
Ruangan serba putih yang biasanya sunyi sepi hanya Nyonya Lucy yang menempati, kini terlihat begitu banyak orang yang menemani wanita pesakitan itu. Tuan Jody dan Jordan datang memenuhi keinginan wanita itu, begitupun dengan Shopia yang datang bersama dengan Ganesha. Dia menitipkan putri kecilnya pada Nyonya Prada dan Sania.
"Terima kasih, kalian sudah datang ke sini. Jody, aku tahu kalau kesalahanku tidak akan bisa kalian maafkan. Sebelum aku pergi, aku ingin minta maaf pada kalian atas semua kesalahanku. Aku menyesal karena sudah serakah ingin memiliki kamu sendiri," ucap Nyonya Lucy.
"Sudahlah Lucy, kamu fokuskan saja pada kesehatan kamu. Aku sudah memaafkan kamu. Tapi aku tidak bisa kembali," ucap Tuan Jody.
"Aku juga sudah maafkan Mama, semoga Mama cepat sembuh," timpal Jordan.
"Terima kasih. Shopia, apa kamu tidak bisa memaafkan aku?" tanya Nyonya Lucy dengan menatap dalam Shopia yang berdiri di samping Ganesha.
Wanita cantik itu tidak bicara, dia hanya menghampiri Nyonya Lucy dan duduk berjongkok di depan bed rumah sakit tempat Nyonya Lucy berbaring.
"Nyonya, aku sudah ikhlaskan semua yang terjadi di masa lalu. Mungkin itu sudah menjadi takdir hidupku. Aku pun sudah memaafkan apa yang telah Nyonya lakukan padaku dan mama. Semoga kedepannya Nyonya bisa memperbaiki semuanya," ucap Shopia dengan menggenggam tangan Nyonya Lucy.
"Terima kasih atas kebaikan hatimu. Eliza sini, Nak!" pinta Nyonya Lucy. Shopia pun segera beranjak kembali ke samping suaminya
Eliza pun mendekat ke arah Nyonya Lucy yang mengulurkan tangannya. Gadis itu menggenggam tangan wanita yang sudah merawatnya sedari bayi itu. Tanpa dia tahu, kalau Nyonya Lucy bukanlah ibu kandungnya.
"Eliza, maafkan Mama! Mungkin Mama tidak bisa bersama kamu lagi. Hiduplah dengan baik bersama Papa dan saudara kamu. Shopia juga saudara kamu. Kalian jangan sampai berselisih hanya karena seorang lelaki. Saat kamu tidak bisa mendapatkan laki-laki yang kamu cintai, yakinlah Nak! Tuhan sudah menyiapkan seseorang untuk menjadi pendamping kamu dan akan mencintai kamu dengan tulus."
"Mama, aku tidak mau Mama pergi. Hanya Mama yang sayang sama aku," ucap Eliza dengan menahan rasa sesak di dadanya.
"Mama lelah Eliza. Mama ingin istirahat." Perlahan mata Nyonya Lucy menutup bersamaan dengan denyut nadinya yang semakin melemah.
"MAMAAA ...." Eliza menangis histeris mengiringi kepergian Nyonya Lucy untuk selamanya.
Sementara Tuan Jody hanya menengadahkan kepalanya ke atas untuk membendung air mata yang terus memaksa keluar. Meskipun memang benar wanita itu telah berbuat jahat pada keluarganya. Akan tetapi, dia tidak bisa memungkiri kalau Nyonya Eliza selalu setia di sampingnya. Terlepas dari sikap wanita itu yang selalu terlihat angkuh.
__ADS_1
Tidak lama kemudian tenaga medis berdatangan setelah Jordan menekan tombol panggilan. Mereka pun membiarkan tenaga medis untuk memeriksa keadaan Nyonya Lucy denan menunggunya di luar ruangan. Meskipun Jordan tidak pernah menyukai Eliza, tak urung dia mendekap gadis itu dan membawanya ke luar untuk menguatkan Eliza dalam menerima kenyataan.
"Tuan Jody, Kami turut bela sungkawa. Nyonya sudah pergi untuk selama-lamanya," ucap seorang dokter setelah memeriksa keadaan Nyonya Lucy.
...***...
Sementara di tempat lain, terlihat Sania meringis kesakitan. Namun, sebisa mungkin ibu hamil itu menahannya. Apalagi sekarang di sedang menjaga El karena Nyonya Prada langsung pergi ke rumah sakit saat dia tahu dari putranya kalau Nyonya Lucy telah tiada.
"Mbak Sania kenapa?" tanya perawat yang menjaga El.
"Perut aku sakit ya Mbak, dari tadi mules terus." Sania mengeluh dengan terus mengelus perutnya.
"Apa sudah waktunya melahirkan, Mbak?" tanya perawat itu.
"Sekarang sudah minggu ke tiga puluh delapan sih. Apa mungkin aku mau melahirkan ya?" tanya Sania lagi.
Setelah Bi Sumi datang, Sania pun segera diperiksa oleh perawat itu. "Mbak Sania, sudah pembukaan dua. Lebih baik kita ke rumah sakit saja."
"Sebentar aku menelpon Mas Piero dan Mbak Shopia dulu," ucap Shopia dengan mengambil ponselnya dan langsung menghubungi suaminya.
"Halo, Mas! Lagi di mana?" tanya Sania setelah panggilan teleponnya tersambung.
"Mas sedang di rumah duka. Ada apa?" tanya Piero di seberang sana.
"Mas, sepertinya aku mau melahirkan. Kata Mbak Perawat sudah pembukaan dua."
"Apa? Melahirkan? Tunggu, aku segera ke sana!"
__ADS_1
Piero langsung menutup ponselnya. Begitupun dengan Sania yang langsung menghubungi Shopia. Panggilan teleponnya langsung diangkat oleh wanita cantik itu.
"Halo Sania! Aku sedang dalam perjalanan ke rumah. Kamu minta siapkan barang-barangnya pada Bi Sumi."
"Iya, Mbak. Bi Sumi sedang mengambil tas ke apartemen. Dia mau langsung ke rumah sakit internasional saja."
"Oh, ya sudah gak apa. Sebentar lagi aku sampai kho."
"Iya, Mbak.Maaf merepotkan."
"Tidak Sania. Jangan bicara seperti itu! Justru aku yang sering merepotkan kamu. Aku tutup ya!"
Setelah Shopia menutup panggilan telepon dari Sania. Dia melirik ke arah suaminya yang sedang mengemudikan mobilnya. Sementara Piero duduk di belakang karena Ganesha tidak membiarkan sahabatnya membawa mobil sendiri dalam keadaan panik. Saat sudah sampai di rumah Keluarga Oenelon. Piero pun langsung membawa Sania masuk ke dalam mobil.
"Sania, semoga lahirannya lancar ya! Maaf tidak bisa menemani kamu di sana," ucap Shopia sebelum Sania pergi.
"Gak apa, Mbak! Minta do'a-nya saja agar lahiran aku lancar, selamat ibu dan bayinya." Sania memaksakan tersenyum meskipun perutnya sakit.
"Shopia, Mas mengantar mereka dulu. El Sayang, baik-baik di rumah dengan Mama ya!" ujar Ganesha sebelum dia pergi bersama dengan Piero.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Shopia dan Ganesha update, yuk kepoin karya keren yang satu ini.
__ADS_1