Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 30 Mimpi Shopia


__ADS_3

Matahari bersinar tepat di atas kepala. Shopia terlihat sedang menonton drama dari negeri ginseng di rumahnya. Terlihat satu mangkuk besar salad buah di pangkuannya. Hari ini, dia ingin menghabiskan hari dengan menonton televisi.


"Ternyata begini rasanya jadi pengangguran. Untuk sehari dua hari mungkin tidak masalah aku malas-malasan. Tapi setelah dua hari, aku harus kerja keras lagi mencari pekerjaan. Sebenarnya, aku ingin ke luar kota. Menikmati hawa pegunungan yang sejuk dengan airnya yang jernih. Tapi sayang, aku tidak memiliki keluarga yang tinggal di pegunungan. Keluarga satu-satunya pun entah dimana." Shopia menghembuskan napasnya kasar saat mengingat ibunya.


Ditambah lagi, saat dia teringat dengan Ganesha, membuat dadanya semakin sesak. Ingin rasanya dia menangis menjerit, meratapi kemalangan hidupnya. Tapi rasanya percuma, karena semua itu tidak akan merubah semuanya. Dia hanya bisa membujuk hatinya agar mau berdamai dengan keadaan.


"Sudahlah, lebih baik aku nonton saja," gumam Shopia melanjutkan menonton televisinya.


Sampai terdengar suara bel rumah ada yang menekannya, barulah dia beranjak pergi membukakan pintu. Terlihat Abang Go Food yang membawakan pesanan makanannya


"Dengan Mbak Shopia?" tanya Abang Go Food.


"Iya, Mas. Saya sendiri," jawab Shopia.


"Ini pesanannya, Mbak. Silakan tanda tangan di sini."


Shopia pun melakukan apa yang disuruh oleh abang pengantar makanan. Setelah cukup berbasa-basi dan membayar pesanan makanannya, Shopia pun segera menikmati pesanan makanannya. Entahlah, kabur dari rumah Ganesha membuat napsu makannya menjadi bertambah.


Sesudah menghabiskan semua makanannya, kini mata wanita cantik itu mulai meredup. Sampai tanpa terasa, dia tertidur di sofa.


"Shopia bangun! Lihat aku bawa apa?" Ganesha membelai lembut rambut istrinya.


"Mas Anez, dapat burung dari siapa?"


"Kakek. Apa kamu tidak ingin mengelusnya? Tolong rawat dengan baik!."


Seketika Shopia terbangun dari tidurnya. Dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Ganesha. Namun, sepertinya dia tidak menemukan siapa-siapa di sana. Hanya terdengar suara bunyi jam yang berdetak.


"Mas Anez, apa tadi aku bermimpi? Kenapa seperti sangat nyata?" gumam Shopia.


Tidak ingin larut memikirkan mimpinya, Shopia memilih untuk membersihkan diri karena hari sudah menjelang. Dia berencana untuk menemui Zara di rumahnya. Shopia ingin tahu apa yang terjadi pada Ganesha saat dia pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara sepeda motor Zara. Shopia pun berlari kecil menuju ke rumah sahabatnya. Dia tersenyum ramah pada pekerja di rumah Zara yang tersenyum ramah menyapanya.


"Wow! Sepertinya segar sekali hari ini," goda Zara saat melihat Shopia datang menghampiri.


"Iya dong. Kamu kan tahu, sekarang aku jadi pengangguran. Jadi lebih baik mengisi waktu dengan merawat diri," ucap Shopia.


"Nah gitu dong. Jangan menangisi terus orang yang tidak menghargai kita. Lebih baik menata kembali masa depan agar lebih baik," ucap Zara, "Ayo masuk! Tadi aku beli donat madu di jalan," lanjutnya.


"Makasih, Zara. Kamu tahu saja kalau aku lagi lapar," ucap Shopia dengan tersenyum tipis.


Meskipun dia sedang tidak baik-baik saja, sebisa mungkin Shopia tidak memperlihatkannya pada orang lain. Dia pun berusaha untuk bersikap biasa di depan sahabatnya.


"Tadi suami kamu cariin, aku bilang saja kamu aman bersamaku," ucap Zara saat mereka sedang menikmati donat madu.


"Kenapa bilang aku lagi sama kamu. Kalau dia mengikuti kamu bagaimana?"


