Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 77 Menangkap Lucy


__ADS_3

Saat suasana hati sedang tidak baik-baik saja, es krim memang menjadi teman yang baik untuk mengembalikan mood seseorang. Begitupun dengan Shopia yang kembali bisa tersenyum saat dia bertemu dengan teman lamanya.


"Shopia, kebetulan bertemu di sini. Aku mau memberikan undangan reuni fakultas kita. Kamu datang ya!"


"Kalau tidak ada halangan aku pasti datang. Terima kasih ya Mike atas undangannya," ucap Shopia dengan tersenyum manis.


"By the way, suami kamu ke mana? Kenapa sendirian di sini?" tanya Mike, teman kampus Shopia.


"Suami aku sedang pergi ke toilet. Kamu sendiri sendirian aja?" tanya Shopia.


"Aku habis meeting dengan klien. Kalau begitu aku pergi dulu ya! Jangan lupa datang ya!"


"Iya Mike," ucap Shopia.


Tidak berselang lama, Ganesha datang menghampiri Shopia. Dia melihat wajah murung istrinya kini sudah berubah menjadi sedikit berseri. Laki-laki tampan itu tersenyum melihat by istrinya begitu menikmati es krim cokelat vanila dalam cup jumbo.


"Apa anak Papa sangat suka es krim?" tanya Ganesha dengan mengelus lembut perut istrinya.


"Suka Papa," jawab Shopia dengan tersenyum.


Sementara di sebuah perusahaan kosmetik ternama, terlihat seorang wanita cantik yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Dia terlihat sibuk sedang menghubungi seseorang lewat telepon. Wajah wanita itu terlihat serius dengan apa yang didengarnya.


"Nyonya, Tuan masuk ke kantor polisi bersama dengan Tuan Muda."


"Untuk apa mereka pergi ke sana?"


"Belum saya selidiki, Nyonya. Tapi wajahnya terlihat sangat serius."


"Cepat kamu selidiki yang benar?"


"Baik, Nyonya!"


Lucy langsung menutup sambungan teleponnya. Dia ingin menghubungkan seseorang agar bisa menjamin keamanannya. Belum juga panggilan teleponnya tersambung, terdengar suara pintu ada yang mengetuknya.

__ADS_1


"Masuk!" suruh Lucy.


Terlihat seorang sekretaris menyembulkan kepalanya, diikuti oleh dua orang polisi. Lucy sangat terkejut menerima kedatangan mereka. Dia mencoba tersenyum meskipun hatinya merasa was-was.


"Permisi, Nyonya! Komandan Arjuna datang ingin menemui Nyonya," ucap Sekretaris itu.


"Oh, silakan duduk! Ada hal apa yang membawa Komandan datang ke sini?"


"Saya hanya mau memberikan surat penangkapan Nyonya atas laporan dari Tuan Jody dengan kasus pembunuhan berencana pada istri dan putri." Komandan Arjuna memberikan selembar surat penangkapan pada Lucy. Membuat wanita cantik yang terlihat elegan itu tersenyum samar saat membaca surat itu.


Berani sekali Jody menentang aku. Apa dia lupa kalau Keluarga aku lebih berkuasa dari keluarganya? Baiklah Jody, kita mulai mainkan permainannya, batin Lucy.


"Maaf Komandan, saya istrinya Tuan Jody, bagaimana bisa Anda menangkap saya jika orang yang ingin Anda tangkap saya sendiri," kelit Lucy


"Kamu memang istriku, tapi aku tidak pernah menyangka kalau aku menikahi seorang pembunuh berdarah dingin. Tega sekali kamu melenyapkan anak dan istriku. Ternyata benar rumor yang beredar kalau Keluarga Jean Levi seorang yang kejam. Kamu berkali-kali ingin melenyapkan putriku," serobot Tuan Jody yang baru saja masuk ke ruangan istrimu.


"Kamu mau bermain-main denganku Jody? Baik, kita buktikan siapa yang akan bisa bertahan."


"Mari Nyonya, kita bicarakan semuanya di kantor." Komandan Arjuna langsung menggiring Nyonya Lucy. Tentu saja karyawannya menjadi sangat terkejut melihat Lucy dibawa oleh polisi.


