
Entah mendapatkan keberanian dari mana, Shopia mengerlingkan matanya nakal pada Ganesha. Tangannya menulis abstrak di dada dan tangan Ganesha.Tentu saja membuat laki-laki tidak bisa menahan libidonya yang mendadak mencuat mendapatkan godaan dari istrinya. Dia tidak menyadari kalau kedua gadis cantik yang sedang bersamanya perang mata.
'Cih! Cewek murahan, tidak tahu malu menggoda Anez di depanku,' kata hati Eliza dengan mata yang melotot ke arah Shopia.
'Kamu lihat! Anez tidak bisa tahan saat aku goda. Tunggu saja beberapa saat lagi, suamiku pasti akan segera pergi dari sini,' kata hati Shopia dengan melirik ke arah Eliza.
"Eliza, ini bukunya. Kalau kamu ingin membacanya di sini, tidak apa kan kalau sendiri. Aku tidak bisa menemani kamu," ucap Ganesha seraya memberikan buku yang Eliza inginkan.
"Aku tidak berani kalau sendiri di sini. Memang kamu tidak mau menemani aku?"
Mendengar apa yang Eliza katakan, membuat Shopia semakin memberikan rangsangan dengan gerakan-gerakan abstrak di dada laki-laki itu. Tentu saja hal itu membuat Ganesha tidak bisa menahannya untuk segera menggempur istrinya.
"Tidak bisa Eliza. Aku minta maaf, biar nanti aku suruh Piero untuk menemani kamu. Aku pergi dulu." Ganesha langsung menarik tangan Shopia sampai wanita itu hampir terjerembab. Dia benar-benar sudah tidak bisa menahan hasratnya. Apalagi, selama dua hari ini dia tidak membuat adonan bersama dengan istrinya.
"Aw, Mas Anez kakiku terkilir." Shopia meringis memegang kakinya. Membuat Ganesha langsung menghentikan langkahnya. Dia lupa kalau Shopia memakai high heels yang sudah pasti tidak bisa diajak jalan cepat-cepat. Apalagi tadi dia sampai menariknya.
Tanpa bicara lagi, Ganesha langsung mengangkat tubuh istrinya dengan gaya bridal style. Eliza yang melihat semua itu, matanya hampir keluar semua dengan mulut yang mengerucut sebal.
Berbeda dengan Shopia yang tertawa senang dalam hatinya, karena ternyata Ganesha lebih mementingkan dirinya dibanding gadis sombong itu. Dia pun tersenyum dengan mengangkat alisnya sebelah saat melihat ke arah Eliza.
"Kamu senang bisa mengalahkan Eliza?" tanya Ganesha yang melihat senyum mengejek Shopia pada gadis itu.
"Mengalahkan apa, Mas? Aku tidak mengerti."
"Berpura-pura saja. Aku pun akan berpura-pura tidak tahu. Tapi, aku akan tetap meminta bayaran padamu karena sudah membantu kamu memenangkan persaingan."
"Maksud, Mas?"
"Kamu pasti mengerti maksud aku. Bukankah kamu yang memintanya. Sekarang sudah tidak terlihat oleh Eliza. Turunlah, badanmu berat sekali!" Ganesha langsung menurunkan Shopia saat mereka sudah sampai di anak tangga.
Ternyata ekspektasi aku terlalu tinggi, aku pikir Mas Anez sudah mulai berubah, ternyata sama saja. Tapi biarlah, yang penting Eliza tahu kalau suamiku tidak mungkin tergoda olehnya, batin Shopia.
"Naiklah duluan, aku akan bicara sebentar dengan Piero. Ingat, tunggu aku di kamar dan siapkan dirimu untuk mendapatkan hukuman dariku."
__ADS_1
"Iya, Mas. Aku naik sekarang." Shopia setengah berlari menaiki anak tangga.
Sementara Ganesha hanya menggelengkan kepalanya melihat Shopia yang berlari. Dia tersenyum tipis mengingat sandiwara istrinya. Saat tadi Shopia mengeluh kakinya terkilir. Setelah Shopia sudah tidak terlihat lagi, Ganesha langsung mencari Piero.
"Bro, temani Eliza di perpus. Aku harus masih tidak enak badan ingin istirahat," suruh Ganesha dengan memegang tengkuknya sendiri.
"Oh, okay. Cepat sehat ya? Aku ke sana dulu." Piero langsung bangun dari duduknya. Dia segera menuju ke perpustakaan untuk menemani Eliza. Sementara Ganesha segera bergegas menuju ke kamarnya.