"Astaga! Kenapa aku tidak berpikir ke sana? Shopia maafkan aku! Tapi kayaknya, foto-foto itu memang rancangan Dora. Tuan Anez tidak mengakui kalau dia pernah melakukan hal yang di luar batas dengan Dora."


"Shopia, apa kamu tidak meninggalkan pesan apa pun pada Tuan Anez?"


"Tidak, aku hanya berpamitan pada Bi Sari saja."


"Apa kamu yakin untuk benar-benar pergi dari Tuan Anez?"


"Aku harus yakin. Aku lelah Zara. Dari awal nikah, aku memang tidak memiliki arti penting buat Anez. Anggap saja, aku pergi sebagai tanda kontrak pernikahan aku berakhir dengannya."


"Maksud kamu?"


"Setelah pesta pernikahan aku dan Mas Anez selesai, aku membuat kesepakatan dengannya." Shopia pun mulai menjelaskan tentang kontrak pernikahan yang Ganesha dan dia sepakati. Zara pun dengan serius mendengarkan penuturan dari sahabatnya. Dia tidak pernah menyangka, Ganesha berbuat seperti itu pada sahabatnya.


"Gila! Sampai segitunya dia sama kamu. Udah Shopia, kamu harus jual mahal dulu kalau nanti dia menemukan kamu. Haish! Aku jadi gak ikhlas kalau kamu sampai balikan lagi sama dia," gerutu Zara.

__ADS_1


"Apa dia pernah kasar sama kamu seperti suaminya Dedek? Kalau sampai dia pernah membanting, memukul atau mencekik kamu, aku tidak akan pernah setuju kalau kamu balikan lagi sama dia. Kayak cowok cakep, tajir hanya dia saja. Padahal Masa Piero juga sepertinya suka sama kamu," lanjutnya.


"Tidak Zara. Mas Anez tidak pernah kasar secara fisik seperti suaminya Dedek. Dia hanya bersikap ketus seperti di kantor saja. Kalau Mas Piero memang baik. Dia seperti seorang kakak bagiku. Yang selalu datang untuk menolong aku," ucap Shopia.


"Yang semalam mengantar kamu ke sini, itu Mas Piero?" tanya Zara dengan menatap lekat sahabatnya.


"Iya, mobil aku di bengkel. Gak tahu kenapa, tiba-tiba mobil aku bocor."


"Apa Mas Piero tahu kalau kamu kabur?"


"Tahu, aku sudah menceritakan semuanya sama dia. Sama persis dengan apa yang aku ceritakan sama kamu. Dia janji tidak akan memberitahu Mas Anez dimana keberadaan aku."


"Baguslah kalau begitu. Tapi Shopia, kalau bukan anaknya Mas Anez lalu anak siapa yang ada dalam kandungan Dora?"


"Aku tidak tahu, Zara. Jangan bertanya padaku!"


"Hahaha ... Aku lupa kalau kamu pun tidak tahu. Malam ini kamu tidur saja di sini. Sebentar lagi aku menikah. Nanti aku tidak punya kesempatan lagi untuk bisa menikmati kebersamaan kita."


"Baiklah! Semoga pernikahan kamu nanti berjalan lancar dan berjodoh hingga ajal menjemput."


"Aamiin."


Kedua sahabat itu begitu asyik menikmati kebersamaan mereka. Saat bersama dengan Zara, sedikitnya Shopia bisa melupakan kesedihan hatinya. Zara memang selalu bisa menghidupkan suasana saat mereka sedang bersama.


Sangat berbeda dengan seorang pria tampan yang terlihat gelisah di tempat tidurnya. Ganesha terus saja berguling ke sana ke mari. Sedari tadi dia tidak bisa memejamkan matanya. Wajah Shopia terus saja menari-nari di pelupuk matanya.


"Shopia kamu dimana? Kenapa tega sekali membuat aku tersiksa seperti ini? Shopia pulanglah! Aku sangat merindukan kamu. Apa kamu tidak merindukan aku? Bukankah kamu mencintai aku? Tapi kenapa malah meninggalkan aku. Sekarang bukti sudah berada di tanganku. Tinggal satu bukti lagi, aku sudah bisa menjerat Dora ke ranah hukum."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like Comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2