Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 60 Mochi


__ADS_3

Ruang tamu yang cukup luas itu nampak sunyi saat keempat laki-laki yang duduk berhadapan saling membungkam. Sampai akhirnya Tuan Jody membuka suara terlebih dahulu.


"Piero, apa benar kamu sudah memiliki kekasih dan sedang mengandung anakmu?" tanya Tuan Jody.


"Iya, Om." Piero menundukkan kepalanya memasang wajah penuh penyesalan.


"Sebenarnya Om kecewa sama kamu, kenapa tidak menolak perjodohan yang Om dan papa kamu rencanakan kalau memang kamu sudah memiliki kekasih." Jody menghela napasnya sejenak sebelum dia melanjutkan bicaranya. "Sebenarnya Om butuh seseorang yang bisa merubah sifat Eliza dan Om pikir, kamu orang yang tepat. Karen kalian sudah dekat sedari kecil. Tapi ternyata, kamu sudah memiliki kekasih."


Dulu aku memang pernah mencintai Eliza, tapi saat aku tahu kalau dia tergila-gila pada Anez. Sekuat hati, aku membuang perasaan itu, batin Piero.


"Maafkan aku, Om. Sudah mengecewakan Om. Aku harap Om mengerti, kalau seorang anak membutuhkan ayahnya. Begitupun dengan anakku yang masih ada dalam kandungan, dia sangat membutuhkan aku, Om."


Totalitas sekali Piero berakting, sepertinya dia mewarisi bakat mamanya, batin Ganesha.


"Iya, Om mengerti. Om akan bicarakan lagi dengan papamu, karena papamu tidak mau pertunangan kamu dan Eliza putus. Begitupun dengan Eliza, dia menolak membatalkan pertunangan kalian," ucap Tuan Jody.


Ada apa dengan Eliza? Kenapa di menolaknya? Aku tidak percaya kalau Eliza mulai menyukaiku.


"Iya, Om. Terima kasih pengertiannya," ucap Piero.


"Kalau begitu, Om pulang dulu. Anez sampaikan salam Om buat istrimu, ya!"


"Baik, Om!" sahut Ganesha.


Kenapa Shopia balik lagi, padahal aku masih ingin dekat dengan dia. Biarlah nanti aku kembali ke sini kalau aku merindukannya, batin Jordan.


...***...


Setelah kedatangannya tempo hari ke rumah Shopia, Jordan jadi sering mampir, hanya untuk membawakan makanan yang disukai mamanya untuk Shopia. Meskipun dia tidak tahu Shopia akan memakannya atau tidak. Akan tetapi, dia tetap saja membawa makanan yang dulu sering dia makan bersama dengan mamanya.


"Tuan, anda tidak perlu repot-repot membawa makanan setiap hari ke sini," ucap Shopia saat Jordan datang untuk yang ketiga kalinya.


"Saya tidak repot. Shopia, bolehkah jangan memanggil Tuan! Panggil saja Kakak! Biar sama dengan Anez," ujar Jordan.


"Baiklah, Kak. Kalau Kakak tidak keberatan," ucap Shopia.


"Tentu saja tidak. Saya senang mendengarnya, karena itu mengingatkan saya dengan adik saya,' ucap Jordan sendu.

__ADS_1


"Oh, memangnya adik Kakak ke mana?"


"Dia pergi bersama dengan mama saya karena ulah orang jahat."


"Apa mama dan adik kakak diculik?" tanya Shopia kaget.


"Sepertinya begitu, tapi udah dua puluh tahun, aku tidak menemukannya."


"Maaf, Kak kalau aku membuat Kakak sedih."


"Tidak apa Shopia. Oh, iya ayo dicicipi kuenya. Ini makanan kesukaan mama saya," ucap Jordan.


"Makasih ya Kak." Shopia pun mulai mencicipi kue mochi dengan isi kacang itu. Lidahnya menari-nari menikmati rasa kue yang memanjakan lidahnya.


"Enak sekali, Kak!"


"Apa kamu suka?"


"Iya, aku suka sekali."


"Aku akan membawakannya lagi untukmu ya!"


Bukan apa-apa, aku khawatir Mas Anez salah sangka karena Kak Jordan selalu datang ke sini saat Mas Anez sedang berada di kantor, batin Shopia.


"Tidak apa, Kakak tidak merasa direpotkan. Kalau begitu Kakak pulang dulu ya!" pamit Jordan.


"Iya, Kak. Terima kasih kuenya."


