Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 49 Papa Egois


__ADS_3

Terlihat jelas ketegangan di dalam ruangan yang didominasi oleh warna coklat susu itu. Seperti seorang terpidana, Piero duduk di depan papa nya yang baru pulang dari luar negeri. Wajah mereka terlihat tegang, karena papanya mendapati Piero sedang tidur bersama dengan seorang gadis yang tidak dikenalnya.


"Piero, siapa gadis itu? Kenapa kalian tidur bersama?" tanya Yongki, papanya Piero.


"Dia anak buah aku. Kemarin dia sakit sepulang perjalanan dinas di luar kota. Kebetulan bersama aku. Jadi aku membawanya ke sini."


"Syukurlah! Papa harap kamu tidak dekat dengan gadis mana pun. Karena seminggu lagi, kamu akan bertunangan dengan Eliza," ucap Yongki.


"Papa yang benar saja, aku dan Eliza berteman baik. Mana mungkin aku menikah dengan dia. Lagipula aku ...."


"Apa kamu mencintai gadis itu? Kalau kamu memang benar mencintai gadis itu, maka kamu harus menurut pada Papa. Karena kalau menolaknya, Papa akan mempersulit gadis yang kamu cintai."


"Kenapa Papa egois sekali? Apa tidak ada ancaman lain selain mempersulit hidup orang-orang yang aku sayangi? Apa mungkin, dulu juga Papa yang sengaja menculik adikku? Karena aku menyayanginya. Meskipun dia bukan adik kandungku."


"Jaga bicara kamu, Piero! Untuk apa Papa menculik anak Papa sendiri? Tapi harus kamu ingat, Papa tidak pernah main-main dengan apa yang Papa katakan."


Papa egois sekali. Setiap kali datang, dia hanya ingin menekan aku untuk melakukan semua hal yang dia inginkan. Sekali pun tidak pernah menanyakan kabar aku. Beruntung orang tua Anez selalu memperlakukan aku seperti anaknya, batin Piero.


"Baiklah, kalau itu mau Papa. Asal Papa jangan mengganggu orang-orang yang ada di sekeliling aku."


"Bagus, itu baru anak Papa." Yongki tersenyum puas mendengar jawaban dari putranya.


Hanya bertunangan kan? Masih bisa batal nikah seperti Sania, batin Piero.


Saat kedua ayah dan anak itu saling terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Terdengar suara bel apartemen berbunyi. Piero pun beranjak untuk membukakan pintu. Terlihat Ganesha berdiri di depan pintu apartemennya.


"Masuk! Ada yang ingin papa bicara dengan kamu," suruh Piero.


"Kenapa tidak datang ke kantor?" tanya Ganesha heran.


"Entahlah, mungkin ada hal penting yang ingin dia sampaikan padamu."


"Ayo!" Shopia menarik tangan istrinya agar ikut masuk ke dalam apartemen.

__ADS_1


Dia pun langsung mencium punggung tangan Yongki yang diikuti oleh Shopia. Yongki menyelidik wajah Shopia yang menurut mirip dengan seseorang saat masih muda. Namun, dia diam saja tidak mengatakan apapun pada mereka.


"Apa kabar, Om? Aku kaget, disuruh ke sini oleh Piero. Apa ada hal penting, Om?"


"Duduklah dulu! Apa ini istrimu? Om minta maaf tidak datang ke acara pernikahan kalian."


"Tidak apa, Om. Minta do'anya saja," ucap Ganesha.


"Shopia, lebih baik kamu temani Sania saja di kamar. Kemarin kehujanan, jadi langsung sakit," ucap Piero.


"Tidak apa, Mas kalau aku msuk ke kamar?" tanya Shopia.


"Tidak apa, kamarnya bersih kho."


"Baiklah, aku pergi dulu, Mas. Mari, Om!" pamit Shopia.


Dia langsung saja meninggalkan para lelaki itu. Entah apa yang akan mereka bicarakan, dia tidak mau ikut campur ataupun ingin tahu. Shopia masuk ke kamar Piero yang di dominasi oleh warna biru langit dan begitu banyak miniatur doraemon dipajang dalam sebuah bufet khusus.


"Mendingan, Mbak. Hanya saja kepalaku masih terasa pusing," jawab Sania.


"Pasti karena habis berantem dengan Parto. Maaf ya Sania, aku jadi merepotkan."


