Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 113 Akal-akalan Jordan


__ADS_3

Sementara itu, selepas kepergian adiknya, Jordan langsung menuju ke ruangan Tiffany. Namun, dia tidak menemukan dokter cantik itu. Sepertinya Tiffany sengaja menghindar darinya. Jordan akhirnya kembali ke kantornya dengan kecewa. Namun, dia sudah benar-benar bertekad untuk mendapatkan kembali kekasih hatinya.


Sekarang kamu bisa menghindar dari aku Fanny, tapi nanti, kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa selain menerimanya, batin Jordan.


Sore harinya, sepulang kerja dia sengaja ke rumah Tiffany. Jordan tidak memarkir mobilnya di depan rumah gadis itu. Tetapi lumayan jauh dari rumah Tiffany. Agar gadis itu tidak pernah menyangka kala dia tahu rumahnya.


Bersyukur, semesta merestui usahanya untuk mendapatkan kekasih hatinya kembali, sehingga tanpa direncanakan sebelumnya hujan deras tiba-tiba mengguyur daerah situ. Jordan pun langsung berlari menuju ke rumah Tiffany. Berkali-kali dia menggedor pintu rumah gadis itu, sampai akhirnya pintu rumah itu ada yang membukanya dari dalam.


"Jordan!" seru Tiffany kaget melihat keadaan Jordan yang basah kuyup. Apalagi, laki-laki itu terlihat menggigil kedinginan.


"Tiffany, rumah kamu di sini? Tadi mobilku mogok, aku takut mendengar suara petir yang bersahutan sehingga berlari mencari tumpangan." Bohong Jordan.


"Ya sudah ayo masuk! Sebentar aku ambilkan dulu handuk!" Tiffany langsung menuju ke kamar mandi yang ada di belakang rumahnya. Dia mengambil handuk dan langsung kembali untuk menemui Jordan.


Sementara laki-laki tampan itu langsung membuka bajunya yang basah kuyup. Badannya memang kurang bersahabat dengan air hujan, sedari kecil Jordan akan mudah demam jika terkena air hujan.


"Jordan ini handuknya!" Tiffany memalingkan wajahnya melihat badan kekar mantan kekasihnya.


"Terima kasih. Fanny, bolehkan aku ikut ke kamar mandi, seluruh bajuku basah. Aku merasa tidak nyaman memakai baju yang basah," ucap Jordan.


"Kamar mandinya ada di belakang. Ayo ikut aku!" Tiffany langsung berlalu pergi menuju ke kamar mandi yang letaknya ada di dekat dapur. Diikuti oleh Jordan yang mengekornya dari belakang. "Kamar mandinya kecil, Jordan. Tidak seluas kamar mandi di rumah kamu."


"Tidak apa! Asalkan bersama dengan kamu, itu tidak jadi masalah." Jordan tersenyum manis sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi.


Berbanding terbalik dengan Tiffany yang merasa risih dengan sikap Jordan. Susah payah dia melupakan laki-laki itu, tapi saat dia sudah melabuhkan hatinya pada laki-laki lain. Jordan kembali hadir dalam kehidupannya. Bukan tanpa alasan dia ingin melupakan Jordan, tapi peringatan Nyonya Lucy saat menyerempet orang tuanya, membuat dia bertekad untuk benar-benar melupakan Jordan.


"Ayah, Ibu, semoga kalian tenang berada di sana," gumam Tiffany.

__ADS_1


Gadis itu meninggalkan Jordan begitu saja di belakang. Dia mencari baju bekas ayahnya yang masih tersimpan rapi di lemari. Meskipun bekas tapi bajunya masih bagus dan layak pakai.


Namun, saat dia akan memberikan baju itu pada Jordan, tiba-tiba saja terdengar suara petir yang memekikkan telinga. Membuat dia terperanjat kaget dan langsung memeluk Jordan erat. Sungguh Tiffany sangat ketakutan setiap kali hujan deras yang disertai suara petir yang menggelegar. Biasanya dia selalu bersembunyi di bawah selimut saat sedang sendiri di rumah.


"Fanny, aku antar ke kamar kamu," ajak Jordan seraya menggendong Tiffany seperti seekor kanguru.


