Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 95 Pesan Mama Prada


__ADS_3

Merasa risih karena Nike terus saja melihat ke arahnya, akhirnya Ganesha mengajak Shopia untuk pulang ke rumahnya. Meskipun mereka tinggal di rumah orang tua Ganesha, tetapi yang kerja di rumah mereka masih ada di sana. Sehingga rumah Shopia selalu terawat dengan baik.


"Piero, kita pulang dulu ya! Sepertinya El sudah ngantuk. Mah, malam ini aku mau tidur di rumahku saja. Nanti biar perawat yang membawa barang-barang El ke rumah," ucap Ganesha. Dia khawatir nanti Shopia cemburu lagi. Bisa-bisa gak dapat jatah nanti malam kalau sampai istrinya merajuk gara-gara gadis itu.


"Oh, ya sudah gak apa. Nanti Oma pasti kangen sama El. Jangan lama-lama nginapnya ya!" pinta Nyonya Prada.


"Mah, kita pulang ke rumah sendiri bukan menginap di tempat orang," ucap Ganesha dengan memutar bola matanya malas.


"Kak Anez, kenapa buru-buru? Belum juga kita mengobrol," ucap Nike dengan suara yang mendayu.


"Maaf Nike, aku gak punya waktu buat ngobrol. Ayo Shopia!" ajak Ganesha dengan menggendong putrinya.


"Mas Piero, Sania, pulang dulu ya! Nanti main lagi ke sini," ucap Shopia dengan tersenyum manis. "Mari Mah, Tante, Nike, aku duluan!"


"Iya, hati-hati ya!" pesan Nyonya Prada, sedangkan Nyonya Mary dan Nike hanya tersenyum ke arah Shopia.


Setelah kepergian Shopia dan Ganesha, Nike pun mulai berbicara yang membuat semua orang menjadi kaget mendengar apa yanng dikatakannya.


"Kak Piero, boleh gak kalau aku tinggal di sini?Sepertinya di sini lebih dekat dengan lokasi syuting. Aku sering pulang malam Kak. Kalau pulang ke rumah yang di sana kejauhan," tanya Nike dengan wajah yang memelas.


"Iya bener, lebih baik tinggal di sini saja. Kamu gak keberatan kan Sania, kalau Nike tinggal bersama dengan kakaknya?" tanya Nyonya Mary.


"Gak apa Nike kalau mau tinggal di sini. Papa juga tidak mungkin datang ke sini. Kalau pun kamu bertemu dengan Papa, sebaiknya kamu bersikap biasa saja. Agar Papa tidak curiga kalau kamu itu Vero. Nanti kalau Papa bertanya, Kakak akan bilang kalau kamu itu saudaranya Sania," ucap Piero langsung mengiyakan keinginan Nike tanpa bertanya pendapat istrinya terlebih dahulu.


Padahal kurang bagus kalau ada wanita lain dalam sebuah rumah tangga. Meskipun berstatus adik. Tapi kan mereka hanya saudara angkat. Tapi sudahlah, tidak mungkin kan kalau gadis itu berpikiran yang tidak-tidak, batin Nyonya Prada.


"Sania, nanti dibantu perawat kan? Untuk membantu merawat Neva?" tanya Nyonya Prada mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Mah! Mbak Mira sudagh merekomendasikan temannya yang berpengalaman merawat bayi," jawab Sania.

__ADS_1


"Iya lebih baik ada banyak orang di rumah kalau adik Piero mau tinggal di sini juga," ucap Nyonya Prada.


"Iya makasih, Mah. Sudah mencarikan yang kerja di sini juga. Nenek juga katanya mau ke sini, mau bantu-bantu merawat Neva."


"Itu lebih baik lagi. Agar kamu tidak terlalu lelah saat merawat bayi dan mengurus suami. Tapi Mama yakin, kalau Piero suami yang pengertian. Benar begitu, Piero? Jangan banyak menuntut pada istrimu ya!" Nyonya Prada menatap Piero bergantian dengan Sania.


"Iya, Mah. Aku ngerti kho!" sahut Piero.


"Satu lagi pesan Mama, ingat utamakan anak dan istrimu sebelum orang lain, karena mereka tanggung jawab kamu. Sementara orang lain, bukan tanggung jawab mutlak kamu. Kamu boleh membantu orang lain tapi jangan sampai mengesampingkan anak dan istrimu."


"Iya, Mah. Terima kasih sudah mengingatkan," ucap Piero.


