
Pesta pernikahan yang megah terlihat di ballroom hotel bintang tujuh milik JS Group. Shopia dan putrinya terlihat sangat cantik memakai dress yang dirancang khusus untuk keluarga kecilnya. Begitupun dengan Ganesha yang nampak semakin gagah dengan tuxedo mewah yang melekat di tubuh atletisnya..
Semua tamu undangan terlihat ikut berbahagia dengan kebahagiaan sepasang pengantin baru yang baru saja mengucapkan janji suci pernikahannya di depan tamu undangan yang hadir. Ya, malam ini Jordan dan Tiffany melangsungkan resepsi pernikahannya setelah tadi siang mereka dinikahkan oleh penghulu.
"Shopia, kenapa Mas berpikir Jordan mirip sekali dengan kamu," ucap Ganesha saat mereka duduk di meja khusus keluarga.
"Tentu saja, karena aku adiknya. Pasti memiliki raut wajah yang mirip," ucap Shopia.
"Bukan itu maksud aku. Kalian sama-sama merebut pasangan orang lain," jawab Ganesha dengan cueknya.
"Mas, aku kan tidak sengaja. Lagipula kejadian bukan keinginan aku," kelit Shopia merasa sedikit tersinggung dengan ucapan suaminya.
"Iya, Mas tahu. Hanya saja cara Tuhan mempertemukan kalian dengan jodoh kalian itu menurut aku hampir mirip. Hanya saja kamu tidak sengaja, kalau Kak Jordan memang disengaja."
"Iya sih, mau gimana lagi Mas, kalau memang itu sudah jalannya."
Terus saja kedua pasangan suami istri itu berbincang tentang masa lalu mereka. Sampai akhirnya ada seseorang yang menegur keduanya. Membuat Shopia terlonjak bahagia melihat siapa yang sudah menegurnya.
"Selamat malam Tuan Anez, Shopia!" sapa Zara yang digandeng oleh Gio suaminya.
"Zara ... Apa kabar? Lama sekali kita tidak bertemu," tanya Shopia langsung berdiri dan memeluk sahabatnya.
"Aku baik, Shopia. Maaf, aku tidak menjenguk kamu saat kamu terkena musibah. Kebetulan saat itu aku juga masih bedrest. Kandungan aku lemah," sesal Zara.
"Tidak apa, Zara. Aku senang, Tuhan masih memberi aku dan Mas Anez kesempatan untuk bertemu kamu lagi. Sudah berapa kehamilannya?" tanya Shopia dengan mengelus lembut perut sahabatnya yang sudah terlihat buncit.
"Sudah bulan ke lima."
"Shopia, ajak Zara duduk dulu, kasian kalau harus berdiri lama," tegur Ganesha yang sedari memperhatikan Shopia dan Zara.
"Makasih Tuan."
Zara pun langsung duduk di samping Shopia, sedangkan Gio di dekat Zara dan Ganesha yang sedang memangku putrinya. Kedua sahabat itu mulai berbagi cerita, membuat suami-suami mereka memilih diam. Mendengarkan obrolan mereka.
"Shopia,aku dengar Mbak Eliza mengalami kebakaran. Apa keadaannya sudah membaik?"
__ADS_1
"Sudah mendingan, tapi masih di rawat di rumah sakit karena luka bakarnya parah," jawab Shopia.
"Itulah kalau orang angkuh, cepat atau lambat pasti terkena karmanya.
"Zara, kamu sedang hamil. Jangan ngomongin orang," tegur Sophia.
"Ah iya aku lupa, aku suka kesel kalau ingat sama dia," jawab Zara cengengesan. "Hallo princess Aunty, makin cantik aja Sayang."
"Makasih Aunty," ucap Shopia dengan menirukan suara anak kecil.
Terus saja kedua wanita cantik itu berbincang melepaskan kerinduan keduanya, sampai tanpa tidak memperdulikan kedua lelakinya yang mulai merasa bosan menunggu kedua selesai mengobrol.
"Shopia, sepertinya El sudah waktunya mimi," sela Ganesha tiba-tiba.
"Eh, putri Mama mau mimi Sayang? Zara dilanjut ya, aku mau ke kamar dulu," pamit Shopia pada akhirnya.
