan Anda," jawab Wenny gugup.


Saat Ganesha akan bicara kembali, terlihat Shopia baru datang dari arah pantry. Dia membawa nampan dengan secangkir kopi di atasnya. Shopia pun langsung tersenyum pada Ganesha.


"Maaf, Bos. Tadi Bu Wenny menyuruh saya untuk membuat kopi terlebih dahulu," ucap Shopia.


"Kopi? Siapa yang meminta kamu membuatkan kopi?" tanya Ganesha.


"Bu Wenny, Tuan."


"Tidak! Aku tidak pernah menyuruh kamu membuatkan kopi," sanggah Wenny.


"Sudah! Cepat berikan kopinya," suruh Ganesha.


Shopia pun mengikuti apa yang laki-laki itu katakan. Dia memberikan kopi pada Wenny, sebelum mengikuti suaminya. Shopia hanya tersenyum tipis saat melihat wajah kebingungan dari Wenny. Karena memang sebenarnya kopi hanya sebagai alasan agar Ganesha tidak marah saat tadi dia tidak langsung ke ruangan laki-laki itu.


"Shopia, kamu pulang sekarang! Siapkan baju-bajuku! Dua jam lagi aku harus terbang ke Jepang. Selama aku tidak ada, kamu bekerja dengan Piero," ucap Ganesha setibanya di ruang kerja.


Bukannya membiarkan istrinya pulang, Ganesha malah mengunci pintu dengan remote control serta menutup tirai jendela. Tentu saja hal itu membuat Shopia menjadi bingung dengan maksud suamiku. Namun, saat Ganesha menariknya dan membawa dia ke sofa, barulah dia mengerti kalau suaminya menginginkan hal lain.


"Aku akan pergi satu Minggu, dari itu kamu harus memberikan bekal padaku. Karena selama satu Minggu itu, kamu tidak memberikan hak-ku," bisik Ganesha dengan membuka satu per satu kancing kemeja istrinya.


"Mas, i-ini kantor. A-apa tidak sebaiknya kalau di rumah saja?"


"Tidak ada waktu, aku ingin menginginkanmu sekarang."


Mata Ganesha mulai menggelap saat melihat squisy kesayangannya yang menyembul. Dia langsung melahapnya seperti orang yang kelaparan tidak makan satu Minggu. Tangannya terus bergerilya menyentuh apapun yang ingin dia mainkan. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Ganesha pun segera menerobos lubang semut untuk mendapatkan kenikmatan. Sampai akhirnya keduanya terbuai dengan kenikmatan sesaat.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu ruangan Ganesha ada yang mengetuk dari luar. Untung saja Ganesha sudah mendapatkan pelepasannya. Hingga akhirnya dia melepaskan Shopia.


"Shopia, ayo ikut denganku!" ajak Ganesha dengan membawa istrinya ke kamar pribadi tempat dia beristirahat.

__ADS_1


"Mas, aku boleh pinjam kemeja kamu? Kancing kemeja aku ada yang lepas," tanya Shopia.


"Pakai saja dan setelahnya kamu buang. Aku tidak mau memakai baju yang bekas kamu pakai."


Kamu tuh lucu, Anez. Kamu tidak ingin memakai baju bekas yang aku pakai. Tapi kamu ingin menikmati tubuhku berkali-kali. Ternyata tubuhmu lebih jujur dari mulutmu. Kamu terus memungkiri aku, tapi tubuhmu sangat menginginkan aku. Sepertinya, aku harus mengumpulkan uang yang banyak untuk membeli rumah. Agar secepatnya bisa meninggalkan kamu. Baiklah Anez, mari kita mulai permainannya! batin Shopia.


Setelah Ganesha selesai membersihkan diri, dia pun bergegas kembali ke ruangannya dan meninggalkan Shopia. Ganesha langsung membuka pintu yang terus menerus diketuk dari luar. Dia sangat geram karena ternyata Wenny yang telah menganggu kesenangannya.


"Apa kamu tidak punya sopan santun? Terus-menerus mengetuk pintu? Kamu tahu, mengetuk pintu itu cukup tiga kali," sentak Ganesha.


"Maaf, Tuan. Tadi Tuan Galen datang ke sini. tapi karena menunggu Tuan lama, akhirnya beliau memutuskan untuk pulang." Wenny terlihat ketakutan mendapatkan kemarahan dari Ganesha.


"Ada apa? Kenapa marah-marah?" tanya Piero yang baru saja datang.


"Tidak apa, semakin hari dia bekerja semakin gak bener." Ganesha langsung kembali ke ruangannya yang diikuti oleh Piero.


Bersamaan dengan Shopia yang keluar dari kamar pribadi Ganesha. Piero hanya menatap dalam istri sahabatnya. Dia pun tersenyum hangat saat Shopia melihat ke arahnya dengan wajah yang terkejut.


"Mas, Aku pulang dulu," pamit Shopia.


"Hm ... Nanti aku tunggu di bandara saja. Waktunya sangat mepet kalau menunggu kamu di kantor," ucap Ganesha.


"Baik, Mas. Mari Mas Piero."


"Tidak usah ganjen kamu Shopia. Apa kamu lupa kalau Piero sahabat aku?" tuduh Ganesha saat Shopia tersenyum pada Piero.


"Jangan bilang kamu cemburu, Bro! Aku dan Shopia berteman baik dari sebelum kalian menikah."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2