
Hentakan kaki terdengar menggema memasuki ruangan balai desa. Semua pasang mata seakan tersihir ingin melihat siapa yang datang. Mereka nampak tercengang saat melihat seorang pria tinggi tegap dengan wajah blasteran yang ketampanannya tidak bisa diragukan lagi. Apalagi, sorot mata tajam Ganesha mampu menghipnotis semua orang yang hadir di ruang pertemuan itu menjadi diam tak berkutik.
"Mas Anez ...," lirih Shopia.
Ganesha langsung menuju ke tempat duduk Shopia yang berada di deretan paling depan. Tanpa bicara lagi, dia langsung memeluk tubuh istrinya yang tampak ketakutan. Shopia langsung menangis di dalam pelukan suaminya.
"Jangan takut, ada Mas di sini." Ganesha mengelus lembut rambut panjang istrinya yang tergerai indah.
Dia mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling ruangan. Saat matanya menangkap wajah laki-laki yang ingin mencelakai istrinya, rahangnya langsung mengeras. Sorot matanya seakan-akan ingin mencabik-cabik laki-laki itu. Membuat setiap orang yang melihatnya hatinya bergetar ketakutan.
"Maaf, Tuan. Anda memiliki hubungan apa dengan Mbak Shopia?" tanya seorang laki-laki yang memakai pakaian dinas pemerintahan.
"Saya suaminya," jawab Ganesha datar. "Dan saya, akan membawa laki-laki itu jalur hukum dengan kasus percobaan penculikan," lanjutnya.
"Maaf Tuan, Anda baru saja datang tapi langsung menuduh orang. Apa Anda punya bukti? Karena kami masih belum mendapatkan titik temu siapa yang sebenarnya ingin menculik Mbak Shopia."
Flashback on
Penguntit yang dibayar untuk mengawasi Shopia dan menjaganya langsung menyerang laki-laki itu. Membuat laki-laki yang akan membopong Shopia jatuh tersungkur. Penguntit pun tidak melewatkan kesempatan untuk menyerang kembali. Sampai akhirnya terjadi perkelahian di halaman rumah Nek Azmi.
Sementara Bi Inem yang mendengar keributan di luar rumah, langsung bergegas melihatnya. Dia begitu panik saat melihat ada oran yang berkelahi. Apalagi, melihat Shopia yang tergelak di halaman.
"Tolooong ... Tolooong ... Tolong ... Ada orang yang berkelahi," teriak Bi Inem yang sukses mengundang para tetangga datang untuk melihat.
Mereka pun langsung melerai perkelahian Parto dengan seorang wanita yang mereka tahu sebagai penjual sayur yang ikut mangkal di depan rumah Nek Azmi.
"Ada apa ini, kenapa kalian berkelahi?" tanya tetangga yang melerai mereka.
"Dia mau menculik Mbak Shopia. Tadi aku kebetulan lewat sini saat dia mau membawa Mbak Shopia pergi," ucap parto membalikkan keadaan.
__ADS_1
"Bohong itu. Dia yang telah membius Mbak Shopia sampai pingsan. Saya hanya mencegah dia agar tidak membawa Mbak Shopia pergi," bela penguntit yang bernama Sania.
"Hey orang baru! Kamu jangan memfitnah saya! Mana mungkin saya melakukan hal serendah itu," kelit Parto.
"Sudah-sudah, jangan ribut di sini. lebih baik kita selesaikan di bale desa."
Flashback off
"Apa di sini ada in-focus? Aku memiliki rekaman yang akan memberikan jawaban, siapa sebenarnya yang bersalah," tanya Ganesha.
"Ada Tuan, sebentar saya ambilkan."
Salah satu aparat desa mengambil in-focus ke dalam ruang kantor. Dia pun langsung menyiapkannya. Tanpa bicara, Ganesha langsung menghampiri orang itu dan memasangkan ponselnya yang menyimpan rekaman dari kamera tersembunyi yang dipasang rumah Nek Azmi.
Suasana ruang pertemuan mendadak riuh saat mereka melihat langsung kejadian yang sebenarnya. Seluruh warga yang hadir di sana saling berbisik membicarakan Parto yang terbukti ingin menculik Shopia.
"Ternyata dia belum juga berubah, suka sekali memaksakan keinginannya pada wanita yang dia sukai," bisik salah satu warga.
