Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 78 Kabur


__ADS_3

Sebuah rumah yang asri dengan taman bunga di sekelilingnya menjadi saksi bisu bagaimana Lucy melakukan kejahatannya. Dia sudah tidak bisa mengelak lagi saat semua kesaksian dari para saksi memberatkannya.


Jordan dan Jody bermain cantik untuk menangkap wanita licik itu. Sebelum mereka mendapatkan bukti kuat dan menjamin keselamatan semua saksi, mereka terlihat tidak melakukan apapun.


Padahal diamnya ayah dan anak itu, sedang mengumpulkan semua bukti dan melumpuhkan kekuatan Keluarga Jean Levi di tanah air dengan membeli lebih banyak saham di perusahaannya dan menghilangkan semua koneksi Lucy pada sekutunya.


Namun, tetap saja berita ditangkapnya Lucy sampai juga ke telinganya. Membuat Jody merasa khawatir kalau tiba-tiba saja ada orang yang mencelakai anak-anaknya. Karena dia sendiri, sedang menunggu waktu agar bisa secepatnya bertemu dengan Clara.


"Papa, sudah terlalu lama Papa duduk di sini. Langit sudah mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan." Jordan mengingatkan papanya yang sudah lebih satu jam berjongkok di depan makan Clara.


"Jordan, bukankah hari ini akan ada rekam jejak, kenapa mereka belum tiba di sini? Apa harinya diundur?" tanya Tuan Jody. Mereka memang sengaja datang lebih dulu dari yang lainnya.


Jordan tidak menjawab ucapan papanya. Laki-laki muda melihat ke arah jam tangan rolex yang menghiasi pergelangan tangan kirinya. Dia sedikit mengerutkan keningnya karena memang seharusnya tiga puluh menit yang lalu Lucy dan yang lainnya sudah tiba di tempat kejadian perkara.


"Mungkin mereka telat datang. Sebentar aku tanyakan dulu pada komandan Arjuna," ucap Jordan.


Dia pun langsung mengambil ponsel yang di simpan di kantong jasnya. Jordan pun segera menghubungi Komandan Arjuna. Tidak perlu menunggu lama, panggilan teleponnya langsung diangkat.


"Halo, di sini dengan Komandan Arjuna." terdengar suara Komandan itu di seberang sana.


"Komandan, ini Jordan. Apa hari ini akan rekam jejak di rumah mamaku?" tanya Jordan.


"Itulah masalahnya Tuan, Nyonya Lucy ada yang membawa kabur. Tim kami sedang mengejarnya."


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Ada yang menyerang petugas kami, saat kami memasuki terowongan. Sepertinya kedatangan tim kami sudah ditunggu oleh mereka, sehingga banyak petugas yang terluka dengan serangan dadakan itu. Sebaiknya kalian berhati-hati di sana.


"Baik, Komandan. Terima kasih informasinya."


Jordan segera menutup panggilan teleponnya. Terlihat jelas raut wajah kepanikan di wajah tampannya. Namun, Tuan Jody hanya tersenyum samar menanggapinya.

__ADS_1


"Jangan panik! Bukankah kamu sudah siap menghadapi semuanya? Kita hadapi bersama-sama," ucap Tuan Jody dengan menepuk pundak putranya.


"Pah, bagaimana dengan Shopia dan yang lainnya? Mereka juga dalam perjalanan ke sini," tanya Jordan cemas.


"Suruh mereka putar balik, kalau tidak bisa putar balik, suruh mobilnya masuk ke perkebunan. Jangan sampai mereka melihatnya. Apalagi, Shopia sedang hamil besar. Akan sangat bahaya jika mereka melakukan hal yang tidak kita harapkan."


Baru saja Tuan Jody selesai bicara, terdengar suara mobil yang memasuki pekarangan rumah. Jordan langsung melihat siapa yang datang, ternyata Ganesha, Shopia, Piero, Bu Kia, Louis dan Bi Ratmi. Mereka memang sengaja datang untuk melakukan olah TKP.


"Lebih baik kita segera kembali, sebelum mereka datang ke mari," ajak Jordan.


"Apa maksud Kakak? Kita baru saja sampai," tanya Shopia bingung.


"Lucy kabur, polisi sedang mencarinya."


"Kakak, bolehkan aku melihat makam mama dulu?" tanya Shopia.


"Ayo, Nak! Tapi kita tidak bisa lama di sini, berbahaya! Karena rumah ini jauh dari pemukiman warga," ajak Tuan Jody.


Kalau rumah ini berbahaya, kenapa dulu Papa menyuruh Mama tinggal di sini. Sampai ada orang yang mencelakai saja tidak ada yang menolong, batin Shopia.


"Mama, maafkan aku tidak bisa menjaga Mama. Semoga Mama tenang berada di sisi-NYA," ucap Shopia.


"Clara, sebentar lagi kita kaan memiliki cucu. Lihat, mungkin cucu kita akan segera lahir."


"Pah, kita harus bergegas pulang. Ada mobil berplat JL mengarah ke sini. Itu pasti milik Keluarga Jean Levi," ajak Jordan cemas.


"Kalian pulanglah dulu, Papa ingin tahu apa yang akan mereka lakukan," suruh Tuan Jody.


"Tidak, Pah. Aku tidak akan membiarkan Papa sendiri di sini. Cepat Anez bawa Shopia dan yang lainnya kembali ke mobil," suruh Jordan.


Tuan Jody akhirnya mengikuti keinginan putranya untuk ikut pulang bersama mereka. Namun, sepertinya mereka berpapasan saat mobil Ganesha akan masuk ke jalan raya dan beberapa mobil berplat JL akan masuk ke daerah rumah yang berada di tengah bukit itu.

__ADS_1


"Piero, bukankah itu mobil yang berplat JL?" tanya Shopia yang melihat lebih dulu.


"Iya benar. Astaga, kita harus secepatnya pergi dari sini. Benar gudaan Kak Jordan, mereka akan ke rumah itu," timpal Ganesha. "Ayo Piero, percepat mobilnya!"


Piero semakin mempercepat mobilnya untuk menghindari kejaran mobil plat JL itu. Tidak jauh beda dengan mobil Jordan yang dibawa oleh supir. Membuat semua yang ada di dalam mobil terlihat panik.


Dor!


Terdengar bunyi sebuah peluru yang keluar dari sarangnya. Untung saja, bidikannya melesat. Namun, meskipun demikian perut Shopia menjadi kontraksi. Wanita hamil itu hanya meringis menahan rasa takut, cemas dan rasa sakit di perutnya.


"Shopia, apa perutmu sakit?" taya Ganesha yang menyadari kalau istrinya meringis kesakitan.


Shopia hanya mengangguk untuk mengiyakan ucapan suaminya. Karena mulutnya seakan terkunci, tidak dapat berkata-kata.


"Piero, cari rumah sakit atau klinik terdekat!" suruh Ganesha.


"Iya, Nez. Tapi kita masih berada di sekitar hutan lindung," ucap Piero. dengan terus menjalankan mobilnya.


"Ya ampun, Nak! Apa kamu mau melahirkan?" tanya Kia panik saat melihat Shopia sudah bercucuran keringat dengan wajah yang terlihat pucat.


"Anez, cepat hubungi Elgar, minta dikirim Helikopter ke sini. Jarak dari sini ke rumah sakit jauh. Sial, kenapa Lexi lama sekali mengecoh mereka," gerutu Piero. "Bertahanlah Shopia! Aku akan menambah kecepatan."


Ganesha pun segera menghubungi Elgar seperti yang dikatakan oleh Piero. Meskipun dia merasa sungkan, akhirnya dia minta tolong juga pada Elgar. Sesuai perintah Elgar, mereka segera mencari tanah lapang sesuai perintah Elgar.


Benar saja, tidak lama mereka tiba di tanah lapang, terlihat dua helikopter menurunkan pasukan khusus untuk memburu yang tadi mengejar Shopia dan yang lainnya. Sementara Shopia langsung digendong oleh Ganesha masuk ke dalam helikopter dan dibawa ke rumah sakit milik Keluarga Mahardika.


"Anez, apa mereka pasukan Keluarga Wiratama?" tanya Tuan Jody saat sudah berada di dalam helikopter.


"Iya, Om. Aku meminta tolong pada mereka untuk menjaga Shopia."


...~Bersamhung~...

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2