Tiffany hanya menganggukkan kepala mengikuti apa yang Jordan katakan. Dia tidak bisa berpikir jernih dengan apa yang akan terjadi jika ada yang melihat posisi dia dengan Jordan seperti itu. Apalagi, laki-laki yang sedang menggendongnya hanya memakai sehelai handuk yang menutupi bagian pinggang hingga ke paha.


Perlahan Jordan menurunkan Tiffany ke atas tempat tidur. Namun, saat dia akan pergi, Tiffany segera menahan tangan laki-laki itu. Dia merasa takut melihat cahaya kilat dan suara petir yang menggelegar saling bersahutan.


"Jordan, jangan pergi! Temani aku!" pinta Tiffany.


"Apa itu baju untuk aku pakai?" tunjuk Jordan pada baju yang masih dipegang oleh gadis itu.


Tiffany hanya menganggukkan kepalanya dan memberikan baju mendiang ayahnya pada Jordan. Sampai akhirnya, Jordan pun berpakaian di depan gadis itu.


"Tidak apa!" Baru saja gadis itu selesai bicara, terdengar petir yang suaranya menggelegar sampai kaca dan dinding rumah gadis menjadi bergetar. Dia langsung menubruk Jordan yang belum selesai memakai celananya. Membuat laki-laki jadi melongo dengan apa yang Tiffany lakukan.


Sial! Kenapa dia menyentuhnya? Papa jangan salahkan aku jika tanam saham duluan pada calon menantumu, batin Jordan.


"Hm ... Fanny, aku belum selesai berpakaian. Apa aku tidak usah berpakaian saja?"


"Sorry aku tidak sengaja!" Tiffany langsung beranjak pergi dari tubuh Jordan yang sedang duduk di tepi ranjang.


Dia langsung membungkus tubuhnya dengan selimut untuk menutupi rasa malu dan takutnya. Andai saja tadi Jordan tidak datang, mungkin dia sudah bergelung di bawah selimut sedari tadi saat terdengar suara petir yang memekakkan telinga.


Selesai Jordan berpakaian, dia pun ikut bergabung di bawah selimut Tiffany. Dia langsung tertidur seraya memeluk gadis itu karena badannya sudah mulai terasa panas. Begitupun dengan kepalanya yang terasa berat. Akhirnya kedua insan itu tidur berpelukan hingga pagi menjelang.

__ADS_1


Tok ... Tok ... Tok ....


Terdengar suara ketukan pintu berkali-kali. Membuat tidur kedua insan itu menjadi terganggu. Tiffany pun perlahan membuka matanya. Namun, dia sangat terkejut merasakan hawa panas tubuh laki-laki itu.


"Pantas saja rasanya hangat sekali saat Jordan memeluk aku, ternyata dia sedang sakit," gumam Tiffany pelan.


Perlahan Tiffany melepaskan pelukan Jordan, gadis itu merapikan dulu penampilannya sebelum dia menemui tamu yang datang. Setelah dirasa sudah cukup rapi, barulah dia membukakan pintu. Namun, saat dia melihat siapa tamu yang datang, mendadak jantungnya seakan melompat keluar saat melihat laki-laki yang baru satu bulan ini menjadi pacarnya.


"Coki ...," panggil Tiffany.


"Kenapa lama sekali membuka pintu? Aku sudah ada lima belas menit menunggu kamu di luar. Lihat penampilan kamu juga masih berantakan. Bukankan kita mau berangkat ke rumah sakit bareng?" berondong Coki.


"Maaf Coki, tadi aku, aku bangun kesiangan. Aku terlalu pulas tidurnya karena semalam hujan petir," kilah Tiffany.


"Sudah cepat mandi sana! Aku kasih waktu lima belas menit untuk kamu bersiap," suruh Coki.


"Baiklah tunggu sebentar!" Tiffany langsung pergi menuju ke belakang untuk membersihkan dirinya, Setelah terlebih dahulu membawa baju gantinya.


Setelah kepergian Tiffany, Coki pun beranjak menuju ke kamar gadis itu. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya. Namun, baru saja dia membuka pintu kamar Tiffany, Coki sangat terkejut saat melihat ada seorang lelaki yang sedang tertidur pula di sana.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya Kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Shopia dan Anez update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2