
Wajah yang biasanya tegas dan kharismatik itu, terlihat murung setelah Ganesha mendengarkan percakapan orang tuanya dan Shopia. Hatinya merasa sakit saat mendengar Shopia menolak untuk ikut bersama orangtuanya.
"Anez, jangan sedih! Aku yakin, kamu bisa merubah keadaan. Membalikkan kembali hati Shopia yang mulai berpaling dari kamu," ucap Piero berusaha menghibur sahabatnya.
"Apa kesalahan aku sangat besar pada Shopia, sampai dia tidak ingin kembali sama aku?" tanya Ganesha pelan.
"Kalau kamu tanya, salah kamu besar atau tidak, aku jawabnya besar. Tapi setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Tinggal bagaimana cara kamu untuk memperbaiki semua kesalahan itu."
"Kamu benar, mungkin sekarang saatnya aku yang mengejar maaf dan cinta Shopia. Tapi aku yakin, kalau dia sebenarnya masih mencintai aku."
Bagus kamu punya keyakinan seperti itu. Bagaimana kalau kamu buat dia kejutan? Biasanya cewek itu suka sekali diberi kejutan yang romantis."
"Piero, apa yang harus aku lakukan? Apa kamu bisa bantu aku untuk menyiapkan sebuah kejutan untuk Shopia?"
"Kamu tenang saja, aku pasti bantu kamu jika kamu serius untuk memperbaiki semuanya. Sekarang, lebih baik kamu istirahat agar stamina kamu kembali fit," suruh Piero.
"Baiklah! Piero, aku rindu sekali sama Shopia. Apa tidak bisa besok aku menjemputnya. Lagipula, sekarang mualku hanya di pagi hari saja. Saat saaudah jam sepuluh, hilang sendiri."
"Kita tanya dokter dulu, kalau dokter mengijinkan kamu boleh pulang, kita akan ke tempat Shopia. Tapi kamu harus janji, akan bersikap lebih baik lagi sama dia."
"Iya, aku pasti merubah sikap aku sama dia." Ganesha memposisikan dirinya untuk tidur siang. Namun, baru saja, dia menutup matanya, terdengar ada suara orang yang mengetuk pintu. Piero dengan sigap membukakan pintu untuk tamu yang berkunjung ke ruang inap Ganesha.
Terlihat di depan pintu Eliza dan kedua orang tuanya tersenyum hangat padanya. Piero pun langsung membalas senyuman itu sebelum akhirnya dia menyapa tamu yang datang.
"Eliza, Om Tante, silakan masuk!" ujar Piero.
"Terima kasih, Piero. Sudah berapa lama Anez di sini?" tanya Papanya Eliza.
"Sudah empat hari, Om."
__ADS_1
"Oh, maaf ya Om baru ada waktu untuk menjenguk. Soalnya baru pulang dari luar kota."
"Tidak apa, Om. Anez sekarang sudah baikan," jawab Piero. "Tapi maaf, Anez baru saja istirahat habis minum obat."
"Oh, tidak apa. Om juga tidak akan lama, soalnya masih ada meeting dengan klien."
Piero pun larut dalam obrolan dengan orang tua Eliza. Sementara Eliza tidak berpaling sedikit pun dari wajah tenang Ganesha yang sedang tertidur pulas. Gadis cantik itu selalu suka memandangi wajah tampan laki-laki yang dia sukai dalam diam.
Anez, kenapa sedikit pun kamu tidak pernah melihat ke arahku. Padahal aku selalu fokus ke arah kamu. Apa aku memiliki kesempatan untuk mengisi hatimu yang kosong karena kepergian istri kamu itu? batin Eliza.
Kenapa Eliza terus melihatku? Menggangguku saja. Bukannya mereka cepat pulang saat tahu aku sudah tidur, malah asyik mengobrol. Aku pegal berpura-pura tidur. Tapi kalau aku buka mata, nanti Eliza keluar sifat manjanya, batin Ganesha.
Setelah merasa cukup berbincang dengan Piero, akhirnya orang tua Eliza pun berpamitan pulang. Meskipun sedikit kecewa karena Ganesha tidak bangun juga, tetapi mereka berusaha memakluminya. Tadinya mereka ingin menunjukkan pada Ganesha kalau mereka begitu peduli pada laki-laki yang terbaring lemah itu.