"Jeng Prada tenang saja. Nike itu bukan orang lain tapi adiknya Piero," ucap Nyonya Mary yang merasa sedikit tersinggung dengan ucapan Nyonya Prada.


"Oh iya, tapi saya tidak bermaksud menyinggung Nike. Saya hanya mengingatkan Piero. Maaf Jeng kalau saya suka lupa. Karena saya selalu menganggap Piero seperti putra saya sendiri sama seperti Anez. Makanya, saya suka gatal kalau tidak memberi mereka nasihat. Mungkin saya terlalu khawatir pada mereka berdua," sesal Nyonya Prada.


"Iya tidak apa Jeng. Terima kasih sudah peduli dengan putra saya," ucap Nyonya Mary.


Setelah hari itu, benar saja Nike selalu pulang ke rumah Piero. Apalagi, dia sediakan kamar yang sangat nyaman. Membuat di menjadi betah menumpang di rumah Kakak angkatnya. Awalnya Sania biasa saja dengan sikap Nike. Tapi lama kelamaan, Nike selalu bertingkah seperti Nyonya rumah. Dia selalu seenaknya jika tidak ada Piero, membuat Sania menjadi gerah.


"Mas, apa tidak sebaiknya Nike pulang ke rumahnya saja. Dia selalu semaunya di sini. Kasian yang kerja selalu di marahin," adu Sania setelah Nike tinggal sebulan di rumahnya.


"Sania, Nike adikku. Kenapa kamu tidak suka sama dia. Memangnya dia salah apa sama kamu. Lagian dia tidak menyusahkan kita," ucap Piero dengan nada tidak suka mendengar apa yang istrinya katakan.


"Sudahlah! Terserah Mas saja." Sania berlalu pergi menuju ke teras rumahnya.


Dia sangat terkejut saat melihat Nike masuk ke rumah Shopia dengan berpakaian mini seperti itu. Apalagi, terlihat seperti berjalan sempoyongan. Sania pun bergegas masuk ke rumahnya untuk memberitahukan pada suaminya.


"Mas Piero, Nike sepertinya mabuk. Dia msuk ke rumah Mbak Shopia, bukan ke rumah kita," ucap Sania panik.

__ADS_1


"Apa katamu? Mabuk?" tanya Piero kaget.


"Iya, mas. Cepetan ke sana. Nanti dia bikin onar lagi," desak Sania.


"Ya sudah, kamu jagain Neva. Biar Mas yang ke sana," ucap Piero bergegas menuju ke rumah sahabatnya yang ada di seberang jalan rumahnya.


Benar saja apa yang Sania perkirakan. Terlihat Nike sedang memeluk Ganesha dengan mulut gadis itu yang terus meracau tidak karuan. Dia kekeh ingin memeluk Ganesha meskipun laki-laki itu berusaha untuk melepaskannya.


"Piero cepat lepaskan! Haish ... Sudah aku lepaskan juga peluk lagi peluk lagi," gerutu Ganesha. "Untung saja Shopia sedang membeli susu untuk El. Kalau dia lihat, bisa habis jatah malamku."


"Kakak, kenapa kalian semua ingkar janji. Bukankah kalian berjanji untuk selalu menjaga aku, tapi kenapa sekarang kalian sibuk sendiri. Kak Anez juga, sudah janji mau nikah sama aku, kenapa nikah dengan orang lain." racau Nike.


"Nike, nanti kamu juga akan bertemu dengan jodohmu. Bukankah kamu pacaran dengan Elgar?" tanya Piero seraya membantu melepaskan Nike dari Ganesha.


"Elgar? Hahaa ... Laki-laki itu hanya menjadikan aku mainannya. Aku seperti koleksi barbie baginya. Disayang sesaat lalu dicampakkan." Nike terlihat menangis terisak sebelum dia melanjutkan racauannya. "Aku tidak mau tahu, Kak Anez harus menikah denganku. Kakak harus penuhi janji Kakak."


"Piero bawa pulang adikmu! Aku pusing mendengarnya," suruh Ganesha.


"Anez, apa tidak bisa kamu mengikuti keinginan Nike. Karena kamu memang sudah berjanji untuk menikah dengannya," ucap Piero seraya memeluk Nike yang sedang menangis.


"Kamu jangan gila, Piero. Itu hanya ucapan anak kecil yang tidak berarti," sentak Ganesha.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift, dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Shopia dan Ganesha update, kuy mampir ke karya keren yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2