Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 67 Menonton apa ditonton?


__ADS_3

Suasana Mall terlihat ramai, meskipun masih di jam kerja. Ganesha terus saja merangkul pinggang istrinya seraya berjalan menuju ke bioskop. Membuat Shopia sedikit risih karena begitu banyak pasang mata yang melihat ke arahnya.


Berbeda dengan Piero yang hanya menggenggam tangan Sania. Setelah tadi pembicaraannya dengan Ganesha, dia jadi ingin mencoba seperti yang sahabatnya katakan. Mungkinkah benar setelah dia dan Sania saling menyerahkan diri, cinta akan datang begitu saja di hati mereka. Piero sangat ingin membuktikannya.


"Piero, apa sudah kamu booking?" tanya Ganesha saat akan memasuki pintu bioskop.


"Sudah, tadi aku sudah bicara dengan managernya. Kita langsung masuk saja ke studio tiga. Pasti sudah disiapkan oleh mereka," jawab Piero.


"Shopia, apa ada yang ingin kamu beli sebelum kita masuk?" tanya Ganesha pada istrinya.


"Aku ingin es krim yang ada di sana. Tapi Mas Anez yang beli. Aku tunggu di dalam dengan Sania," pinta Shopia.


"Baiklah! Aku ke sana dulu. Piero, kamu jaga istriku!"


"Siap, Bos!"


Mereka pun akhirnya berpisah. Ganesha ke stand es krim yang tidak jauh dari pintu bioskop, sedangkan Shopia dan yang lainnya masuk dan menunggu di dalam. Setelah Ganesha datang, barulah mereka masuk ke studio yang sudah Piero booking.


"Mas, kenapa harus booking segala? Jadinya sepi begini," tanya Shopia dengan melihat ke sekeliling ruangan.


"Agar tidak ada yang mengintip saat kita menonton. Mas merasa kurang suka kalau terlalu banyak orang," jelas Ganesha.


Tidak lama kemudian film bergenre romantis pun diputar. Tapi sepertinya, Ganesha datang ke sana bukan untuk menonton, karena tangannya sibuk menelusup masuk ke dalam baju Shopia. Tentu saja ibu hamil itu merasa kegelian dengan apa yang suaminya lakukan.


"Mas, tangannya jangan nakal!" tegur Shopia saat tangan Anez memainkan bukit kembarnya.


"Gak, Shopia. Mas hanya khawatir kalau kamu kedinginan karena AC-nya terlalu dingin," kilah Ganesha.


"Mas, pintar sekali ngelesnya. Udah kayak bajaj saja," cibir Shopia.


Namun, bukan Ganesha jika dia hanya menurut begitu saja. Tangannya terus saja bergerak bebas di sekitar area sensitif Shopia. Tentu saja hal itu mengundang pertanyaan bagi Piero dan Sania yang duduk di belakang mereka.

__ADS_1


Untung saja Piero langsung mengerti dengan gelagat sahabatnya. Dia menutup mata Sania saat Anez akan mencium istrinya. Namun, tangan Sania langsung menurunkan tangan Piero karena suaminya itu menghalangi dia menonton film.


"Mas, apa-apaan sih? Aku lagi nonton," tanya Sania dengan nada kesal.


"Jangan lihat! Nanti kamu pengen," ucap Piero ambigu.


"Pengen apaan?" tanya Sania tidak mengerti. Dia menengokkan kepala melihat ke arah Piero.


Bersamaan dengan Piero yang juga melihat ke arah gadis itu. Membuat jantung keduanya mendadak berdegup kencang. Saat Merasa hembusan napas yang terasa hangat menerpa wajah mereka.


Sania diam terpaku melihat sorot mata Piero yang juga sedang melihatnya. Dia tidak menyadari saat suaminya sudah semakin mendekatkan wajah ke arahnya. Sampai dia merasakan benda kenyal yang terasa dingin itu menempel di bibirnya, barulah matanya melotot sempurna.


Dia ingin melepaskan diri, tetapi Piero sudah semakin memperdalam ciumannya. Meskipun masih terasa kaku, tetapi laki-laki itu sangat menikmati apa tang dilakukan dengan Sania. Apalagi istrinya hanya diam tidak memberontak. Membiarkannya mengeksplor seluruh rongga mulut Sania.