Selepas kepergian Jordan, Shopia membawa kue yang dibawa laki-laki itu ke dapur. Dia sedikit mengerutkan keningnya saat melihat Sania sepertinya sedang melamun seraya mencuci piring. Shopia sengaja berdiri di samping gadis itu, Namun, tetap saja Sania tidak menyadari kehadiran Shopia.


"Hm ... Sania airnya terbuang percuma loh!" tegur Shopia.


"Eh, maaf Mbak!" Sania.langsung gugup saat terciduk sedang melamun oleh majikannya.


"Kamu melamun apa? Sepertinya serius sekali, sampai tidak sadar kalau aku sudah ada di samping kamu," tanya Shopia.


"Maaf, Mbak. Aku-aku-aku sedang kepikiran ucapan Mas Piero. Katanya Minggu depan kami akan menikah. Aku kho bingung, aku kan hanya pura-pura jadi pacar dia. Aku hamil pun hanya pura-pura. Apa nanti juga aku hanya pura-pura jadi istrinya dia? Bukankah pernikahan itu bukan sebuah permainan? Aku takut berdosa kalau harus mempermainkan sebuah pernikahan," ungkap Sania.

__ADS_1


"Mungkin Mas Piero mau serius sama kamu. Hanya saja, dia tidak mengungkapkan perasaannya. Jadinya mengajak kamu berpura-pura pacaran, lalu berpura-pura hamil agar kalian menikah. Aku yakin, kalau Mas Piero bukan tipe laki-laki yang suka mempermainkan perasaan wanita. Selama aku mengenalnya, dia selalu baik memperlakukan seorang wanita," beber Shopia.


"Bahkan, saat dulu aku dijauhi oleh sahabat mereka dan dicemooh oleh orang itu, Mas Piero datang untuk menolong aku. Mungkin kamu juga tahu, bagaimana aku bisa menikah dengan Mas Anez. Waktu itu, hanya Mas Piero dan Zara yang percaya padaku," lanjutnya.


"Iya, sih Mbak. Aku sering mendengar orang-orang staf membicarakan Mbak. Tapi entah kenapa aku malah senang Bos Anez menikah dengan Mbak. Gak kebayang kalau jadi sama Mbak Dora, gayanya itu kaya putri raja selalu ingin dilayani."


Dora memang seperti itu. Tapi bagaimana kabarnya dia di dalam sel. Bukankah dia juga sedang hamil? Bagaimana keadaan kandungannya? batin Shopia.


"Sania, apa Mas Piero sudah menyiapkan gaun pengantinnya. Kalau belum, aku bisa mengantar kamu ke butik yang dulu jadi langganan Dora. Di sana gaunnya bagus-bagus," tawar Shopia.


"Aku tidak tahu, nanti aku tanyakan dulu sama Mas Piero."


"Ya sudah gak apa. Sania, aku ke kamar dulu ya! Mataku ngantuk sekali," pamit Shopia.


"Iya, Mbak."


"Oh, iya. Ini kue mochi. kamu bagi saja ya buat semua yang kerja di sini. Sisain satu ikat saja buat Mas Anez," pesan Shopia sebelum dia pergi ke kamarnya.


"Siap, Mbak.


Shopia pun langsung pergi ke kamarnya. Di masa kehamilannya, dia memang sering kali mengantuk. Apalagi saat sudah waktunya tidur siang, matanya pasti tidak bisa diajak kompromi. Shopia langsung terlelap saat badannya sudah berbaring di tempat tidur. Sampai hari sudah sore, dia masih berada di alam mimpi.


Kriet


Pintu kamar ada uang membukanya dari dalam. Terlihat Ganesha yang pulang kerja dengan wajah yang lesu. Dia merasa lelah setelah seharian memarahi karyawannya karena banyak kesalahan dalam laporan keuangan. Sehingga tidak balance dalam laporan laba-rugi.


Namun, rasa lelah itu mendadak sirna saat matanya menangkap wajah tenang istrinya. Perlahan Ganesha membungkukkan badannya dan mengecup singkat bibir Shopia. Membuat wanita hamil itu terbangun dari tidurnya.


"Mas, sudah pulang?" tanya Shopia dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Hm ... Apa anak Papa hari ini bersikap baik?"


"Anak kita baik, Mas." Shopia bangun dari tidurnya dan duduk di berhadapan dengan Ganesha. "Mas, kenapa terlihat lesu sekali?"


"Ada masalah di kantor. Mungkin, Mas akan memecat Eliza karena pekerjaannya berantakan."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya ya kawan. Boleh disawer pake vote, bunga, kopi atau yang lainnya. Tapi jangan sampai lupa untuk memberikan like dan comment saat selesai membaca, biar othor semakin semangat updatenya....


__ADS_2