
Bagaimana dia menanam, begitulah dia menuai. Mungkin itu yang cocok disematkan pada Eliza. Karena dia bekerja asal-asalan, ditambah lagi dengan permintaan Tuan Jody, membuat Ganesha akhirnya memantapkan hati untuk memecat Eliza.
"Piero, panggil Eliza ke sini!" suruh Ganesha.
"Kamu yakin, mau memecat dia?" tanya Piero merasa tidak percaya dengan apa yang akan sahabatnya itu lakukan.
"Aku hanya mengikuti keinginan papanya agar Eliza bekerja di perusahaan milik mereka. Sudahlah, cepat panggilkan dia!" suruh Ganesha.
Tanpa bicara lagi, Piero berlalu pergi meninggalkan Ganesha. Dia langsung menuju ke ruangan Eliza. Saat sampai di sana, nampak Eliza yang sedang menumpukan dagunya pada tangan yang saling bertautan.
"Eliza, kamu ditunggu oleh Tuan Anez," ucap Piero saat sudah ada di depan meja Eliza.
"Ada apa memanggil aku? Bukankah soal laporan keuangan sudah clear?"
"Sudah! Tapi mungkin, dia mau minta pertanggung jawaban kamu."
"Maksud kamu? Aku kan udah bertanggung jawab. Apalagi yang harus aku lakukan untuk mempertanggungjawabkannya," tanya Elisa.
"Entahlah! Kamu tanyakan saja langsung pada Anez. Aku hanya mengikuti perintahnya," ucap Piero
"Baiklah calon suami! Aku akan menemui bos kamu," sahut Eliza enteng.
Piero hanya tersenyum tipis mendengar apa yang Eliza katakan. Entah apa yang akan terjadi nanti, saat Eliza tahu kalau Ganesha akan memecat dirinya.
Keduanya pun beranjak pergi menuju ke ruangan Ganesha. Mereka langsung masuk ke dalam ruangan Ganesha setelah diizinkan oleh si pemilik ruangan. Saat sudah berada di dalam, ternyata Ganesha sedang memijat keningnya. Entah apalagi yang terjadi pada laki-laki itu, sepertinya dia terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan serius.
"Anez, ada apa kamu memanggil aku?" tanya Eliza.
"Duduklah dulu! Ada hal yang harus aku bicarakan padamu," ucap Ganesha.
Tanpa bicara, Eliza duduk seperti apa yang Ganesha katakan. Dia terus melihat wajah Ganesha yang sepertinya sedang banyak pikiran. Sampai akhirnya Ganesha membuka suaranya.
__ADS_1
"Eliza, aku minta maaf karena harus mengikuti peraturan perusahaan yang sudah dibuat dari awal perusahaan ini berdiri. Dengan sangat menyesal, aku harus memberhentikan kamu dari pekerjaan kamu yang sekarang. Agar tidak ada kecemburuan dari karyawan lain," ucap Ganesha dengan menatap wajah Eliza yang terlihat kaget.
"Bagaimana bisa, Anez. Aku hanya melakukan satu kesalahan, kenapa harus diberhentikan?"
"Kesalahan fatal kamu memang hanya satu tapi kamu keluar masuk kantor sesuka hati kamu. Bahkan kamu sering bolos kerja tanpa keterangan. Pihak HRD tidak ada yang berani menegur kamu, karena kamu rekomendasi dari aku langsung. Kalau saja kamu tidak melakukan kesalahan itu, mungkin aku tidak akan pernah tahu apa yang kamu lakukan di perusahaan aku."
"Anez, kenapa kamu mempermasalahkan hal itu? Bukankah kita sahabat?"
"Kita bersahabat di luar jam kerja tapi di saat jam kerja kamu tetap bawahan aku. Aku harap kamu mengerti Eliza!"
"Baiklah, kalau keputusan kamu susah final. Aku masih bisa bertemu denganmu nanti di rumah kamu, kan. Ya sudah aku pulang ya! Bye Anez ...." Eliza bangun dari duduknya dengan memberikan kiss bye terlebih dahulu sebelum dia meninggalkan ruangan Ganesha. Membuat kedua pria tampan itu melongo dibuatnya.
"Aku gak salah lihat?" tanya Piero dengan mengucek matanya sendiri. Dia merasa tidak percaya dengan perubahan pada diri Eliza yang berubah drastis.
