
Ruangan yang serba putih menjadi saksi betapa seriusnya Piero menguping pembicaraan Zara dan Shopia. Dengan headset di kepalanya, dia nampak serius menjadi seorang pendengar. Tak lupa, tangannya terus bergerak untuk mencari titik koordinat Shopia lewat nomor ponselnya yang sedang aktif. Sampai akhirnya, dia kegirangan sendiri.
"Jackpot!!!" seru Piero dengan mengepalkan tangannya ke udara.
Dia sangat senang saat sudah menemukan titik koordinat, dimana Shopia berada. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin menjemput istri sahabatnya. Karena dia yakin, Ganesha pasti cepat sembuh saat sudah bertemu dengan Shopia.
"Piero, ada apa?" tanya Ganesha yang terbangun mendengar suara pekikan sahabatnya.
"Anez, aku sudah menemukan Shopia. Rupanya dia pergi jauh dari ibu kota. Kita membutuhkan waktu enam jam agar bisa sampai ke sana. Kamu tenang saja, besok aku akan menjemputnya dan membawa dia ke hadapan kamu."
"Jangan! Kamu tidak usah menjemputnya," cegah Ganesha.
"Maksud kamu?" Piero mengerutkan keningnya merasa heran dengan sahabatnya.
"Aku sendiri yang akan menjemputnya. Besok aku akan ke sana," ucap Ganesha dengan nada yang masih lemah.
"Tapi keadaan kamu belum membaik. Kamu harus sehat dulu agar bisa menjemput Shopia."
"Aku baik, aku sudah tidak sabar ingin melihatnya kembali."
Bagaimana ini, dia pasti kerasa kepala ingin pergi secepatnya, padahal badannya masih lemah begitu, batin Piero.
"Anez, bagaimana kalau kamu pulihkan dulu kesehatan kamu. Memangnya kamu ingin Shopia melihat kamu dalam keadaan lemah seperti ini? Soal Shopia, aku akan mengirim orang untuk memantau pergerakan dia. Kalau perlu, aku akan mengirim penyusup ke sana agar bisa menjaga Shopia."
"Aku tidak suka ada laki-laki lain yang memperhatikan dia dengan seksama. Kalau kamu mau mengirim orang ke sana, kamu harus kirim perempuan. Agar lebih leluasa saat menjaga dan mendekati Shopia."
"Baiklah, besok aku akan mengirim penyusup perempuan ke sana."
"Piero, apa aku bisa melihatnya? Aku sangat merindukan dia. Apa keadaan dia dan anakku baik-baik saja?" tanya Ganesha.
__ADS_1
"Mereka baik, tapi ada tetangga rumahnya yang seorang duda mendekati Shopia. Sepertinya laki-laki itu tertarik pada istrimu." Bohong Piero sengaja mengompori Ganesha.
"Apa kamu bilang?" Wajah yang tadinya pucat mendadak merah padam mendengar apa yang Piero katakan.
"Makanya kamu cepat sembuh. Rebut kembali hati Shopia. Jangan sampai ada laki-laki lain yang mendahuluinya. Apalagi, hati Shopia sekarang sedang tidak baik-baik saja. Pasti kehadiran orang baru dalam hidupnya bisa dengan cepat mengobati luka hatinya."
"Aku pasti secepatnya sembuh asalkan ada Shopia bersamaku."
...***...
Sementara jauh dari keramaian kota. Saat malam semakin larut, Shopia belum juga memejamkan matanya. Pikirannya terus berkelana, teringat dengan apa yang Zara katakan di telepon. Ingin rasanya dia segera pergi untuk melihat keadaan suaminya. Tetapi egonya menahan dia. Shopia khawatir, saat dia kembali, lagi-lagi Ganesha hanya menjadikan dia sebagai pemuas hasratnya.
"Sayang, apa yang harus Mama lakukan? Papa kamu sedang sakit, apa kamu merindukan papa?" tanya Shopia dengan mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
"Sayang, apa Papa akan berubah baik pada kita? Meskipun saat terakhir kali bertemu, sikap dia memang baik, tapi aku takut itu hanya cara dia untuk menahan aku."
"Sayang, kita doakan saja agar papa cepat diberi kesembuhan dan bisa bekerja lagi seperti biasanya. Meskipun tanpa kita di sisinya."