Sesampainya di sana, Ganesha tidak melihat Shopia di tempat tidur. Dia pun mencari ke kamar mandi. Namun tetap tidak ada, akhirnya Ganesha menemukan Shopia sedang menopang dagu di pagar pembatas balkon dengan mata melihat ke arah perpustakaan.
"Apa kamu takut, aku kembali ke sana?" tanya Ganesha dengan mencium tengkuk Shopia.
"Aku hanya penasaran, apa yang akan Mas lakukan?" Shopia pun membalikkan badannya hingga sekarang berhadapan dengan Ganesha.
"Aku memang tidak mencintai kamu, Shopia. Tapi aku tidak suka milikku dipandang sebelah mata oleh orang lain." Ganesha merapatkan tubuhnya dengan Shopia. Dia mengikis jarak di antara keduanya. Sampai akhirnya pertautan bibir itu tidak dapat dihindari lagi.
Keduanya sama-sama terbuai. Apalagi dinginnya angin malam, membuat kedua insan itu sama-sama mencari kehangatan. Sampai saat hasrat sudah semakin memuncak dan menyesakkan, Ganesha langsung membopong Shopia seperti kanguru dan membawa wanita cantik itu ke tempat tidur.
"Shopia, sebagai bayarannya, aku minta kamu yang bergoyang. Puaskan aku, Shopia!" suruh Ganesha dengan suara seraknya. Serasa memakan buah simalakama, akhirnya Shopia mengikuti keinginan Ganesha.
Keesokan harinya, terlihat Shopia memunguti bajunya yang berserakan di lantai. Dia hanya tersenyum samar saat mengingat apa yang terjadi semalam. Sungguh malam yang tidak seperti malam-malam yang biasanya. Karena biasanya Ganesha yang selalu mendominasi, tapi saat tadi malam, Shopia pun ikut memerankan peranan penting dalam permainan mereka.
"Shopia, keringkan rambutku!" suruh Ganesha seraya mendudukkan bokongnya di tepi tempat tidur.
"Sebentar, Mas. Aku menyimpan dulu baju kotor ini," ucap Shopia.
Dia pun bergegas menyimpannya di keranjang baju kotor yang ada di depan pintu kamar mandi. Kemudian dia kembali menghampiri Ganesha dan mulai mengeringkan rambut suaminya.
"Shopia, aku suka permainan kamu tadi malam. Karena kamu sudah membuat aku senang, kamu bisa meminta sesuatu padaku."
"Apa boleh minta apapun?" tanya Shopia.
"Iya, boleh!"
__ADS_1
"Aku ingin sebuah mobil, Mas. Agar aku tidak perlu naik ojek saat Mas tinggalkan."
"Ternyata kamu sangat pintar, Shopia. Tapi baiklah, aku akan memberikannya. Sepulang dari sini, kita langsung ke showroom."
"Baik, Mas."
"Tapi, kamu harus memberikan jatah makan siangku dulu, sebelum kita pergi ke showroom. Aku ingin melakukan yang semalam lagi."
"Mas, memang tidak lelah? Mas kan baru saja sembuh."
"Tidak. Aku tidak selemah itu. Sudahlah! Ayo kita sarapan dulu, pasti Mama sama Papa sudah menunggu di bawah," ajak Ganesha.
Shopia pun langsung merapikan handuk bekas Ganesha pakai sebelum turun untuk sarapan. Saat dirasa kamarnya sudah rapi, Shopia pun bergegas mengikuti suaminya. Namun, dia sempat terkejut saat melihat Eliza ada di meja makan bersama dengan mertuanya. Rupanya gadis itu menginap. Begitupun dengan Piero yang langsung tersenyum melihat kedatangan mereka.
"Selamat pagi semuanya," sapa Shopia dengan tersenyum hangat.
"Pagi, Nak. Duduklah, kita mulai sarapannya." Prada pun langsung membalas senyum menantunya
"Pagi, Shopia." Kompak Galen dan Piero.
"Alu pikir kalian tidak menginap," ucap Ganesha dengan melihat ke arah Piero dan Eliza.
"Kita keasyikan baca buku sampai tidak terasa sudah larut malam. Saat akan pulang ditahan sama Tante," jelas Piero.
"Oh, kebetulan kalau begitu. Temani aku ke showroom!"
"Kamu mau ganti mobil?" tanya Piero kaget. Karena setahunya Ganesha beli mobil baru sebulan sebelum dia nikah.
"Bukan, Shopia ingin mobil. Aku mencari mobil buat dia."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....