Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 27 Kemarahan Prada


__ADS_3

Semburat jingga menghiasi langit ibu kota. Shopia mengucek matanya berkali-kali saat dia baru terbangun dari tidurnya. Tangannya terulur mengambil ponsel yang dia simpan di atas nakas.


"Sudah jam berapa? Perasaan, aku tidur lama sekali," gumam Shopia seraya membuka ponselnya.


Keningnya berkerut melihat ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Dia pun langsung membuka pesan yang masuk di aplikasi hijau. Namun saat membuka pesan itu, betapa hancurnya hati Shopia melihat pesan gambar yang diterimanya. Air matanya luruh seketika melihat Ganesha sedang tertidur bersama dengan Dora.


"Mungkin seperti ini perasaan Dora saat dulu melihatku bersama dengan Mas Anez. Mungkinkah ini karma bagiku? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus menyerah," gumam Shopia seraya terus melihat satu per satu gambar yang diterimanya.


"Tapi kenapa Mas Anez seperti tertidur pulas?" Shopia melihat waktu pesan itu dikirim. Dia merasa ada yang ganjil dengan pesan yang diterimanya.


Apalagi, saat dia teringat dengan pesan singkat yang dulu pernah Dora kirimkan padanya. Shopia semakin merasa ada yang tidak beres dengan foto-foto itu. Dia pun segera mencari nomor kontak Ganesha dan segera menghubunginya.


"Hallo, Mas. Lagi dimana?" tanya Shopia saat panggilan teleponnya sudah tersambung.


"Lagi di jalan mau ke rumah Mama," jawab Ganesha singkat.


"Aku lagi main di rumah Zara. Mungkin pulangnya agak malam. Boleh 'kan, Mas?"


"Iya! Aku tutup telponnya."


Klik


Ganesha langsung menutup panggilan telepon secara sepihak, membuat Shopia hanya bisa menarik napas dalam untuk menetralkan perasaannya. Dia pun segera bersiap untuk pulang ke rumah dan meminta penjelasan dari Ganesha.


Sementara jauh dari rumah Shopia. Hati Ganesha benar-benar tidak tenang dengan apa yang baru saja terjadi. Sungguh dia tidak habis pikir, kenapa sampai bisa berakhir di tempat tidur bersama dengan Dora. Padahal seingatnya, Dia hanya akan memberi gadis itu obat untuk sakit maag-nya.


Namun, saat melihat keadaan dirinya dan juga Dora yang terbangun tanpa busana. Ditambah lagi banyaknya bercak merak di leher dan dada Dora, membuat Anez antara percaya dan tidak kalau dia telah menodai Dora. Apalagi, dia tidak dapat mengelak dari bukti yang ada.


"Sial! Bagaimana kalau Papa tahu? Aku pasti akan kena murka Mama dan Papa. Baru saja aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Shopia, tapi malah terjadi hal sepertii ini," geram Ganesha dengan memukul stir mobil berkali-kali.


Saat tiba di rumah orang tuanya, Ganesha langsung disambut oleh sebuah tamparan dari mamanya. Wanita cantik itu sangat geram dengan apa yang dilihatnya. Dia mencoba menghubungi Ganesha berkali-kali, tetapi tidak diangkat juga. Saat Prada mengubungi Piero dan bertanya tentang keberadaan putranya, Dia diberitahu kalau Ganesha pergi bersama dengan Dora.


"Anez, Mama sangat kecewa sama kamu. Kenapa kamu melakukan hal seperti itu, hah? Apa tidak cukup hanya memiliki satu istri? Bukankah Papa baru saja menasehati kamu agar menghindar dari gadis itu, tapi kenapa kamu malah melakukan hal yang tidak pantas dengan Dora?"

__ADS_1


"Mah, aku juga tidak tahu kenapa bisa tidur bersama dengan Dora. Saat aku terbangun, kami sudah tertidur bersama," bela Ganesha.


"Bagaimana kamu sampai tidak sadar, tapi badan Dora merah-merah begini. Sungguh memalukan!"


Bugh! Bugh! Bugh!


Prada memukul putranya dengan bantal sofa yang ada di dekatnya. Dia sangat kesal melihat kelakuan Ganesha. Sampai saat Galen baru datang, barulah dia menghentikan pukulannya pada Ganesha.


