
Sepertinya rasa malas Ganesha menular pada Piero. Laki-laki tampan itu memilih untuk tidak kembali ke kantor. Karena dia yakin, pasti papanya akan menyuruh dia untuk membawa Eliza makan siang bersamanya.
"Piero, kenapa kamu belum kembali ke kantor?" tanya Ganesha saat dia menyadari mereka sudah terlalu lama mengobrol.
"Aku kerja di sini saja bersama kamu. Kalau tidak ada bos di kantor, rasanya malas," kelit Piero.
"Bukan sedang mendekati Sania, kan?" tebak Ganesha.
Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ....
Tiba-tiba saja, gadis yang sedang mereka bicarakan tersedak saat sedang minum. Shopia dengan sigap menepuk pundak gadis yang menjadi pengawalnya itu.
"Makasih, Mbak!" ujar Sania.
"Jangan buru-buru kalau minum. Apa benar, kalian sedang menjalin hubungan?" tanya Shopia.
"Kami memang menjalin hubungan, Mbak. Tapi sebagai atasan dan bawahan, hehehe ...." Sania cengengesan dengan ucapannya sendiri.
"Hubungan yang lain juga boleh kho. Kalau Mas Piero dan Sania sama-sama saling menyukai. Asal jangan saling memanfaatkan saja," ucap Shopia.
Belum juga aku memberi keputusan, udah tercium sama Mbak Shopia. Tapi imbalannya menggiurkan, kan lumayan buat aku kuliah, batin Sania.
Flashback on
Saat Shopia dan Ganesha baru saja berangkat, Piero datang ke rumah sahabatnya. Dia menanyakan keberadaan Ganesha. Sampai akhirnya, dia memutuskan menunggu Ganesha pulang.
"Mas, diminum tehnya!" Sania menyimpan secangkir teh manis dengan cemilan untuk menemani Piero menunggu Ganesha.
"Terima kasih. Kira-kira mereka berangkatnya sudah lama gak?" tanya Piero.
"Belum lama, Mas. Kalau ada hal yang penting, lebih baik disusul saja."
"Biarkan saja. Nanti Anez marah kalau aku mengganggu kesenangan dia," ucap Piero. "Lebih baik, kamu temani aku saja mengobrol."
"Boleh deh. Aku juga sedang tidak ada pekerjaan. Semuanya sudah beres." Sania pun mendudukkan bokongnya di kursi teras karena tadi Piero menolak untuk duduk di dalam.
"Sania, kamu butuh uang tidak?" tanya Piero.
"Butuh banget, Mas. Orang mati saja butuh uang. Apalagi aku yang masih sehat wal'afiat."
"Jadi pacar bohongan aku, mau? Nanti aku kasih kamu dua puluh juta untuk menjadi pacar bohongan aku. Tapi waktunya tidak ditentukan. Ya sampai rencana aku berhasil saja," tawar Piero. "Kalau rencananya berjalan sukses, nanti ada bonus tambahan, bagaimana?
"Maksud Mas Piero pacar bohongan itu bagaimana? Aku tidak mengerti. Tidak sampai melakukan hal yang tidak-tidak, kan?"
__ADS_1
"TIdak, kamu cukup berakting menjadi pacarku dan pura-pura hamil anakku."
"Apa?! Pura-pura hamil?! Bagaimana kalau orang lain pun mengira itu beneran. Bisa anjlok harga aku di pasaran," pekik Sania kaget.
"Gak Sania. Kamu pura-pura hamil hanya di depan keluargaku dan keluarga Eliza," ucap Piero.
"Bagiamana kalau Mbak Eliza malah jadi membenci aku?"
"Tidak akan, Eliza yang mengusulkan. Karena dia pun sama tidak bisa menentang rencana papanya."
"Aku pikirkan dulu ya, Mas. Soalnya itu masalah besar."
"Baiklah, aku kasih waktu satu hari. Siap tidak siap, besok kamu harus memberikan jawabannya."
"Okelah, Mas!" sahut Sania.
Flashback off
"Hei, Sania kenapa bengong? Aku tadi hanya bercanda. Maaf ya kalau candaan aku menyinggung kamu," ucap Shopia seraya menepuk paha Sania.
"Tidak kho, Mbak. Aku hanya teringat dengan nenekku. Minggu kemarin minta dikirim uang untuk membenarkan atap rumah karena gentingnya sudah banyak yang pecah jadinya bocor kalau hujan turun." Bohong Sania.
