
Wajah Tuan Jody mengeras, giginya gemelutuk dengan tangan yang terkepal kuat. Begitupun dengan Jordan wajahnya terlihat merah padam. Sorot matanya penuh dengan api amarah. Dia langsung berdiri dari duduknya, hendak pergi mencari Lucy untuk meminta pertanggung jawaban.
"Jangan gegabah! Keluarga Lucy bukan orang biasa. Kita tidak bisa terus terang menyerangnya. Karena persekutuan mereka tidak akan tinggal diam jika kita mengusik salah satu anggotanya," cegah Jody dengan menahan tangan putranya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus diam saja dengan semua kejahatannya?" tanya Jordan dengan nada tinggi.
"Kita cari tahu dulu di mana keberadaan mama kamu. Bi Ratmi, setelah dibawa pergi oleh Boy, apa yang terjadi?"
"Bibi hanya mengantar sampai di rumah sakit, Tuan. Karena Boy menyuruh Bibi untuk pulang kampung saja. Dia tidak mau kalau keselamatan Bibi terancam jika bersama dengannya dan Clara. Awalnya Bibi menolak, tapi Bibi teringat dengan cucu Bibi dikampung yang masih kecil, dia sudah ditinggal oleh ibunya setelah melahirkan, makanya Bibi akhirnya mengikuti apa yang Boy katakan, agar secepatnya pulang kampung," jelas Bi Surti.
"Shopia, saat bersama dengan om kamu, apa ada seorang wanita cantik yang memiliki tahi lalat di pipi kirinya?" tanya Tuan Jody.
"Tidak, Tuan. Saya hanya tinggal dengan ayah dan ibu. Tapi setelah Ayah meninggal karena kecelakaan, ibu mengajak saya untuk pindah kota dan meninggalkan saya di kota itu. Sementara ibu, pergi ke luar negeri bersama dengan suami barunya," tutur Shopia.
Kuncinya ada pada Boy, tapi dia sudah tiada. Apa mungkin Clara juga .... Tidak! Aku ingin Clara masih hidup bagaimanapun keadaannya, batin Jody.
__ADS_1
"Maaf Tuan, kenapa Anda terus bertanya tentang ayah. Memangnya Anda mengenal ayah saya?"
"Ayah kamu, ayah kamu itu, adik ipar aku Shopia," jawab Tuan Jordy dengan suara berat. Matanya tidak lepas dari wajah cantik Shopia yang sangat mirip dengan istrinya. "Sebenarnya, kamu bukan putri kandungnya, tetapi putri kandungku dan Clara."
Shopia langsung menutup mulutnya seraya terus menggelengkan kepalanya, merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Jody. Rasanya tidak mungkin, kalau dia anak orang kaya.
"Tuan, Anda jangan becanda! Tidak mungkin saya mendadak jadi putri Anda. Apalagi menjadi saudara Eliza. Dalam mimpi pun, aku tidak ingin memiliki saudara seperti Eliza," tolak Shopia.
"Memang sulit dipercaya, tapi itulah kenyataannya. Shopia, maafkan Papa karena tidak bisa menemukan kamu dengan cepat. Pergerakan Papa selalu diawasi oleh Lucy."
"Maaf, Om. Jangan memaksa Shopia untuk percaya. Saya tidak ingin dia tertekan karena masalah ini," timpal Ganesha.
"Baiklah! Maafkan Papa, Shopia! Papa akan pulang dulu."
Setelah berpamitan, ayah dan anak itu segera pulang dari rumah Ganesha. Mereka akan menyusun rencana untuk menjerat Lusi dan memberikan keadilan pada Clara. Meskipun sebenarnya mereka kecewa dengan penolakan Shopia, tetapi mereka pun bisa memaklumi dengan sikap Shopia.
__ADS_1
Selepas kepergian Tuhan Jody dan Jordan, Ganesha segera membawa Sophia ke kamarnya sedangkan Bi Ratmi istirahat di kamar Sania. Ganesha terus aja ngomong menggenggam tangan Sofia dia ingin menyalurkan energi positif ke dalam tubuh istrinya dan yang sangat dikhawatirkan, jika setiap banyak pikiran dan stress akan terpengaruh pada kandungannya.
"Sophia jangan terlalu dipikirkan dengan apa yang telah Om Jody katakan. Kamu lebih baik memikirkan kandungan kamu saja. Ingat kamu harus jaga kesehatan demi anak kita."
"Iya, Mas. Tapi kalau memang benar, takdir benar-benar mempermainkan aku. Dari kecil sudah mengalami hal yang tragis. Saat menikah pun karena hal yang tragis. Sungguh lucu hidup-ku.
"Shopia sudah, kasian anakku kalau kamu mengajaknya untuk berpikir keras. Tapi lebih baik aku melihat dulu keadaannya. Semoga saja tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi."
Ganesha semakin mendekatkan wajahnya. Hingga terasa hembusan napas Shopia yang hangat menerpa kulitnya. Semakin dekat, semakin dekat, hingga akhirnya keduanya larut dalam gairah yang memabukkan.
Ganesha sengaja mengajak Shopia bermain jungkat-jungkit di siang bolong. Agar istrinya tidak terus kepikiran dengan masalah keluarga kandungnya. Dia tidak mau Shopia tertekan hingga mempengaruhi kandungannya. Sampai hari menjelang sore, barulah keduanya tertidur setelah lelah bermain bersama.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....