
Selesai berbenah di rumah barunya, Shopia segera membersihkan diri karena hari sudah petang. Tidak lupa dia menyiapkan makan malam untuk suaminya. Meskipun dia sakit hati dengan semua sikap dan ucapan Ganesha, tetapi Shopia tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Bi Sari istirahat saja, sudah sore. Biar aku yang melanjutkan menyiapkan di meja makan," ucap Shopia.
"Tidak apa, Non. Biar Bibi saja. Ini tinggal sedikit lagi," tolak Bi Sari pembantu di rumah baru Shopia.
Tidak ingin berdebat dengan pembantunya, Shopia pun langsung membantu ibu paruh baya itu. Dia menyiapkan piring dan gelas di meja makan. Setelah semuanya siap, barulah di pergi ke ruang tengah untuk menonton televisi seraya menunggu kepulangan Ganesha dari kantor.
Hari semakin larut, waktu pun sudah menunjukkan angka sepuluh malam. Akan tetapi, Ganesha belum juga pulang. Shopia yang merasa sudah mengantuk, akhirnya memutuskan untuk tidur lebih dulu. Dia tidak tidur di kamar yang ada foto prewedding itu. Shopia memilih untuk tidur di kamar tamu.
Sampai saat jam sudah menunjukkan angka dua belas, barulah Ganesha pulang dengan mulut bau alkohol. Laki-laki itu masih belum bisa menerima, kekasih hatinya meninggalkan dia begitu saja. Meskipun sekarang sudah ada wanita lain di hidupnya, tetap saja Ganesha belum bisa merelakan kepergian Dora. Apalagi gadis itu menutup semua akses, sehingga Ganesha tidak tahu di mana keberadaannya.
"Ke mana wanita murahan itu? Kenapa dia tidak tidur di sini?" gumam Ganesha saat tidak menemukan Shopia di kamarnya.
"SHOPIA ... SHOPIA ... SHOPIA, DI MANA KAMU?" teriak Ganesha dengan suara uang menggelegar.
Tentu saja seisi rumah langsung terbangun dari tidurnya. Mereka kaget mendengar suara teriakan di tengah-tengah suasana malam yang sunyi. Tidak terkecuali dengan Shopia yang langsung berlari ke arah asal suara. Saat sudah tidak di kamar Ganesha, terlihat laki-laki itu sedang mengacak-acak seprai seperti sedang mencari sesuatu.
"Mas Anez, apa yang kamu cari?" tanya Shopia yang berdiri di belakang Ganesha.
"Oh, sudah ketemu. Ternyata kamu sembunyi di belakang aku," ucap Ganesha dengan membalikkan badan menghadap ke arah Shopia.
"Mas, baru pulang?" tanya Shopia lagi.
Grep
Lagi-lagi Ganesha mencengkeram rahang Shopia dengan keras. Dia sangat kesal karena tidak menemukan istrinya saat dia ingin melepaskan kekesalannya. Dia ingin membuat wanita itu tidak berdaya di bawah kungkungan-nya.
__ADS_1
"Kamu sembunyi di mana hah? Kamu jangan pernah berpikir bisa lari dari aku seperti Dora. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi begitu saja, sebelum kamu menebus semua kesalahan kamu karena telah menghancurkan pernikahan aku," sentak Ganesha.
"A-aku di-di ka-kamar tamu," jawab Shopia gagap.
Tanpa bicara lagi, Ganesha langsung menarik Shopia dan melemparkan istrinya ke kasur. Dengan satu gerakan, dia sudah berada di atas badan Shopia dan mengungkungnya. Dia langsung menyerang Shopia seperti seekor harimau yang kelaparan.
Mulutnya membungkam mulut Shopia, mencari sesuatu yang bisa membuatnya terbang melayang. Tidak hanya sampai di situ, tangannya segera melucuti semua pakaian membungkus tubuh istrinya. Dia benar-benar sudah tidak bisa menahan lagi. Libidonya yang sedang naik ditambah pengaruh alkohol, membuatnya seperti binatang buas yang sedang mencabik-cabik mangsanya.