"Tidak, Mbak. Aku tidak terkena pukulan yang mematikan dari Parto. Kemarin pulang dari sana kehujanan saat mampir ke rest area."


"Sania, apa papanya Mas Piero tahu kalau kamu ada di sini?"


"Tahu, Mbak. Tadi dia marah besar saat melihat aku tidur di sini. Padahal aku juga tidak tahu kenapa bisa ada di sini," ucap Sania sendu.


"Sudah tidak apa. Kamu tinggal di rumahku saja. Kata Mas Anez, mau jadi pengawal aku. Lagipula biar ada yang menemani aku di rumah," ucap Shopia dengan tersenyum ramah.


"Makasih, Mbak Shopia. Aku pasti akan menjaga Mbak dan bayi yang ada dalam kandungan, Mbak."


"Seharusnya aku yang berterima kasih pada. Berkat pertolongan kamu, aku bisa selamat dari bahaya. Terima kasih Sania. Meskipun telat, tapi tidak apa kan?"

__ADS_1


"Sudah kewajiban aku menolong Mbak Shopia. Kalau waktu itu aku sampai lengah, sudah pasti aku dicincang sama Mas Piero. Dia memang baik, tapi kalau sudah berada di organisasi kami, dia terlihat seperti seekor singa yang siap menerkam."


"Organisasi? Organisasi apa maksud kamu?" tanya Shopia heran.


"Oh, itu Mbak. Satuan pengamanan perusahaan. Jadi seperti satpam atau bagian pengamanan cyber. Mendapatkan pelatihan khusus di sana. Kebetulan aku mendaftar jadi satpam wanita. Hehehe ... Aku hanya lulusan SMA jadi tidak bisa bekerja seperti Mbak Shopia," ucap Sania cengengesan.


"Tidak apa. Kamu masih muda, masih bisa melanjutkan kuliah kalau kamu mau."


"Iya juga sih, Mbak. Umurku baru dua puluh dua tahun. Mungkin tidak telat kalau aku kuliah lagi."


Aku jadi ingin kuliah, biar bisa membuktikan pada Rodeo kalau aku juga bisa orang sukses.


"Aku juga kuliah sambil kerja kalau kamu ingin tahu. Waktu itu, aku ikut mendaftar beasiswa. Kalau tidak begitu rasanya repot cari uang untuk biaya hidup dan kuliah. Kalau ingat masa itu, aku hanya bisa bersyukur karena usahaku tidak sia-sia. Aku juga bisa lulus dengan nilai yang memuaskan," kenang Shopia.


"Baiklah, Mbak. Aku akan mencari universitas yang ramah dikantong aku. Karena aku juga harus mengirim uang ke kampung untuk nenek."


Keduanya asyik berbincang. Sudah seperti teman lama, Shopia dan Sania menjadi cepat akrab. Apalagi background keluarga mereka yang tidak jauh beda. Membuat keduanya terasa memiliki teman seperjuangan. Sampai akhirnya Ganesha dan Piero datang menghampiri kedua wanita cantik itu.


"Sania, bagaimana keadaan kamu? Setelah kamu sembuh nanti. Kamu tidak perlu kantor tapi menjaga istriku di rumah. Karena dia tidak akan bekerja lagi di kantor," ucap Ganesha.


"Mas, berarti aku dipecat?" tanya Shopia dengan wajah serius.


"Bukan dipecat, tapi kamu sendiri yang memilih ke luar dari perusahaan. Apa kamu lupa, kalau semua karyawan yang mangkir selama lima hari berturut-turut, berarti dia keluar dengan tidak terhormat. Coba hitung, berapa Ibu Shopia Martin mangkir dari perusahaan?" tanya Ganesha dengan mencolek hidung istrinya.


"Satu bulan lebih. Aku pikir itu hanya berlaku untuk karyawan bukan untuk istrinya CEO," ucap Shopia dengan wajah melas.


"Kamu lebih baik di rumah saja menjaga anak kita. Persiapan diri kamu menjelang kelahiran anak kita. Aku tidak mau kelelahan karena harus bekerja di kantor," Ganesha mengelus tangan istrinya dengan lembut membuat Sania menjadi malu melihatnya. Sementara Piero hanya tersenyum samar melihat apa yang sahabatnya itu lakukan.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2