"Mungkin dia sedang kesambet hantu genit. Piero, kapan kamu akan menikah? Om Jody menawarkan kerjasama dengan nilai yang fantastis. Aku masih memikirkan tawaran dia karena aku merasa heran dia mau kerjasama dengan nilai yang sangat besar."
"Aku lusa menikah. Mungkin besok gak masuk kerja," ucap Piero enteng.
"Entahlah, mama yang ngatur. Aku juga tidak menyangka, mama mau membela aku di depan Papa. Saat waktu itu, kita bicara dengan Om Jody, malamnya papa menelpon dan memarahi aku. Katanya dia tidak akan mengakui Sania sebagai menantunya," ucap Piero dengan kedua satu sudut bibirnya terangkat.
"Piero, apa kamu serius akan menikah dengan Sania? Bukankah kalian hanya berpura-pura pacaran?"
"Entahlah Anez. Aku tidak tega melihatnya, saat dia dicampakkan oleh tunangannya karena memilih gadis lain. Aku jadi teringat Vero, makanya aku ingin menjaga dia."
"Aku minta maaf soal Vero. Karena aku tidak bisa mengejar penculik itu, adik kamu jadi tidak bisa diselamatkan," sesal Ganesha.
"Jangan terus-terusan menyalahkan diri kamu sendiri. Hilangnya Vero, memang sudah direncanakan oleh Papa. Ada masalah orang tua yang tidak bisa kita ketahui. Kita sebagai anak-anak hanya menjadi korban kebohongan mereka," ucap Piero sendu.
"Lalu dimana Vero? Apa papa kamu memberi tahu keberadaannya?"
"Tidak, Papa tidak akan mungkin memberitahu keberadaan Vero. Kamu tahu sendiri papaku seperti apa."
__ADS_1
"Sudahlah! Kita doakan saja, dimana pun Vero berada, semoga dia baik-baik saja."
"Iya, aku hanya bisa berdo'a untuk kebaikan dia."
...***...
Sementara jauh dari kantor Ganesha, nampak seorang laki-laki tampan dengan badan yang tinggi tegap terlihat membawa begitu banyak tentengan makanan di tangannya. Jordan kembali datang ke rumah Shopia untuk mengirimkan makanan kesukaan mereka dulu semasa kecil. Jordan berharap Adiknya yang waktu dulu hilang masih usia balita itu dapat mengingatnya.
Ting tong ting tong
Berkali-kali Jordan menekan bel yang ada di samping pintu rumah Ganesha. Sampai akhirnya ada seseorang yang membukanya. Dia tersenyum senang saat melihat wajah cantik Shopia yang datang menyambutnya.
"Siang, Shopia!" sapa Jordan.
"Siang, loh Kak Jordan ada apa ya? Maaf Kak, di rumah sedang tidak ada orang, Sania dan Bi Sari sedang pergi ke pasar, kita ngobrol di teras saja ya, biar tidak ada yang berprasangka buruk."
"Boleh, Kakak tidak lama kho! Hanya mau mengantarkan ini. Dimakan ya! Ini makanan kesukaan aku dan adikku. Mama sering membuat kan-nya untuk kami," ucap Jordan.
"Iya, makasih Kak." Meskipun merasa tidak enak hati, Shopia akhirnya menerima juga karena dia lebih tidak enak hati jika menolak pemberian orang.
Kak Jordan kenapa suka sekali membawa makanan kesukaannya ke sini. Apa dia mengira aku adiknya? Padahal tidak mungkin aku ini tiba-tiba jadi anak orang kaya seperti Tuan Jody yang memiliki banyak perusahaan. Apalagi menjadi saudara Eliza yang sombong itu, batin Shopia.
Mereka berdua pun akhirnya larut dalam obrolan, sampai tidak menyadari ada seseorang yang sedang mengarahkan kameranya ke arah rumah Shopia. Orang itu tersenyum miring mendapatkan foto-foto Shopia yang sedang asyik berbincang dengan Jordan. Dia pun segera mengirimkan foto-foto itu pada Ganesha.
Good job, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Aku memang hebat! Bisa menghancurkan tiga orang sekaligus. Maaf Anez, karena kamu membuang aku, maka aku akan menghancurkan kebahagiaan kamu. Saat aku tidak bisa memiliki kamu, maka wanita lain pun tidak boleh bahagia bersama kamu.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1