"Syukurlah, kalau dia mau dipenjara. Biar aman desa kita dari laki-laki hidung belang seperti dia."
"Iya, benar. Kita tidak bisa menjeratnya karena dia anak juragan ditambah lagi, ayahnya seorang kepala desa."
Terus saja mereka saling berbisik. Sampai polisi datang bersama dengan Piero, barulah suasana riuh itu kembali sunyi. Polisi itu langsung masuk ke dalam dan menemui jejeran aparat desa termasuk kepala desa yang duduk paling depan. Sementara Piero segera menghampiri Ganesha.
"Maaf, Pak Kades. Atas pelaporan dari Tuan Ganesha, kami datang untuk menangkap saudara Parto," ucap seorang Polisi.
"Apa tidak bisa dengan cara kekeluargaan, Tuan. Saya yakin, kalau Putra saya sedang khilaf," ucap Kepala desa.
"Maaf, Pak. Untuk masalah itu silakan bicarakan dengan Tuan Ganesha. Kami hanya menjalankan tugas. Silakan saudara Parto ikut kami. Kita bicarakan di kantor."
__ADS_1
"Bapak! Tolong Parto! Masa Bapak tega membiarkan anaknya yang rupawan ini jadi tahanan. Aku gak mau di tahan, belum juga aku menyentuh Mbak Shopia, malah harus ditahan segala. Ini tidak adil namanya," cerocos Parto seraya berpegangan saat polisi itu akan membawanya.
"Tolong saudara Parto kerjasamanya, kalau Anda tidak ingin hukumannya bertambah berat," ucap Polisi.
Dengan berat hati, akhirnya Parto menurut dengan apa yang polisi katakan, Dia yakin kalau ayahnya tidak akan tinggal diam membiarkan dia mendekam di penjara. Semua warga yang hadir di sana pun membubarkan diri saat Parto digiring ikut dengan polisi.
Sementara Shopia hanya diam saja. Ada rasa malu di hatinya karena saat Ganesha datang dia malah langsung memeluknya. Padahal dia sendiri yang ingin berpisah dengan suaminya. Namun, kedatangan Ganesha di saat dia sedang terjepit, membuat dia lupa dengan apa yang terjadi antara dia dan Ganesha.
"Shopia, apa karena laki-laki itu kamu betah tinggal di sini?" tanya Ganesha dengan menatap lekat istrinya.
"Bukan, aku ...." Shopia tidak melanjutkan ucapannya saat kepala desa datang menghampiri mereka.
"Permisi Tuan Ganesha! Apa tidak bisa kita bicarakan dengan kekeluargaan? Saya mewakili putra saya Parto minta maaf yang sebesar-besarnya dengan apa yang telah putra saya lakukan. Saya janji, semua itu tidak akan terulang lagi," ucap Samin, bapaknya Parto.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa memaafkan begitu saja pada orang yang ingin mencelakai istri saya. Sebaiknya Bapak cari pengacara handal untuk membela Putra bapak di pengadilan. Kalau begitu kami permisi," pamit Ganesha dengan beranjak pergi seraya menarik Shopia.
Sombong sekali orang kota itu. Awas saja! Akan aku usir dari kampung ini, batin Samin.
Shopia hanya mengikuti ke mana Ganesha membawanya pergi. Hatinya sedang tidak baik-baik saja, karena sedari tadi terus berdebar-debar. Antara senang dan bingung menyatu jadi satu. Sampai saat mereka sudah ada di dalam mobil, Ganesha langsung duduk menghadap ke arah Shopia.
"Kenapa tangan kamu dingin, Shopia? Apa kamu gugup ada di dekat aku? Jangan gugup, Sayang! Aku datang ke sini bukan untuk menyakiti kamu, tapi untuk mengajak kamu membuka lembaran baru dalam hubungan kita."
"Mas, apa selama ini Mas mengintai aku? Untuk apa?" tanya Shopia dengan menatap lekat suaminya.
"Untuk memastikan kalau kamu baik-baik saja. Untuk memastikan tidak ada laki-laki lain yang ingin memiliki kamu. Karena kamu hanya milikku, entah itu kemarin, hari ini, maupun esok dan di masa yang akan datang." Ganesha menghentikan sesaat ucapannya sebelum dia melanjutkan berbicara.
"Shopia aku minta maaf dengan semua yang telah aku lakukan padamu."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....