Ganesha tersenyum senang saat usahanya berhasil untuk mengelabui istrinya. Dia pun ikut berpamitan pada Zara dan suaminya untuk menyusul istrinya ke kamar yang sengaja sudah di booking khusus untuk keluarga pengantin.
Laki-laki itu mempercepat langkahnya agar lebih cepat sampai di kamar yang dia tuju. Dia masuk begitu saja ke kamar itu. Terlihat Shopia yang sedang memberikan sumber kehidupannya pada putri semata wayang mereka.
"Kasian Papa sendirian, Mas."
"Papa pasti mengerti karena kamu punya anak kecil yang tidak mungkin menghadiri pesta sampai larut malam. Karena itu tidak boleh kamu lakukan," ucap Ganesha.
"Baiklah, aku tidak kembali ke sana. Lalu untuk apa berdandan cantik?"
"Tentu saja untuk suami kamu," ucap Ganesha seraya memeluk istrinya dari belakang.
"Mas, El masih mimi." Shopia mencoba melepaskan tangan Ganesha yang sedang memegang bukit kembarnya.
"Tidak apa, Mas tidak akan menggangu dia." Ganesha mulai menciumi tengkuk belakang Shopia. Membuat wanita cantik itu merasa kegelian dengan suaminya. Namun, sepertinya Ganesha tidak peduli dengan Sophia yang sudah seperti cacing kepanasan.
"Mas ... Hentikan ah ...." Shopia mendesahh membuat El yang hampir terlelap melihat ke arah wajah mamanya. "Tidak, apa Sayang! Ayo mimi lagi!"
El pun menurut dengan apa yang Shopia katakan. Gadis kecil itu kembali menikmati sumber kehidupannya dengan mata yang terpejam. Ganesha hanya tersenyum melihat putrinya yang merasa terganggu. Dia pun kembali menciumi tengkuk dan punggung Shopia agar hasrat wanita yang dicintainya itu bangkit dan balik menyerangnya.
__ADS_1
"Mas, jangan sekarang! El masih belum pulas," tegur Shopia.
"Tidak apa Shopia! Kamu lanjutkan saja memberi sumber kehidupan buat El, Mas janji tidak akan menganggunya," suruh Ganesha.
El memang tidak terganggu, tapi aku yang terganggu, Mas.
Sementara di tengah-tengah riuhnya suasana pesta, terlihat seorang pria paruh baya yang lebih sering termenung. Laki-laki itu seperti tidak menikmati suasana pesta yang meriah. Pikirannya jauh melayang teringat pada kedua mendiang istrinya dan juga pada putri angkatnya yang sekarang sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Terus saja Tuan Jody memberikan senyum terbaiknya pada semua tamu yang datang. Sampai saat semua tamu terlihat sedang menikmati suasana pesta, laki-laki itu mengdengus pelan seraya mendudukan bokongnya.
Clara, lihat putra nakalmu sedang bersanding di pelaminan dengan wanita yang dicintainya. Sepertinya tugas aku untuk menjaga putra kita sudah selesai. Putrimu juga sudah bahagia dengan laki-laki yang dicintainya dan memiliki seorang putri yang sangat cantik, batin Tuan Jody.
Namun, lamunannya buyar saat ada seorang gadis cantik datang menghampirinya. Nike yang memang datang terlambat tak pernikahan Jordan langsung menemui pengantin juga Tuan Jodi untuk mengucapkan selamat. Bersamaan dengan seorang lelaki tampan dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.
"Nike, kamu diundang juga?" sapa Dokter Lionel, dokter psikiater yang menangani masalah Nike untuk mengatasi trauma masa kecilnya.
"Iya, kebetulan kakak aku bekerja di perusahaan JV," kilah Nike. "Dokter juga kenal dengan Tuan Jordan?"
"Jordan sahabat aku. Kami bersahabat dekat sedari masih anak-anak,"
"Oh seperti itu, maaf saya tidak tahu."
" Tidak apa, bagaimana tidurmu sekarang? Sudah mulai nyenyak?"
"Iya Dok? Aku udah bisa tidur lama dan juga lumayan pulas."
...Bersambung...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! klik like, comment, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih...
Sambil nunggu Sophia dan Anez update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.
__ADS_1