"Mereka sudah pulang. Kamu sudah bisa membuka mata," ucap Piero dengan tangan yang sedang asyik mengutak-atik ponselnya.
"Kenapa kamu lama sekali mengobrol dengan Om Jody?" Ganesha melihat tidak suka pada Piero.
"Semoga saja tidak jadi. Perusahaan aku memang tidak sebesar miliknya. Aku tidak mau dia meminta imbalan yang lebih nilainya dari nominal yang dia investasikan."
"Aku tidak berpikir sejauh itu. Aku hanya memikirkan perusahaan kita akan untung besar jika bekerja sama dengan perusahaan miliknya."
"Sudahlah! Jangan dibahas lagi, lebih baik kamu fokus menyiapkan kejutan untuk istriku."
...***...
Dua hari telah berlalu, kini kondisi Ganesha sudah benar-benar pulih. Dia terlihat lebih segar dari hari-hari kemarin. Meskipun rasa mual di pagi hari tidak bisa dia hindari tetapi hal itu tidak begitu mengganggunya.
Sepertinya, penyusup itu bekerja dengan baik, sehingga Ganesha selalu mendapatkan kabar setiap satu jam sekali tentang Shopia. Dia tidak pernah bosan memandang wajah cantik istrinya. Bahkan, wajah Shopia saat bangun tidur pun kini menghiasi layar ponselnya.
__ADS_1
"Shopia, tunggu aku! Aku pasti datang untuk menjemput kamu," gumam Ganesha dengan mematut diri di depan cermin.
Dia sudah sangat yakin untuk mengembalikan hati Shopia kembali, agar tetap terfokus padanya. Setelah merasakan kehilangan, Ganesha benar-benar menyadari kalau Shopia begitu berarti dalam hidupnya.
Ganesha berjalan dengan langkah panjangnya, menuruni tiap anak tangga di rumahnya. Saat sudah tiba di bawah, terlihat kedua orang tuanya sedang duduk bersama dengan Piero. Dia pun langsung menghampiri dan duduk di samping sahabatnya.
"Anez, jadi hari ini mau menjemput Shopia?" tanya Prada.
"Jadi, Mah. Apa Mama dan Papa mau ikut?" tanya Ganesha dengan melihat wajah kedua orang tuanya secara bergantian.
"Tadinya Mama mau ikut. Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya lebih baik kamu saja yang pergi. Shopia ingin kalian berdua yang menyelesaikannya," jawab Prada.
"Iya, Anez. Papa dan Mama hanya bisa mendoakan untuk kebaikan kamu dan Shopia. Jangan gengsi untuk mengakui perasaan kamu di depan dia!" pesan Galen.
"Iya, Pah. Anez mengerti," ucap Ganesha.
"Kalau begitu kami berangkat dulu ya Om, Tan. Do'akan kami biar berhasil membawa membantu Om dan Tante."
"Tentu saja. Doa kami selalu menyertai kalian," ucap Prada.
Ganesha dan Piero pun langsung pergi setelah merasa cukup berbincang dengan Prada dan Galen. Keduanya nampak bersemangat untuk melaksanakan misi penjemputan istri. Tak henti kedua sudut bibir Ganesha membentuk bulan sabit saat dia melihat Shopia sedang menanam bunga mawar di halaman rumah Nek Azmi.
Namun, senyumnya surut seketika saat dia melihat ada seorang laki-laki yang mendekati Shopia tanpa disadari oleh istrinya. Dia langsung menghubungi penguntit bayarannya agar waspada dengan apa yang akan laki-laki itu lakukan. Seketika matanya membulat sempurna saat melihat laki-laki itu membekap mulut Shopia dengan sapu tangan. Beruntung sang Penguntit segera datang dan segera menolong Shopia.
"Sial! Pak bisa lebih cepat lagi bawa mobilnya. Istriku dalam bahaya," ucap Ganesha panik.
"Ini sudah delapan puluh, Den. Pak Mus tidak berani membawa mobil lebih dari delapan puluh kilometer per jam. Apalagi jalanan ramai seperti ini "
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....