"Kurang ajar sekali kalian! Kenapa membawa mamaku seperti itu? Akan aku adukan pada papaku. Apa kalian tidak tahu kekuasaan Keluarga Vuttion? Akan aku pastikan, kalian dipecat dari pekerjaan kalian," ancam Eliza.


"Hentikan Eliza! Semua ini kerjaan papa kamu. Sekarang cepat pergi ke rumah besar Levi dan katakan semuanya pada kakek kamu!"


"Apa Papa?" Eliza langsung masuk ke dalam perusahaan mamanya saat Nyonya Lucy sudah dibawa masuk ke dalam mobil polisi.


Dia menuju ke ruangan Lucy untuk menekan tombol alarm yang sebagai pemberitahuan kepada semua anggota persekutuan kalau Lucy sedang dalam bahaya. Namun ternyata, dia datang terlambat. Tombol itu sudah dirusak oleh Jody.


"Papa, apa yang Papa lakukan?" tanya Eliza kaget.


"Papa mengamankan apa yang seharusnya Papa amankan. Sekaranglah kamu lebih baik menurut pada Papa kalau kamu masih ingin hidup enak. Mama kamu harus menanggung semua perbuatannya. Kamu mengerti Eliza?" Tuan Jody melihat tajam ke arah Eliza agar gadis itu mau menuruti ucapannya. "Ayo kita pulang ke rumah!"


Mau tidak mau, dia hanya mengikuti apa yang papanya katakan. Dia tidak mau hidup menderita jika harus bertentangan dengan papanya. Meskipun sebenarnya, dia juga merasa tidak tega membayangkan mamanya berada di balik jeruji besi.

__ADS_1


...***...


Berita ditahannya presiden direktur perusahaan kosmetik terbesar di tanah air, menjadi trending topik di semua media. Baik online maupun offline. Semua orang mengikuti setiap persidangan. Bahkan, mereka memblokir perusahaan kosmetik itu.


Shopia yang sedang menonton televisi sampai tidak bisa berkata apa-apa. Rasa senang, puas. dan was-was kini berkecamuk di pikirannya. Entah kenapa, dia merasa kalau Eliza tidak akan tinggal dia melihat mamanya di penjara.


"Shopia, jangan ditonton kalau hal itu akan membuat suasana hatimu menjadi buruk. Lebih baik kita menengok putri kita. Pasti dia sudah merindukan papanya," ucap Ganesha seraya mendudukkan bokongnya di samping Shopia.


"Mas, apa Eliza tidak akan menyalahkan aku? Dia pasti akan semakin membenci aku kalau tahu aku putri dari madu ibunya. Aku selalu tidak mengerti kenapa masalah percintaan harus berujung dengan menghilangkan nyawa seseorang."


"Jangan kamu pikirkan apa yang akan orang lain pikirkan! Itu hanya akan membuat kepala kamu pusing saja. Apa pun yang kamu lakukan mau baik ataupun tidak, di mata orang yang tidak menyukai kamu, tetap saja akan terlihat salah." Ganesha mengelus lembut rambut panjang istrinya dan menciumnya sebelum dia melanjutkan ucapannya.


"Jangan pikirkan Eliza! Kalau dia berbuat hal yang tidak baik padamu, ada banyak orang yang akan menjagamu."


"Mas, apa dulu Mas pernah suka pada Eliza saat kalian masih kecil?"


"Tidak pernah!"


"Kalau sama Vero adiknya, Piero. Apa Mas pernah suka?"


"Mas tidak pernah berpikir untuk menyukainya. Mas hanya merasa bersalah karena tidak bisa menolong dia saat ada yang menculiknya. Kamu tahu siapa gadis kecil yang Mas sukai?"


"Tidak tahu," jawab Shopia.


"Mas menyukai gadis kecil yang dulu pernah bertemu di rumah sakit, gadis itu korban selamat dari keracunan. Melihat semangat hidupnya, Mas pun jadi bertekad untuk cepat sembuh. Tapi sampai sekarang, Mas tidak pernah bertemu lagi setelah dia dibawa pergi oleh keluarganya."


"Owh, apa dia masih mengisi hati Mas?"


"Tidak, hanya kamu yang sekarang memenuhi, Mas."


Mas yakin kalau gadis kecil itu kamu saat Kak Jordan memanggil nama Jasmine dan Boy waktu itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2