Baru saja shopia memejamkan matanya, terdengar suara kokok ayam jago saling bersahutan. Dia pun kembali terjaga dan bergegas untuk membersihkan dirinya. Dia segera menuju dapur saat sudah merapikan penampilannya.
Karena memang, semenjak Shopia tinggal bersama dengan neneknya Zara, Dia yang setiap hari memasak dan membersihkan rumah, bersama dengan bibi yang bekerja di sana.
"Mbak Shopia sudah bangun. Bibi mau ke warung dulu. Mau titip apa?" tanya Bi Inem, pembantu rumah Nek Azmi.
"Roti saja, Bi. Kalau ada susu kedelai, tapi kalau gak ada, susu yang ada di rumah saja," jawab Shopia.
"Baik Mbak. Bibi berangkat dulu," pamitnya.
Selepas kepergian Bi Inem, Shopia langsung mengambil sapu dan mulai membersihkan rumah. Meskipun dia sudah dilarang, tetapi dia bersikukuh untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang sekiranya bisa dia kerjakan.
__ADS_1
Selesai menyapu dan mengepel lantai, Shopia pun menyapu halaman rumah Nek Azmi yang luas. Setiap hari daun cengkeh yamg tumbuh di halaman pasti berguguran. Dia pun dengan senang hati menyapu dan mengumpulkannya. Karena nantinya daun itu akan dijual oleh Bi Inem untuk menambah penghasilan pekerja itu.
"Mbak Shopia, rajin sekali. Pagi-pagi sudah nyapu," tegur seorang laki-laki yang berperawakan tinggi gede.
Rumahnya memang agak jauh dari rumah Nek Azmi, tetapi setiap pagi dia sengaja lewat situ dengan alasan olah raga. Padahal, perjaka tua itu tertarik pada Shopia yang pembawaannya tenang. Apalagi tetangga Nek Azmi, mengenal Shopia sebagai orang yang ramah.
"Iya, Mas. Buat cari keringat," ucap Shopia dengan terus menyapu halaman.
"Wah, beruntung sekali yang menjadi suami Mbak Shopia. Mendapatkan istri yang cantik, baik sekaligus rajin. Saya juga jadi pengen punya istri seperti Mbak Shopia."
Shopia hanya menanggapi dengan senyuman ucapan dari laki-laki itu. Dia merasa bingung harus berkata apa. Sampai akhirnya Bi Inem datang dengan belanjaan di tangannya.
"Parto, kamu jangan gangguin Mbak Shopia! Mbak Shopia sudah punya suami, sebentar lagi dia mau punya anak," tegur Bi Inem.
"Yah, sayang sekali. Padahal aku suka sama Mbak Shopia. Tapi kalau Mbak Shopia cerai dengan suaminya, aku mau jadi ayah sambung buat anaknya," cetus Parto.
"Kamu tuh, gak bisa lihat wanita cantik. Pasti inginnya memiliki tapi lama-lama bosan dan ditinggalkan. Sudah Mbak jangan diladeni playboy kampung itu." Bi Inem langsung membawa Shopia masuk ke dalam rumah.
Dia khawatir Parto akan menarget Shopia dan memaksa agar mau jadi pacarnya. Seperti sepupunya, yang sampai syok dan pergi dari kampung karena Parto terus memaksa. Apalagi, laki-laki itu tidak segan menggunakan kekuasaan ayahnya sebagai kepala desa untuk menekan targetnya.
"Bibi, memangnya dia siapa? Hampir setiap hari dia lewat depan rumah kalau aku sedang menyapu di halaman," tanya Shopia.
"Dia anak orang kaya di kampung ini. Tapi sikapnya itu terkadang suka keterlaluan saat dia menyukai sesuatu. Semoga saja Mbak Shopia tidak dijadikan target berikutnya. Mulai besok, jangan menyapu di halaman lagi, biar Bibi saja."
"Baik, Bi. Apa ini alasan Bibi selalu melarang aku menyapu di halaman?"
"Iya, Bibi hanya jaga-jaga. Karena Mbak Shopia orangnya cantik. Banyak lelaki kampung ini yang suka. Asal Mbak Shopia tahu saja, banyak orang yang diam-diam memperhatikan Mbak Shopia. Tapi untung saja Bu Azmi cukup berpengaruh di desa ini, jadi mereka segan untuk mendekati Mbak Shopia."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih...