Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 71 Penuturan Bu Kia


__ADS_3

Lumayan lama Kia berada di rumah Shopia. Dia merasa bosan karena sudah beberapa hari tinggal di hotel. Sampai akhirnya tanpa sengaja dia bertemu dengan Zara di Mall.


Sebenarnya Kia sudah tidak mengenali wajah Zara, tapi saat wanita cantik itu menyebutkan nama Shopia, akhirnya dia meminta Zara untuk membawanya ke rumah keponakan yang sudah dia jadikan anak.


"Shopia, Ibu pulang dulu. Pasti Nike mencari Ibu karena Ibu lama ke luarnya," pamit Kia.


"Memang sekarang Ibu tinggal di mana?" tanya Shopia.


"Ibu di hotel. Ini juga sedang mencari rumah yang sekiranya tidak jauh dari tempat Nike bekerja," jelas Kia.


"Kalau Ibu tidak menemukan tempat yang cocok, Ibu bisa pakai rumahku dulu yang di dekat Zara. Dari pada kosong, lebih baik ditempati. Itu juga kalau ibu tidak keberatan tinggal di rumah sederhana," ucap Shopia menawarkan rumahnya yang kosong.


"Iya, Bu. Tinggal di rumah Shopia saja, biar dekat dengan rumahku. Tempatnya lumayan strategis kho," timpal Zara yang sedari tadi diam.


"Shopia, kenapa kamu masih baik sama Ibu. Padahal Ibu meninggalkan kamu sangat lama."


"Karena hanya Ibu, keluarga yang aku miliki. Ibu, aku minta maaf, rumah kita yang di sana sudah aku jual," sesal Shopia.


"Tidak apa, Ibu memang sengaja meminta ayahnya Zara agar membantu kamu untuk menjualnya. Melihat kamu masih baik-baik saja, Ibu merasa senang," ucap Kia sendu.


"Ibu, apa boleh aku tanya sesuatu? Apa Ibu kenal dengan Nyonya Clara, istrinya Tuan Jody?"


Degh!


Jantung Kia serasa dihantam batu besar mendengar nama itu. Dia kembali merasa ketakutan saat teringat dengan ancaman dari wanita itu. Makanya Kia memilih untuk pergi dari kotanya dan meninggalkan Shopia, agar mereka tidak menyadari keberadaan keponakannya yang selamat dari kecelakaan itu.


"Kamu tahu dari siapa tentang mereka?" tanya Kia kaget.


"Tuan Jody. Apa benar aku putrinya, Bu?"


"Shopia, Ibu tidak bisa menjawabnya di sini. Ibu tidak yakin rumah kamu aman," jawab Kia celingukan merasa ketakutan.


"Kenapa Ibu ketakutan sekali? Apa benar yang mereka katakan kalau sebenarnya aku bukan putrimu?" tanya Shopia dengan menitikkan air matanya. " Lalu di mana Nyonya Clara, Bu?"


"Nyonya Clara ada di rumahnya, di atas bukit."


"Maksud Anda?" tanya Ganesha yang baru langsung menyerobot pertanyaan pada Kia.


"Shopia, dia siapa?" tanya Kia semakin ketakutan melihat orang baru yang ikut mendengar pembicaraannya dengan Shopia.


"Ini suamiku, Bu. Mas Anez, ini ibu. Beliau baru beberapa hari tiba di tanah air," ucap Shopia memperkenalkan Kia pada Ganesha.

__ADS_1


Ganesha mencium punggung tangan Kia. Meskipun dia merasa kurang suka melihat wanita yang sudah meninggalkan istrinya sendirian, tetapi Ganesha berusaha untuk bersikap sopan pada wanita yang dihormati istrinya.


"Saya Ganesha, suaminya Shopia."


"Ibu Kia, apa kalian sudah lama menikah?" tanya Kia mengalihkan pembicaraan.


"Sudah mau dua tahun, Bu."


"Permisi, Bu. Saya ke dalam dulu," pamit Ganesha.


Dia langsung pergi meninggalkan Shopia dan ibunya serta Zara. Laki-laki tampan itu langsung menghubungi Jordan. Namun, sepertinya panggilan teleponnya tidak diangkat juga. Setelah tiga kali mencobanya, barulah Jordan mengangkat panggilan telepon dari Ganesha.


"Hallo, Anez. Ada apa?" tanya Jordan di seberang sana.


"Cepat datang ke rumahku! Ibunya Shopia sudah kembali."


"Apa? Maksud kamu mamaku?"


"Aku tidak tahu dia mama Kak Jordan atau bukan, tapi namanya Kia."


