
Sepertinya Ganesha harus berusaha lebih keras lagi untuk meredam kekesalan Shopia. Rasanya dia ingin membanting semua barang yang dilihatnya saat Shopia mendiamkannya. Seandainya saja putri mereka sedang tidak rewel, sudah pasti dia akan menyelesaikan masalah dengan istrinya di atas tempat tidur.
"Shopia, jangan marah sama Mas! Kamu kan tahu kalau semua itu bukan keinginan Mas. Dia sendiri yang menyelinap masuk ke kamar kita."
"Aku tahu," ketus Shopia.
"El, bilangin Mama kalau Papa hanya cinta sama Mama."
"Gak percaya!"
"El, Papa serius! Tidak ada wanita lain di hati Papa selain Mama kamu."
"Bohong!"
"Beneran El! Kalau tidak percaya ayo kita buktikan, Papa pasti sanggup bikin adik yang banyak buat El dengan Mama kamu."
"Mas, apa hubungannya? Kho gak nyambung rayuannya," tanya Shopia dengan membalikkan badan melihat ke arah suaminya.
"Yah, mau gimana lagi. Mas gak pandai merayu cewek. Lagian untuk apa Mas rayu. Tanpa di rayu pun, mereka mendekat sendiri," jawab Ganesha dengan entengnya.
"Oh, gitu ya! Sekarang Mas ngaku kalau banyak cewek yang mendekati Mas," Shopia menatap tajam suaminya.
"Sayang, Mas kan gak bisa melarang mereka untuk tidak menyukai Mas. Tapi Mas juga tidak melayani mereka. Karena di rumah sudah ada yang paling oke. Apalagi kalau Mama El lagi pegang kendali, bikin Papa tidak berdaya," ucap Ganesha dengan mengerlingkan matanya nakal.
"Apaan sih, Mas. Nakal banget," ucap Shopia dengan wajah yang sudah bersemu merah.
"El, Mama lagi shy shy cat. Bikin Papa tambah gemes."
"Apaan sih, Mas? El sama Papa dulu ya, Mama mau siapkan makan buat princess Mama dulu." Shopia memberikan putrinya pada Ganesha yang sedari tadi terus menempel padanya.
"Jangan lama ya! Mama, beri El satu ciuman dulu," ucap Ganesha.
__ADS_1
Shopia pun mengikuti apa yang suaminya katakan. Dia mencium pipi putrinya bersamaan dengan Ganesha menarik tengkuknya dan mengecup sekilas bibir istrinya. "Jangan marah lagi ya! Mas tidak ingin orang ketiga menghancurkan kebahagiaan kita, terutama El. Dia membutuhkan kita untuk terus bersama."
"Iya, Mas!" sahut Shopia dengan menganggukkan kepalanya. Dia hanya bisa berdo'a dalam hatinya semoga suaminya tahan dengan semua godaan yang datang untuk untuk menghancurkan kebahagiaan dan pernikahan mereka.
Shopia pun beranjak pergi menyiapkan menu MPASI untuk putrinya. Namun, saat di dapur Shopia bertemu dengan mertuanya yang baru pulang menjenguk Sania. Dia pun berbincang seraya menyiapkan makanan untuk El.
"Mama, bagaimana keadaan Sania?" tanya Shopia.
"Keadaannya baik. Mungkin besok juga pulang. Bagaimana El, udah mendingan?" tanya Nyonya Prada.
"Sudah Mah, tinggal rewelnya saja."
"Syukurlah! Mungkin dia ingin bisa merangkak makanya panas. Anak kecil memang suka begitu, setiap di memiliki keinginan untuk berkembang, biasanya suka panas," tutur Nyonya Prada.
"Iya Mah. Aku ke kamar dulu ya Mah. Sudah waktunya makan sore."
"Apa El sedang dengan perawat?"
Setelah cukup berbasa-basi, Shopia pun langsung menuju ke kamarnya. Terlihat Ganesha sedang menggendong putrinya seraya memakai hidung badut, membuat Shopia mengulum senyum melihat kelakuan suaminya. Meskipun Ganesha selalu menampilkan wajah tegas dan serius saat berada di kantor. Akan tetapi, saat di depan putrinya pasti wajah lembut dan kekonyolan yang dia perlihatkan.
"El, ayo kita makan dulu. Sambil digendong sama Papa ya!"
"Siap Mama!" sahut Ganesha dengan menirukan suara anak kecil. Pasangan suami istri itu akhirnya bekerja sama membujuk putri mereka untuk menghabiskan makannya.
...***...
Tidak butuh waktu lama buat Sania menginap di hotel palang merah. Persalinan normal dengan keadaan bayi yang sehat, membuat dia bisa cepat-cepat pulang ke rumah. Namun, Piero tidak membawa Sania pulang ke apartemen miliknya, melainkan ke rumah baru mereka yang berdekatan dengan rumah Ganesha. Dia sengaja tidak menempati dulu rumah itu, karena ingin menempatinya saat dia sudah memiliki seorang anak.
"Selamat datang Sania! Maaf, aku belum sempat menjenguk ke rumah sakit karena El rewel, badannya panas," ucap Shopia.
"Iya, gak apa Shopia Kemarin Mama Prada seharian menemani aku," ucap Sania dengan tersenyum. Meskipun wajahnya masih terlihat pucat.
__ADS_1
"Terima kasih Anez, sudah merapikan semuanya." Piero menepuk tangan sahabatnya.
"Tidak usah berterima kasih. Aku hanya menyuruh orang untuk merapikan rumah kamu. Untung saja semua sudah siap, jadinya kalian tinggal menempati," kilah Ganesha.
"Sania, nama bayinya siapa?" tanya Nyonya Prada.
"Neva Dania Sinclair, Mah!" sahut Piero.
"Nama yang bagus, Piero. Nanti bermain dengan El ya Neva. Main di rumah Oma seperti dulu papa kalian," ucap Nyonya Prada.
Mereka pun berbincang mengenang masa kecil papa muda itu. Membuat Shopia dan Sania jadi tertawa mendengar dua sahabat itu yang terkadang konyol. Namun, mereka selalu menjaga image di depan orang lain. Sampai akhirnya Nyonya Mary datang bersama dengan Nike karena Tuan Yongki menolak ikut saat diajak oleh istrinya.
"Ternyata Jeng Prada sudah di sini. Maaf aku datang terlambat. Tadi habis melihat lokasi syuting Nike untuk film layar lebarnya," ucap Nyonya Mary.
"Tidak apa Jeng. Piero juga sudah seperti putraku sendiri. Ayo masuk Nike! Kenapa berdiri di depan pintu?" Nyonya Prada menegur Nike saat gadis itu hanya bengong melihat ke arah Shopia dan Ganesha yang duduk bersama di sofa.
"Makasih, Tante!" sahut Nike dengan tersenyum manis ke arah Nyonya Prada.
"Tante bangga melihat Nike mengikuti jejak mamamu. Kalian memang orang-orang yang berbakat dalam akting," puji Nyonya Prada.
"Karena dengan akting, kami bisa mengekspresikan diri. Benar kan, Nike?"
"Iya, Mah!" sahut Nike.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Shopia-Anez update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.
__ADS_1