Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 96 Nasihat Sania


__ADS_3

Mendengar bentakan dari Ganesha, Piero pun segera membawa pergi adiknya. Dia sudah mengerti kalau Ganesha bicara nada tinggi kepadanya, sudah pasti sahabatnya itu sangat tidak menyukai usulan darinya.


Papa muda itu tidak langsung ke kamarnya setelah dia menidurkan Nike. Akan tetapi, dia memilih untuk merenungi semuanya sendiri, seraya memberi makan ikan-ikan peliharaannya. Sungguh dia menjadi dilema, antara memilih menuruti keinginan Nike atau menolaknya.


Piero hanya merasa kasian pada gadis itu, dengan semua yang telah terjadi di masa lalu karena ulah papanya. Dia hanya ingin menebus kesalahan papanya dengan berusaha membahagiakan Nike. Akan tetapi, dia juga tidak mungkin merusak kebahagiaan sahabatnya sendiri. Apalagi, Ganesha sudah menolaknya mentah-mentah.


"Kenapa jadi ruwet begini?" gumam Piero dengan menjambak rambutnya sendiri.


Dia tidak menyadari kalau sedari tadi Sania memperhatikannya. Piero terus saja menarik-narik rambutnya, sampai Sania duduk di samping laki-laki itu, barulah Piero menghentikannya. Dia menengok ke arah Sania lalu menyandarkan kepalanya di bahu mama muda itu.


"Mas, apa Mas tahu kalau tidak semua keinginan kita itu dapat terwujud?" tanya Sania


"Iya Mas tahu."


"Begitupun dengan Nike. Apalagi keinginan dia itu merugikan pihak lain. Aku harap, Mas tidak usah mengikuti keinginan Nike. Meskipun dia adik Mas. Selama keinginan Nike itu baik dan tidak merugikan orang lain, Mas boleh membantunya. Tetapi, jika keinginan Nike sudah kelewat batas dan merugikan pihak lain, aku pikir Mas tidak harus membantunya."


"Tapi Anez memang sudah pernah berjanji untuk menjadi pengantinnya Nike."


"Kapan Mas? Waktu Bos Anez masih kecil? Apa Mas lupa, kalau Rodeo pun pernah berjanji untuk menikahi aku. Bahkan, dia bicara begitu setiap kami merayakan hari jadian kami. Apa karena dia sudah berjanji padaku, lalu aku harus ngotot meskipun dia akhirnya menikah dengan gadis lain. Enggak kan, Mas?" Sania melihat wajah suaminya sekilas sebelum dia melanjutkan ucapannya.


"Apalagi, Bos Anez bicara seperti itu saat kalian sama-sama tidak mengerti tentang arti sebuah pernikahan. Mas tidak seharusnya membantu Nike untuk menjadi orang ketiga dalam pernikahan Bos Anez dan Mbak Shopia. Itu pun, kalau Mas tidak ingin pernikahan kita ikut berantakan karena terkena karma akibat Mas membantu Nike, untuk merusak pernikahan orang lain. Ingat Mas, apa yang kita lakukan akan berbalik pada diri kita sendiri."


"Sania, jangan berbicara seperti itu. Kamu mendo'akan agar pernikahan kita berantakan? Apa kamu sudah punya rencana untuk pergi jauh dari Mas seperti Shopia? Jangan harap kamu bisa melakukannya!" Piero langsung membenarkan duduknya. Dia menatap tajam Sania. Sungguh, dia merasa sangat tidak suka mendengar Sania akan pergi darinya.

__ADS_1


"Dari itu Mas. Jangan sekali-kali melakukan hal yang membuat kebahagiaan orang lain rusak kalau Mas tidak ingin kebahagian Mas sendiri hancur."


"Entahlah Sania, Mas bingung. Bagaimana dengan Nike? Bagaimana cara Mas memberi pengertian pada Nike? Dia pasti sangat sedih karena impiannya tidak bisa terwujud."


"Mbak Shopia dan Bos Anez akan lebih sedih lagi, karena sahabatnya sendirilah yang telah merusak kebahagiaan mereka."


"Kamu sangat pintar bicara Sania. Apa kamu sedang menantang Mas, hm ... Apa sudah bersih sampai harus nyerocos terus dari tadi?"


"Bukan begitu, Mas. Aku hanya gak mau, Mas mendadak jadi orang jahat karena rasa sayang Mas pada Nike yang berlebihan."


"Sudahlah! Mas pusing memikirkannya. Lebih baik Mas bertamu pada Sansan kecil. Ayo kita ke kamar!" ajak Piero dengan merangkul pinggang istrinya.


Meskipun Sania sudah berbicara panjang kali lebar kepadanya, tetapi dia masih bimbang menentukan langkah yang akan dia ambil. Apakah harus mengikuti keinginan Nike dan mulai membujuk Anez, ataukah dia mengikuti apa yang istrinya katakan? Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Yang terpenting sekarang, dia bisa meraih surga dunia dengan wanita yang dicintainya.


Keesokan harinya, Piero seperti biasa berangkat ke kantor bersama dengan Ganesha. Namun keduanya saling diam membisu. Tidak ada yang bersuara satu pun. Mereka seakan enggan untuk saling menyapa satu sama lain.


Sampai saat tiba di kantor pun, Ganesha tetap saja membungkam mulutnya. Hingga akhirnya Piero mengalah, dia memutuskan untuk menyapa lebih dulu sahabatnya.


"Anez, soal semalam kamu boleh menolaknya. Tapi kalau kamu menyetujuinya, aku akan sangat bahagia," ucap Piero memulai percakapan.


"Sorry! Aku tidak bisa membuat kamu bahagia. Karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menyetujuinya."


"Aku mengerti, meskipun sebenarnya aku tidak ingin mendengar penolakan dari kamu."

__ADS_1


"Sudahlah Piero! Ini kantor, kamu tidak perlu mengurus masalah itu di kantor. Sebaiknya cepat kamu selesaikan pekerjaan kamu," suruh Ganesha.


"Baik, Tuan. Saya pasti bekerja dengan baik sebelum Tuan menyuruhnya," sarkas Piero seraya berlalu pergi menuju ke ruangannya.


Ganesha pun hanya tersenyum tipis melihat apa yang sahabatnya itu katakan. Dia tidak ingin kalau persahabatan mereka hancur karena mereka berbeda paham. Akhirnya dia pun larut dalam pekerjaannya. Sampai tidak terasa sudah masuk jam makan siang.


Tok ... tok ... tok ....


"Masuk," suruh Ganesha.


Terlihat Nike masuk dengan tentengan paper bag yang berisi makanan di dalamnya. Gadis itu terlihat tersenyum manis ke arah Ganesha. Dia tidak peduli dengan tatapan tidak suka Ganesha. Yang terpenting baginya, dia bisa melakukan apapun yang dia sukai.


"Mas Anez, ayo kita makan siang bersama!" ajak Nike.


"Tidak usah Nike. Buat kamu saja, sebentar lagi istri Kakak juga datang," tolak Ganesha.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu up, yuk kepoin juga karya otor yang lain. Pasti seru!

__ADS_1



__ADS_2