
Hoek ... Hoek ... Hoek ....
Sudah lebih dari tiga kali, Shopia pulang pergi ke kamar mandi. Pagi sekali, dia terbangun karena asam lambungnya mendadak naik. Rasanya dia ingin memuntahkan sesuatu. Namun, hanya cairan putih yang keluar dari mulutnya. Hingga Shopia terduduk lemas di atas kloset dengan tangan yang memegang perutnya.
"Kenapa mual sekali. Seingat aku, tidak pernah memiliki riwayat penyakit maag. Apa karena sekarang aku banyak makan, jadi lambungku bermasalah?" gumam Shopia.
Wanita dengan surai hitam itu berjalan tertatih menuju ke tempat tidurnya. Diambilnya minyak kayu putih yang tadi dia simpan di atas nakas. Dia mengoles leher bagian depan dan belakangnya. Tidak lupa dada dan perutnya. Berharap rasa mual itu akan menghilang dengan sendirinya.
"Sebaiknya aku periksa ke dokter. Tapi aku mau tidur dulu untuk memulihkan tenagaku." Lagi-lagi Shopia berbicara sendiri. Karena memang, di rumahnya tidak ada siapa pun selain dirinya sendiri.
Baru saja Shopia akan terlelap, rasa mual itu kembali datang. Dia pun setengah berlari menuju ke kamar mandi. Lagi dan lagi, dia hanya memuntahkan cairan bening. Sedikit pun belum ada makanan yang masuk ke mulutnya.
Setelah puas mengeluarkan isi perutnya yang kosong dan rasa mual itu sedikit berkurang, Shopia pun memutuskan untuk membersihkan dirinya. Agar bisa secepatnya pergi ke dokter.
Shopia hanya tersenyum getir di bawah guyuran air shower. Lagi dan lagi, dia harus menikmati rasa sakitnya sendiri. Tanpa ada orang yang peduli padanya. Tanpa ada orang yang tahu, betapa tersiksanya dia, menahan rasa sakit itu seorang diri.
Tuhan, mungkinkan akan ada orang yang tulus mencintaiku dan menerima semua kekuranganku, batin Shopia
Selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi, Shopia pun bergegas pergi ke rumah sakit dengan memesan taksi online. Karena rasanya dia tidak sanggup jika harus membawa mobil sendiri.
"Bang, nanti mampir sebentar ke minimarket ya! Mau beli roti sama susu dulu," pinta Shopia.
"Baik, Mbak!" sahut supir taksi.
Tidak berapa lama kemudian, taksi pun berbelok ke sebuah minimarket. Shopia langsung keluar dari taksi saat supir taksi itu sudah mematikan mesin mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam minimarket dan langsung mengambil susu kotak serta roti sandwich kesukaan Ganesha.
Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna saat melihat kedua benda itu dalam genggaman tangannya. Shopia pun kembali masuk ke dalam taksi setelah dia membayar belanjaannya. Seperti orang kelaparan, Shopia langsung menghabiskan roti dan susu itu dalam sekejap.
__ADS_1
"Mbak, belum sarapan?" tanya Supir Taksi itu.
"Iya, Pak. Dari bangun tidur muntah terus, sampai badan rasanya lemas." Shopia memasukkan sampah makanannya ke tempat sampah kecil yang tersedia di dalam mobil.
"Apa Mbak sedang hamil? Biasanya kalau muntah-muntah di pagi hari sebagai tanda orang itu hamil."
Hamil? Mungkinkah benar aku hamil? Syukurlah, kalau memang benar aku hamil. Setidaknya aku tidak akan sendiri lagi. Karena akan ada anakku yang akan mengikuti aku ke mana pun aku pergi, batin Shopia.
Setelah memakan perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sakit internasional. Shopia langsung turun setelah dia membayar ongkos taksi. Dia pun segera mendaftar untuk periksa di poli umum. Namun, ternyata dokter merujuknya agar periksa di poli kandungan.
"Bu Shopia!" panggil seorang perawat.
"Iya, Mbak!" sahut Shopia seraya bangun dari duduknya. Dia mengikuti perawat itu masuk ke ruangan dokter kandungan.
"Silakan duduk!" suruh seorang dokter yang terlihat masih tampan, meskipun sudah tidak muda lagi.
"Terima kasih, Dok!"
"Sepertinya asam lambung saya sedang naik, Dok. Dari bangun tidur pengennya muntah terus, sampai badan rasanya lemas, kepala juga pusing," keluh Shopia.
"Menurut pemeriksaan dari dokter Ani, kemungkinan Bu Shopia hamil. Tapi kita tes dulu dengan tespek. Silakan ibu ambil sampel urine dan celupkan ujung sebelah sini ke dalam urine ya Bu. Nanti kita lihat bersama hasilnya," suruh Dokter Hendry.
"Baik, Dok!" sahut Shopia.
Shopia pun langsung menuju ke kamar mandi dengan membawa wadah untuk sampel urine. Setelah dia mengikuti seperti yang dikatakan oleh Dokter Hendry, Shopia pun segera kembai menemui dokter itu kembali.
"Selamat, Bu. Anda memang hamil," ucap Dokter Hendry setelah dia melihat dua garis merah pada tespek.
__ADS_1
"Terima kasih, Dok!" Shopia tersenyum bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh dokter. Dia jadi teringat dengan mimpinya saat Ganesha menyuruhnya untuk merawat seekor burung dengan baik.
Aku pasti akan menjaga dan merawat anak kita dengan baik, Mas. Meskipun kini kita tidak lagi bersama, batin Shopia.
Dokter pun memeriksa lebih lanjut keadaan Shopia untuk mengonfirmasi kehamilan dan mengetahui usia pastinya. Setelah semuanya selesai dan diketahui kalau usia kehamilan Shopia memasuki minggu ke tujuh, dia pun langsung berpamitan.
Shopia bergegas menuju ke apotek, untuk menebus resep vitamin yang diberikan oleh dokter. Namun, saat dia sedang menunggu giliran namanya dipanggil, Shopia dikejutkan oleh orang yang menepuk bahunya.
"Shopia, sedang apa kamu di sini?" tanya Dora yang tadi menepuk bahhu Shopia.
"Dora! Aku habis berobat, asam lambungku sedang naik," ucap Shopia yang tidak sepenuhnya berbohong.
"Oh, aku juga habis memeriksa keadaan anakku dan Kak Anez. Maaf ya, Shopia. Aku yang lebih dulu mengandung anak Kak Anez. Dari situ seharusnya kamu sadar, kalau Kak Anez tidak pernah bisa berhenti mencintaiku. Kamu hanya pelarian dia di saat aku tidak ada," sarkas Dora dengan tersenyum miring.
"Untung saja, kamu belum hamil. Jadi kamu masih bisa mencari laki-laki lain untuk memuaskan hasratmu atau kamu lebih suka menjadi maduku? Karena beberapa hari lagi, aku akan menikah dengan Kak Anez," lanjut Dora.
"Apa bisa kalian menikah, tanpa persetujuan dari istri pertama?"
"Kenapa harus bodoh, Shopia? Semuanya bisa dipalsukan, apalagi, hanya tanda tangan kamu yang tidak berarti itu," hina Dora
"Iya, aku lupa kalau kamu ratu palsu. Bahkan kebaikan kamu sama aku itu semua hanya kedok agar kamu bisa memperdaya aku. Karena kamu tahu kalau aku selalu tidak enak hati saat mendapatkan kebaikan dari orang."
"Syukurlah kalau kamu sudah tahu. Aku tidak perlu menjelaskan lagi. Salah kamu sendiri karena selalu mendapatkan nilai terbaik. Bahkan, saat kita sama-sama sudah kerja pun, kamu yang selalu dipuji karena kepiawaianmu. Aku benci karena kamu yang selalu mendapatkan perhatian dari mereka. Padahal, Aku yang lebih baik dari kamu."
"Kamu memang jauh lebih baik dari aku yang hanya orang pinggiran. Seharusnya, kamu bangga pada dirimu sendiri karena memiliki segalanya yang para gadis inginkan. Bukan sibuk menanam kebencian padaku."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift vote dan favorite....
...Terima kasih....