Sementara Shopia hanya diam. Dia membiarkan Ganesha berbuat sesuka hati pada tubuhnya. Hal yang seharusnya dinikmati oleh pasangan suami istri, justru membuat Shopia menangis dalam diam. Hanya air matanya yang memaksa keluar, saat rasa perih itu kembali terasa. Shopia hanya bisa berharap, semoga besok Ganesha bisa memperlakukan dia lebih baik lagi.
Inikah jalanku, Tuhan. Hanya jadi istri sebagai pemuas hasrat, batin Shopia.
...***...
Keesokan harinya, Ganesha sudah siap dengan setelan jas mahalnya. Sepatu pantofel yang mengkilap dengan rambut yang sudah tersisir rapi. Sementara Shopia masih terbaring di tempat tidurnya. Membuat laki-laki tampan itu berniat untuk membangunkan istrinya.
Perlahan Shopia pun membuka mata, dia sempat terkejut saat melihat Ganesha sudah berpakaian rapi. Namun, saat bangun dari tidurnya, kepala Shopia terasa sangat berat. Dia pun memijat kepalanya pelan.
"Mas, aku cuti ya hari ini. Kepalaku pusing sekali. Kalau besok sudah mendingan, aku pasti masuk kerja," ucap Shopia.
"Beneran kamu sakit?" selidik Ganesha.
"Iya, Mas."
Laki-laki tampan itu mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu sakti berwarna gold. Dia lalu menyimpan kartu itu di telapak tangan Shopia sambil berkata, "Kamu ke dokter sendiri. Ini buat kebutuhan kamu, setiap bulan aku akan mentransfer uang ke situ. Pin-nya tanggal lahir Dora. Kamu tahu, kan?"
"Iya, aku tahu. Satu Desember," jawab Shopia dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
"Bagus! Aku berangkat kerja dulu," puji Ganesha dengan berlalu pergi.
Lagi dan lagi Shopia hanya menangis dalam hatinya. Bahkan kartu yang diberikan laki-laki itu memakai pin Dora. Istri mana yang tidak akan sakit hatinya jika pernikahannya tidak lepas dari bayang-bayang mantan kekasih suaminya. Meskipun benar mereka menikah bukan karena cinta.
Puaskan hatimu Anez untuk terus menyakiti aku. Sampai suatu hari nanti, kamu merasa menyesal telah menyia-nyiakan aku. Meskipun benar, kamu tidak mencintai aku. Tidak bisakah sedikit saja, kamu menghargai perasaan aku?
Saat Shopia sedang larut dalam lamunannya dengan air mata yang terus saja memaksanya keluar, terdengar suara pintu kamarnya ada yang membuka dari luar. Terlihat Bi Sari masuk dengan nampan di tangannya.
Wanita paruh baya itu segera menghampiri Shopia yang sedang sibuk menghapus air matanya dengan kasar. Bi Sari hanya diam tidak bersuara. Dia berpura-pura tidak melihat apa yang majikannya lakukan. Dia yakin hubungan Ganesha dan Shopia belum membaik setelah apa yang telah terjadi di antara keduanya.
"Non, buburnya dimakan dulu. Tadi Den Anez bilang kalau Non Shopia sedang sakit dan meminta Bibi untuk membawa bubur ke sini. Dia juga meminta Bibi untuk membawa obat sakit kepala. Apa perlu Bibi yang menyuapi?" Bi Sari menyimpan nampan di nakas lalu membawakan semangkuk bubur untuk sarapan nona mudanya.
"Makasih, Bi. Biar Shopia makan sendiri," ucap Shopia dengan memaksakan tersenyum.
"Iya, Non. Den Anez memang kadang kasar saat ada orang yang menyinggungnya. Tapi sebenarnya dia baik. Dia tidak pernah memulai jika tidak ada orang yang memulai duluan mengusiknya. Non yang sabar ya! Mungkin sekarang Den Anez masih butuh waktu untuk mengikhlaskan semuanya."
"Iya, Bi. Terima kasih," ucap Shopia pelan.
"Non sarapan saja, Bibi akan membereskan kamar ini. Sebentar lagi Dokter Lucky datang. Sepertinya tadi Den Anez menghubunginya, setelah memberi tahu Bibi kalau Non Shopia sakit."
Mungkinkah kamu seperti yang Bi Sari katakan. Tapi sampai kapan aku harus menerima semua sikap kasar kamu.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1