"Memangnya, kemarin tidak diberi hadiah oleh Piero saat kamu berhasil menyelamatkan istriku?" tanya Ganesha dengan menatap lekat Sania.
"Kalau istrimu merasa puas dengan hasil kerjamu, maka bulan ini kamu akan mendapatkan bonus," ucap Ganesha.
"Baik, Tuan. Terima kasih," ucap Sania.
"Piero, aku dan istriku mau istirahat dulu. Kamu pergi saja ke kantor, kalau tidak pergilah ke supermarket untuk berbelanja. Aku ingin makan buah kiwi sama belimbing wuluh," ucap Ganesha.
"Tidak salah, Tuan? Itu kan rasanya asam." Piero bicara dengan wajah heran.
"Tidak, cepatlah cari! Sebelum jam makan siang, kamu harus sudah mendapatkannya," suruh Ganesha.
"Baiklah! Ayo Sania, kita cari pesanan Tuan Ngidam!" ajak Piero dengan menarik tangan Sania.
Ganesha hanya tersenyum tipis melihat kepergian sahabatnya. Lalu dia pun beranjak pergi menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti baju.
Sementara Piero bersama dengan Sania saling terdiam di dalam mobil. Sampai akhirnya Piero mengajak gadis itu untuk mengobrol. Barulah Sania menanggapinya.
"Sania, kalau kamu butuh uang, aku bisa kasih DP dulu setengahnya, sisanya saat misi kita berhasil."
"Tapi, aku ingin waktunya ditentukan. Misal sebulan atau dua bulan gitu, Mas."
__ADS_1
"Ya sudah paling lama tiga bulan. Tidak akan lewat dari batas itu."
"Oke, deal. Cuma tiga bulan, tapi aku minta DP sekarang."
"Oke, kirim nomor rekening, nanti aku transfer uangnya."
Sania langsung membuka ponselnya dan mengirimkan nomor rekening lewat aplikasi hijau. Wajahnya sedikit berseri karena dia bisa mengirim uang untuk neneknya yang lumayan banyak. Tidak berapa lama kemudian, terdengar bunyi pesan masuk ke ponselnya. Senyumnya semakin merekah melihat nominal yang masuk ke rekeningnya.
"Makasih ya, Mas!" ujar Sania.
"Jangan berterima kasih dulu. Kamu harus ingat, tidak boleh ada yang tahu kalau kita pura-pura pacaran. Kalau Anez ataupun yang lain bertanya tentang hubungan kita, jangan bilang kita pacar bohong-bohongan. Tapi kamu harus bilang kalau kamu mencintai aku," pesan Piero.
"Mas, kenapa aku gak bilang kalau Mas yang mencintai aku."
"Kamu, kan udah menerima bayarannya, jadi tergantung pemakai jasamu dong! Bukan tergantung keinginan kamu," ucap Piero dengan melirik sekilas ke arah Sania.
"Iya, iya. Pacar bohongan aku," sarkas Sania dengan mencebikan bibirnya.
Piero hanya tersenyum tipis melihat apa yang gadis itu lakukan. Dia segera membelokkan mobilnya saat sudah sampai di depan Mall. Keduanya langsung turun setelah mobilnya terparkir dengan rapi.
"Ayo, Sania!" ajak Piero dengan mengulurkan tangannya pada Sania.
Gadis itu hanya tersenyum dengan memalingkan mukanya. Dia merasa lucu karena harus bermain pacar-pacaran dengan atasannya sendiri. Namun, tak urung dia pun menyambut uluran tangan Piero, sehingga mereka berjalan saling ber-genggaman tangan.
Ternyata seperti ini rasanya punya pacar. Meskipun hanya bohongan, batin Piero.
Saat sudah sampai di supermarket, Piero segera mengambil troli, sedangkan Sania mengikuti ke mana laki-laki itu pergi. Mereka terlihat seperti pasangan pengantin baru yang sedang berbelanja.
Berbagai macam cemilan mereka masukkan ke dalam troli, tidak ketinggalan pesanan Ganesha mereka beli dalam jumlah banyak. Agar mereka tidak perlu repot lagi saat Ganesha menginginkannya.
"Mas, trolinya sudah mau penuh. Apa masih ada yang harus dibeli?" tanya Sania.
"Sania, kamu ambil saja apa uang ingin kamu beli. Biar aku yang traktir," ucap Piero.
"Harganya agak mahal boleh tidak, Mas?" tanya Sania.
"Memangnya kamu mau beli apa? Tinggal ambil saja kalau kamu mau."
"Aku mau ponsel yang di etalase pas kita masuk ke supermarket."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....