Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 13 Apa harus berdamai?


__ADS_3

Tidak ingin mendengarkan omongan kedua sahabatnya, Ganesha pun langsung berdiri dari duduknya. Dia berjalan menuju ke meja Shopia dan Eliza berada. Dia hanya diam mendengarkan apa yang kedua gadis perempuan itu bicarakan.


"Shopia, aku sudah mengerti semuanya. Kamu boleh kembali ke tempatmu," ucap Eliza.


"Apa kamu yakin?" tanya Shopia dengan melihat ke arah Eliza.


"Tentu saja! Aku bukan orang bodoh yang harus berkali-kali mendengarkan ucapan kamu itu."


"Baiklah, kalau kamu sudah mengerti. Semoga kamu bisa bekerja dengan baik," ucap Shopia. "Kalau begitu aku permisi," lanjutnya.


Shopia langsung berdiri dari duduknya. Dia sempat terkejut melihat Ganesha yang sedang melihat ke arahnya. Dia pun hanya membungkukkan sedikit badannya lalu pergi begitu saja. Begitupun dengan Ganesha yang langsung menuju ke ruangannya tanpa ada niat untuk menyapa Eliza terlebih dahulu.


"Ke mana wanita itu? Bukankah tadi sudah pergi lebih dulu?" gumam Ganesha saat tidak mendapati istrinya.


Dia langsung memeriksa kamera CCTV dari ruangan Eliza. Melihat ke mana Shopia pergi setelah dari ruangan. Saat melihat tujuannya toilet, dia pun menutup rekaman itu.


Apa aku harus mulai berdamai dengan dia? Setidaknya, aku bisa menahan dia untuk tetap disisi aku. Meskipun aku tidak mencintainya tapi dia bisa membuat aku terbang melayang. Entah kenapa, saat dulu Dora menggodaku dan mengajakku melakukan hal yang belum pernah kami lakukan, aku justru menolaknya. Tapi saat malam itu, antara sadar dan tidak, aku begitu menikmati setiap inci tubuh Shopia. Padahal perawakan Shopia dan Dora sangat jauh berbeda.


Tok tok tok


"Masuk!" suruh Ganesha.


Terlihat Wenny masuk dengan berkas di tangannya. Dia berjalan bak putri keraton mendekat ke arah Ganesha. Gadis itu pun tersenyum manis sebelum dia berbicara.


"Permisi, Tuan. Ini berkas yang harus Tuan tandatangani," ucap Wenny dengan lemah lembut.


"Simpan saja di mejaku, kamu boleh keluar!"


"Baik, Tuan!"


Wenny pun berjalan berlenggak-lenggok memperlihatkan bumper yang lumayan menggoda iman. Dia berharap, bosnya akan melirik ke arahnya setelah perpisahannya dengan Dora. Karena Wenny tahu kalau pernikahan Ganesha dan Shopia terpaksa, jadi dia berpikir pasti ada kesempatan untuknya merebut hati laki-laki tampan itu.


"Wenny!" panggil Ganesha.


"Iya, Tuan!" sahut Wenny segera membalikkan tubuhnya.


"Besok, jangan kamu pakai lagi rok itu. Mataku perih melihatnya. Lebih baik kamu pakai rok yang dibawah lutut," ucap Ganesha tanpa hati.


"Baik, Tuan!" Wenny cepat-cepat pergi dari ruangan Ganesha dengan hati yang menggerutu.

__ADS_1


Tuan Anez tidak tahu fashion apa? Padahal dulu Dora selalu pakai baju seksih. Aku kan hanya mengikuti mantan tunangannya itu, biar dia menjadikan aku sebagai penggantinya.


"Mbak Wenny kenapa? Apa habis dimarahi?" tegur Shopia saat berpapasan dengan Wenny.


"Kepo banget sih kamu. Belagu banget baru jadi istri yang tidak diinginkan juga," semprot Wenny.


Shopia hanya mengusap dada. Setelah hari itu, memang sebagian dari teman kerjanya begitu berani padanya dan selalu melihatnya dengan tatapan jijik. Mereka bahkan tidak segan untuk menyindir dan menghinanya langsung. Tapi Shopia hanya diam, dia bersikap acuh tak acuh dengan sikap mereka. Dia yakin, kebenarannya pasti akan terungkap.


"Permisi, Tuan! Saya sudah ...."


