Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 76 Saksi Kunci


__ADS_3

Tidak berselang lama, Shopia dan Ganesha datang ke rumah itu. Mereka datang seperti seorang tamu. Padahal itu rumahnya sendiri.


"Shopia, kamar yang ada baju-baju kamu ditempati oleh Nike. Lalu semua baju yang ada di lemari di simpan di koper di lemari ibu," ucap Bu Kia saat Shopia sudah duduk di sofa.


"Oh, iya gak apa, Bu. Apa Ibu merasa nyaman tinggal di sini"


"Tentu saja! Louis juga merasa senang tinggal di sini," ucap Bu Kia.


Ibu dan anak itu larut dalam perbincangan. Sampai akhirnya Tuan Jody dan Jordan datang. Mereka pun akhirnya berbincang serius.


"Saya tidak akan basa-basi lagi. Saya datang ke sini ingin menanyakan soal Boy Martin. Apa kamu mengenalnya?" tanya Tuan Jody dengan menatap lekat Bu Kia.


"Boy, mendiang suami saya. Saya menikah dengannya, karena waktu itu Boy datang dengan seorang anak kecil yang sangat lucu. Saya merasa harus melindungi gadis kecil itu saat Boy menceritakan tentang nasib kakaknya yang tragis," ucap Bu Kia


"Bisa tolong ceritakan apa yang terjadi pada kakaknya Boy dan Boy sendiri!" pinta Tuan Jody penuh harap.


"Kejadian pastinya saya tidak tahu, tapi Boy bilang kalau kakaknya meninggal karena racun yang berbahaya. Beruntung keponakannya selamat dan nyawanya tertolong."


"Ja-jadi Mama ...."


"Clara ...."


Tuan Jody dan Jordan tidak dapat menahan air matanya. Ayah dan anak itu secepatnya menghapus air mata yang memaksa keluar. Pantas saja mereka tidak dapat menemukan keberadaan Clara, ternyata wanita yang sangat mereka cintai kini hanya tinggal nama.


"Tante, di mana Mama dimakamkan?" tanya Jordan dengan menahan sesak di dadanya.


"Di atas bukit, di halaman belakang rumahnya. Waktu dulu aku ke sana, makamnya ada ditengah-tengah rimbunnya bunga mawar. Yang sengaja Boy tanam untuk menutupi makam Kak Clara," jelas Bu Kia.


"Ibu, jadi benar kalau aku bukan putri Ibu? Kalau aku putri Tuan Jody dan Nyonya Clara," tanya Shopia dengan mata yang berkaca-kaca.


"Selamanya kamu tetap akan jadi putri Ibu. Meskipun di antara kita tidak ada hubungan darah." Bu Kia menatap lekat Shopia yang duduk di sampingnya. Dia menggenggam tangan Shopia erat.

__ADS_1


"Lalu kenapa Ibu tega meninggalkan aku bertahun-tahun lamanya? Bahkan memberi kabar pun Ibu tidak pernah," tanya Shopia. sebenarnya dia ingin bertanya hal itu sedari mereka awal bertemu kembali, tetapi Shopia tidak ingin merusak suasana bahagia pertemuan mereka.


"Maafkan Ibu! Ibu hanya tidak ingin, orang yang sudah menabrak ayahmu menemukan kita."


"Maksud kamu?" tanya Tuan Jody


"Sebenarnya mereka mengincar Shopia. Sebelum kecelakaan itu, Nyonya Lucy datang ingin membawa Shopia. Tapi aku dan Boy bersikukuh menolaknya. Sehari setelah kedatangannya, Shopia hampir tertabrak mobil yang ugal-ugalan, tapi Boy bisa menyelamatkannya. Namun, sayang nyawanya yang harus melayang." Bu Kia menghela napas dalam. Setiap kali dia mengingatnya, dadanya selalu terasa sesak. Karena dia harus ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya.


"Makanya saat aku tahu kalau ayahnya Zara akan pindah tugas, aku berpura-pura akan pergi ke luar negeri. Agar Shopia mau ikut dengan mereka. Meskipun aku merasa berat, tapi aku harus melepaskan Shopia karena Nyonya Lucy terus mengintai aku. Sampai akhirnya aku benar-benar bertemu dengan seorang bule dan menikah dengannya."