"Papa, lihat kelakuan putra Papa! Dia sungguh sangat memalukan. Dulu Shopia sekarang Dora di tiduri juga," adu Prada dengn menunjukkan foto tidak senonoh Ganesha dengan Dora.


Galen langsung mengambil ponsel istrinya dan melihat dengan seksama foto itu. Dia pun mengembalikan ponsel Prada kembali dan berjalan ke arah Ganesha.


Plak! Plak!


Galen langsung menampar pipi putranya bolak balik sama saat dulu tahu kalau Ganesha sudah menodai Shopia. Dia sangat tidak membenarkan kesalahan yang sudah dilakuakn oleh Ganesha. Sementara laki-laki muda itu hanya meringis memegang pipinya. Sedikit pun dia tidak marah pada orang tuanya karena Ganesha sadar kalau dia memang salah.


"Kamu sangat mengecewakan, Papa! Sekarang apa yang akan kamu lakukan dengan apa yang terjadi?" tanya Galen dingin.


"Lalu bagaimana dengan Shopia? Kamu tidak akan bisa menikah dengan Dora tanpa persetujuan dari istri kamu," tanya Galen.


"Mama tidak setuju kamu menikah dengan Dora," tolak Prada langsung memalingkan mukanya.


"Aku juga bingung, Pah. Aku tidak mau melepaskan Shopia, tapi bagaimana dengan Dora? Karena aku yang sudah merenggut kesuciannya." Ganesha menjambak rambutnya sendiri. Dia benar-benar dibuat pusing dengan apa yang terjadi padanya.


"Kita ulur waktu saja, Papa akan menyelidikinya dulu."


"Maksud Papa? Aku berpura-pura akan bertanggung jawab sampai Papa mengumpulkan bukti?"


"Iya, kalau kamu memang benar sudah menodai gadis itu, mau tidak mau kamu harus bertanggung jawab. Bicarakan baik-baik dengan Shopia agar dia mengerti. Tapi kalau terbukti hanya sebuah jebakan, kamu bisa terbebas dari masalah."


Galen menghembuskan napasnya kasar. Dia bingung dengan putranya yang mudah sekali terperdaya oleh wanita. Padahal kalau disuruh mengurus bisnis, Ganesha bisa dia andalkan. Meskipun usianya masih terbilang muda.


"Pah, Papa harus menolong aku. Apapun yang terjadi, aku tidak mau kehilangan Shopia," mohon Ganesha.

__ADS_1


"Papa akan bantu kamu. Tapi selama proses penyelidikan, kamu tidak boleh terlalu dekat dengan Dora. Bukankah Papa sudah bilang kalau kamu harus menjaga jarak dengan dia?"


"Iya, Pah. Aku akan mengikuti apa yang Papa katakan."


Sepertinya Anez sudah benar-benar jatuh cinta pada istrinya. Tapi kenapa Dora harus kembali datang saat hubungan mereka sudah mulai membaik? batin Prada.


Setelah Ganesha mendengarkan semua nasehat dari orang tuanya, dia pun pulang ke rumahnya. Terlihat mobil Shopia sudah terparkir rapi di garasi. Ganesha pun langsung turun dari mobil dan mencari istrinya.


Ada sedikit ketakutan di hatinya, Ganesha takut kalau Shopia sudah mengetahui semuanya. Karena dia merasa bingung harus bicara apa pada istrinya.


"Mas, baru pulang?" tanya Shopia saat melihat Ganesha celingukan di kamarnya.


"Iya, kamu pulang jam berapa?"


"Aku juga baru sampai. Mas, bisa kita bicara?"


"Bicara soal apa?"


"Soal kita, sepertinya ada hal yang harus kita luruskan. Aku hanya ingin tahu, sebenarnya apa yang Mas inginkan?"


Degh!


Jantung Ganesha berdetak lebih kencang dari biasanya. Apa yang dia takutkan ternyata terjadi juga. Dia memejamkan matanya sesaat sebelum berbicara dengan Shopia.


"Shopia, kita bicara setelah makan malam. Sekarang Mas mau mandi dulu," ucap Ganesha.


"Baiklah! Aku akan menungggu di meja makan."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2