"Dari mana dulu kamu? Kenapa sangat terlambat datang ke sini?" potong Ganesha.


"Maaf tadi dari toilet dulu," jawab Shopia.


"Aku tahu. Apa ke toilet kamu butuh waktu satu jam?"


Satu jam bagaimana? Cuma lima belas menit.


Ganesha langsung mendekat ke arah Shopia, satu tangannya menarik wanita cantik itu menuju ke ruang pribadi. Mengingat malam itu, membuat Ganesha menginginkan untuk mengulangnya kembali. Ditambah melihat bumper Wenny, membuat dia langsung teringat dengan milik istrinya yang membuatnya mabuk.


"Sudah aku bilang, jangan formal saat kita hanya berdua ataupun saat di luar kantor. Kalau kamu melakukannya lagi, aku tidak akan segan melakukan hal ini di mana pun. Apa kamu mengerti Shopia?" tanya Ganesha dengan tatapan lapar ingin segera menikmati candunya.


"I-iya, Mas. Tapi bukannya Mas ada meeting?"


...***...


Saat matahari tepat berada di atas kepala. Semua karyawan pun berhamburan ke luar untuk makan siang. Tidak terkecuali dengan Shopia dan Zara. Kedua sahabat itu sudah sepakat untuk makan siang bersama, sedangkan Ganesha sedang meeting di luar kantor.


"Shopia, apa kamu akan datang ke acara ulang tahun Eliza nanti malam? Dia mengundang semua staff keuangan loh, katanya sebagai salam perkenalan," ucap Zara di sela-sela makannya.


"Tidak. Aku kan tidak begitu kenal sama dia," jawab Shopia.


"Aneh, ya? Padahal, kamu yang mengajari dia. Tapi kenapa kami tidak diundang?"


"Sudahlah, biarkan saja. Lagi pula aku lelah ingin istirahat."


Pantas saja Mas Anez ingin dibawakan baju ganti. Rupanya dia sudah mendapatkan undangan dari Eliza, batin Shopia.


"Oh, Iya. Akhir minggu ini aku mau pindahan ke rumah baru. Kamu kapan pindah ke sananya?" tanya Zara mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Gak tahu. Tapi mau aku bersihkan saja. Biar bisa nginap di sana kalau aku lagi suntuk."


"Iya, benar. Biar aku ada temannya. Pasti sepi deh. Biasanya di kost-kostan rame," keluh Zara.


"Biar gak sepi, kamu cepat cari pasangan. Nunggu apa lagi coba? Kalau ada yang serius mendingan kamu terima saja."


"Entahlah! Aku merasa belum ada yang sreg aja."


"Iya, lebih baik mencari laki-laki yang mencintai kita dari pada kita yang harus mencintai sendiri. Rasanya sangat melelahkan."


"Kalau sudah tidak kuat lebih baik menyerah saja."


"Aku baik-baik saja. Mungkin nanti, saat cicilan rumahku lunas."


"Rumah apa maksud kamu?" celetuk Ganesha yang baru datang menghampiri kedua gadis itu.


Apa yang harus aku katakan? Tidak mungkin aku bilang ambil rumah buat jaga-jaga, batin Shopia.


"Oh, anu Mas. Aku mau beli rumah tapi ingin yang cicilannya lunas," jawab Shopia gugup.


"Buat apa beli rumah lagi? Memangnya rumah yang sekarang tidak nyaman?" tanya Ganesha seraya mendudukkan bokongnya di samping Shopia.


Rumahnya sangat nyaman, tapi hubungan dalam rumah itu yang tidak nyaman, batin Shopia.


"Nyaman, kho Mas. Aku hanya ingin belajar investasi. Agar nanti bisa hidup mandiri."


"Kamu yakin dengan jawabanmu?" tanya Ganesha dengan menyelidik Shopia.


"Tentu saja aku yakin. Memang ada yang salah?"


"Ada. Kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku," jawab Ganesha datar. "Shopia, saat jam pulang kerja, kamu tunggu di ruanganku. Kita berangkat bersama ke acara ulang tahun Eliza"


"Aku tidak bisa. Aku tidak bawa baju," tolak Shopia.


"Kenapa kamu tidak siapkan? Bukankah aku sudah menyuruhnya?"


"Sudah, tapi hanya punya Mas Anez."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote, dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2