Keduanya sama-sama terhanyut dengan naluri yang menuntun mereka. Sampai suara decapan itu terdengar ke telinga Shopia yang sedang sibuk mengamankan tangan Ganesha yang terus saja memainkan bukit kembarnya. Keduanya jadi terbengong melihat Piero dan Sania yang terlihat begitu menikmati ciuman mereka.


"Kita pulang saja yuk!" bisik Ganesha.


"Ayo, biar gak ganggu mereka." Shopia berbisik balik pada Shopia.


Dia segera berdiri dari duduknya dan menarik tangan Shopia agar keluar dari studio. Ganesha tidak langsung pulang ke rumah tapi dia ke hotel yang menyatu dengan mall itu. Sungguh Ganesha sudah tidak bisa menahannya lagi. Hingga sampai di kamar hotel dia langsung menyerang Shopia.


"Mas, kenapa ke sini?"


"Pulang ke rumah kejauhan, di sini pun kita bisa melakukannya. Kita menginap di sini ya!" ajak Ganesha dengan napas yang memburu.


Dia melanjutkan aksinya untuk menikmati setiap inci tubuh istrinya. Sementara Shopia hanya bisa pasrah membiarkan Ganesha melakukan sesuka hatinya. Pada akhirnya, mereka pun sama-sama terhanyut di tengah hari yang panas terik.


Berbeda dengan Piero dan Sania. Pasangan suami-isteri istri itu terlihat malu-malu saat mereka sama-sama saling melepaskan diri. Namun, Piero segera menetralkan perasaannya. Dia menggenggam kedua tangan Sania seraya melihat wajah manis istrinya.


"Sania, ayo lakukan seperti apa yang suami istri biasanya lakukan. Bukankah kamu juga sudah bisa menerima aku?"

__ADS_1


Sania hanya menganggukkan kepalanya. Jantungnya masih berirama tidak beraturan. Saat sudut matanya melihat ke kursi depan dan tidak mendapati Shopia di sana, seketika Sania melepaskan pegangan tangan Piero.


"Sania kenapa?" tanya Piero kaget.


"Mbak Shopia, Mas. Mereka tidak ada di tempatnya," tunjuk Sania.


"Mungkin mereka sudah pulang duluan. Sebentar, aku hubungi dulu Anez!" Piero mengambil ponselnya. Dia melihat pesan yang Ganesha kirimkan kepadanya.


Bro Anez : [Piero, aku pergi duluan. Nikmati harimu bersama dengan Sania. Ingat! Cepat dapatkan dia seutuhnya agar hubungan kalian jadi lebih baik.]


Piero hanya tersenyum membaca pesan dari sahabatnya. Matanya melirik Sania yang sedang serius melihat ke arahnya. Dia pun memasukkan kembali ponselnya seraya berdiri dari duduknya.


"Anez dan Shopia sudah pulang lebih dulu. Masih mau lanjut nonton. Apa kita makan saja?"


"Makan saja, Mas. Filmnya juga sebentar lagi udahan."


"Ya udah yuk!"


Keduanya pun pergi bersama mencari restoran yang sekiranya bersahabat di lidah mereka. Saat sudah sampai di restoran yang dituju, tanpa sengaja mereka bertemu dengan seorang laki-laki yang sudah Piero kenal baik.


"Gak nyangka bisa ketemu di sini. Daniel, lihat istrinya Piero! Kampungan sekali, 'kan?" Eliza tersenyum sinis melihat ke arah Sania.


"Iya, kamu benar. Aku gak nyangka cowok keren yang dulu selalu dieluk-elukan sama anak perempuan di sekolah kita, seleranya bisa serendah ini. Sorry, Bro, kalau aku terlalu jujur," ucap Daniel dengan menepuk pundak Piero.


"Tidak apa, Daniel. Aku memang tidak mencari cewek cantik yang berhati busuk. Aku mencari cewek yang memiliki inner beauty. Karena kecantikan wajah bisa di make over sama make-up tapi kecantikan hati tidak bisa di rubah semudah itu selain mendapatkan hidayah."


"Apa maksud kamu, Piero? Apa kamu sedang menyindir aku?"


"Tidak! Aku hanya sedang memberikan penjelasan pada kalian, kenapa aku memilih Sania sebagai istriku."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Jangan lupa saweran vote-nya ya Kak, biar tambah semangat update-nya....


...Terima kasih....


__ADS_2