"Lucy benar-benar keterlaluan!" Wajah Tuan Jody terlihat mengeras dengan tangan yang terkepal kuat. Hatinya sangat marah, karena dia tidak bisa bertemu dengan kekasih hatinya.


"Tante, aku minta kerjasamanya. Tolong berikan kesaksian Tante di depan penegak hukum. Penjelasan Tante sudah aku rekam, aku akan melaporkan Nyonya Lucy dengan kasus pembunuhan berencana," tegas Jordan.


"Jordan, apa kamu sudah siap jika akan kehilangan segalanya?" tanya Tuan Jody dengan memegang pundak putranya.


"Aku sudah siap, Papa. Apapun yang terjadi, aku sudah siap untuk menghadapinya. Anez, kamu tolong jaga Shopia!" mohon Jordan.


"Baik, Kak! Kalau perlu bantuan, bilang saja padaku. Aku pasti membantu kalian agar kasus kematian Mama Mertuaku segera diusut," ucap Ganesha.


"Semuanya sudah terjadi. Kamu jangan takut karena aku dan yang lainnya pasti akan menjaga kamu. Ibu juga jangan khawatir, aku akan mengirim pengawal bayangan untuk menjaga Ibu di sini."


"Terima kasih. Aku pasti akan memberikan kesaksian tentang kematian Boy dan Kak Clara, seperti yang pernah Boy ceritakan."


Saat mereka sedang serius berembuk langkah apa yang akan diambil, tiba-tiba Nike datang bersama dengan Elgar. Rupanya dia baru saja pulang dari pemotretan.


"Nike sudah pulang?" tanya Bu Kia kaget saat melihat Nike berdiri di ambang pintu.


"Sudah. Mereka siapa?" tanya Nike dengan melihat ke arah Shopia dan yang lainnya.


"Nike, kenalkan ini putri Ibu yang sering ibu ceritakan. Shopia, ini Nike. Putri sambung Ibu," ucap Bu Kia.

__ADS_1


"Hai Nike, aku Shopia."


"Aku Nike. Loh, kita bertemu lagi di sini," ucap Nike dengan mendekati Ganesha.


"Itu suami Shopia, Nike. Dan Tuan ini, papanya Shopia, serta yang satunya kakak Shopia."


"Oh, salam kenal semuanya." Nike menyatukan kedua telapak tangannya dengan tersenyum manis pada orang-orang yang ada di sana.


"Hallo Nike, senang berkenalan denganmu. Aku Jody, papanya Shopia. Kalau begitu, kami permisi dulu Bu Kia," pamit Tuan Jody. Dia pun langsung pergi bersama dengan Jordan.


"Kami juga permisi, Bu. Lain kali kami ke sini lagi," ucap Ganesha ikut berpamitan.


"Kenapa terburu-buru? Apa kedatangan aku mengganggu?" tanya Nike.


"Tidak Nike. Mereka memang sudah lama berkunjung, mungkin ada keperluan lain," ucap Bu Kia.


"Benar, Nike. Maaf kalau kamu kurang berkenan. Lain kali aku akan main ke sini lagi," ucap Shopia.


Bukan kamu yang aku harapkan tapi suami kamu. Kenapa lelaki tampan selalu ada yang punya. Kalaupun tidak ada yang punya, mereka malah menjadikan para gadis sebagai mainannya seperti Elgar. Tapi tidak mengapa, yang penting dia mau memberikan apapun yang aku minta, batin Nike.


Setelah Shopia cukup berbasa-basi dengan ibunya, dia pun langsung pulang ke rumahnya karena Zara sedang tidak ada di rumah. Ibu hamil itu terlihat murung sepulang dari rumah Bu Kia. Pikirannya melayang entah ke mana.


Dia jadi teringat pada mimpi yang selalu datang setiap kali dia sakit panas. Shopia selalu bermimpi didatangi oleh wanita cantik yang tersenyum manis kepadanya. Wanita cantik itu tidak bicara apapun. Hanya mengelus lembut rambut dan mencium keningnya.


"Shopia, jangan melamun terus. Bagaimana kalau kita makan es krim. Mas sepertinya ingin makan es krim," ucap Ganesha yang sukses membuyarkan lamunan istrinya.


"Boleh, Mas. Kita mampir dulu ke kafe ya! Sepertinya aku juga ingin red velvet cake."


"Baiklah, kita mampir di kafe depan."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih...


__ADS_2