"Mungkin istrinya Om Boy. Tahan dia, Anez. Aku ke sana sekarang."


Jordan langsung mematikan sambungan teleponnya. Tentu saja membuat Ganesha mendengus kesal. Dia yang menelpon, tetapi Jordan yang mematikan teleponnya.


Saat Ganesha kembali ke depan, ternyata Kia sudah berpamitan pulang. Dia janji akan kembali datang ke rumah Shopia jika nanti jadi menempati rumah Shopia yang di dekat Zara.


"Ibumu sudah pulang?"


"Barusan pulang, Mas. Mau melihat rumahku yang di dekat rumah Zara," jawab Shopia.


"Sial! Kak Jordan mau ke sini untuk bertemu dengan dia. Kamu tahu sekarang di tinggal di mana?" tanya Ganesha.


"Di hotel dengan putri sambung ibu," jawab Shopia heran.


Aku harus benar-benar bersiap jika nanti terjadi perang di keluarga Vuttion. Mau tidak mau pasti Shopia akan terseret juga. Untung saja Elgar sudah menyetujui untuk mengirimkan pengawal bayangan untuk Shopia. Kalau hanya mengandalkan Sania, aku merasa kurang yakin, batin Ganesha.


"Mas, besok ada waktu gak? Aku ada jadwal kontrol," tanya Shopia.


"Iya, nanti Mas antar. Shopia, kalau mau pergi ke luar rumah, jangan lupa ajak Sania ya!"


"Iya, Mas. Baru saja Shopia akan beranjak pergi ke kamarnya, terdengar bel rumahnya berbunyi. Dia pun segera segera membukakan pintu bersama dengan Ganesha, karena dia sudah yakin siapa datang yang datang berkunjung.

__ADS_1


"Kak Jordan telat. Bu Kia sudah pulang, setelah aku selesai menelpon."


"Tidak apa, boleh aku masuk?" tanya Jordan.


"Silahkan, kak!" suruh Shopia dengan memberi jalan pada Jordan.


"Terima kasih. Apa kabarmu Shopia? Perutmu sudah besar, apa akan segera melahirkan?" tanya Jordan setelah mereka duduk bersama.


"Baru menginjak bulan ke tujuh kak. Mudah-mudahan saja dibeli kelancaran dalam persalinannya," ucap Shopia.


"Aamiin." Kompak Ganesha dan Jordan.


"Kakak dengar, tadi ada Ibu ke sini." Jordan langsung to the point.


"Iya ada Kak. Ternyata Ibu memiliki anak dari Om Bule," ucap Shopia dengan tersenyum.


"Shopia, apa tadi menanyakan soal mama pada ibumu?" tanya Jordan.


"Kata Ibu, Nyonya Clara ada di rumahnya, di atas bukit. Tapi aku tidak mengerti maksudnya apa?"


"Apa katamu? Di atas bukit? Berarti mama ...." Jordan tidak melanjutkan ucapannya. Dia langsung terhenyak karena ucapan Shopia. Kalau benar apa yang Shopia katakan berarti mamanya tidak selamat dari racun itu, karena dirumah itu tidak ada apa-apa selain rumah dan perkebunan di belakang rumahnya.


"Kak Jordan kenapa?" tanya Shopia kaget.


"Mungkin mama tidak selamat. Hanya kamu ynag selamat dari racun itu. Aku tidak mau tahu, Lucy harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Anez, aku titip padamu Shopia. Tolong jaga dia baik-baik. Aku akan ke rumah mama yang dulu mencari makam mama," ucap Jordan.


"Kak Jordan, jangan ambil kesimpulan sendiri. Kenapa tidak bertanya dulu pada ibunya Shopia? Mungkin Kakak bisa mengajak Bu Kia sebagai penunjuk jalan," ucap Ganesha.


"Iya, Kak. Aku juga ingin tahu kebenarannya. Apa benar aku adik Kakak. Karena aku masih merasa tidak percaya kalau aku putrinya Tuan Jody."


"Aku mengerti, Shopia. Kita akan pergi ke sana bersama-sama setelah semuanya aman. Kakak tidak mau mempertaruhkan keselamatan kamu. Apalagi sekarang kamu sedang hamil besar. Shopia, apa kamu menyimpan nomor ponsel ibumu?"


"Ada Kak," ucap Shopia. Dia pun memberikan nomor ponsel Bu Kia pada Jordan. Beruntung tadi sempat bertukar ponsel saat mereka saling melepaskan rindu.


"Terima kasih, kalau ada apa-apa, nanti Kakak hubungi. Lebih baik kamu fokus saja dengan kehamilan kamu."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2