
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, Jordan merasa sangat geram dengan apa yang ibu tirinya lakukan. Meskipun Lucy memperlihatkan sikap baik padanya, tetapi dia tidak bisa mengampuni apa yang sudah ibu tirinya itu lakukan pada mama dan adiknya.
Beruntung Jasmine adiknya yang berganti nama Shopia selamat dari racun itu, tapi besar kemungkinan mamanya tidak bisa diselamatkan. Makanya ayah dan anak itu tidak bisa menemukan keberadaan Clara.
Sesampainya di rumah megah yang gaya Eropa, Jordan masuk dengan tergesa-gesa. Dia masuk ke kamarnya mencari alat-alat yang selalu disimpannya di brangkas. Dia mengambil alat penyadap dan kamera tersembunyi yang menjadi mainannya saat dia sedang senggang.
Dengan memanjat balkon kamarnya, dia menyelinap masuk ke dalam kamar ibu tirinya. Dia menempelkan alat penyadap dan kamera tersembunyi di tempat yang terpisah. Yang tidak dapat terlihat jelas kalau tidak memperhatikannya dengan baik-baik. Setelah memasang semuanya, Jordan kembali keluar lewat pintu balkon yang dia bobol kuncinya.
"Petunjuk sudah jelas, aku tinggal mengumpulkan bukti yang kuat. Selain Mbok Ratmi, aku harus mendapatkan saksi kunci yang lain. Sepertinya aku harus mendatangkan Tante Ivon untuk menguatkan bukti," gumam Jordan.
Dia tidak peduli dengan ketakutan papanya pada persekutuan ibu tirinya. Dia yakin, keadilan pasti berpihak pada orang yang benar.
...***...
Sementara di sebuah kamar yang lumayan luas. Terlihat sepasang pengantin baru yang nampak malu-malu. Sania begitu kikuk berada di kamar Piero. Meskipun sekarang mereka sudah suami istri, tapi rasanya sangat canggung berada satu kamar dengan laki-laki yang menjadi atasannya di tempat kerja dalam keadaan sadar.
"Sania tidurlah! Hari sudah malam. Kamu jangan takut, aku tidak akan meminta hak aku sebelum kamu siap," ucap Piero.
"Hak apa ya, Mas?" tanya Sania yang mendadak blank.
"Hak aku sebagai suami kamu. Bukankah kita baru saja menikah, tentu ada hak dan kewajiban dalam sebuah pernikahan," jelas Piero.
__ADS_1
Apa maksud Mas Piero hak anu ya! Aku sama dia kan gak saling cinta. Bagaimana bisa melakukan hal yang begituan. Selain sama-sama tidak sadar, batin Sania.
"Hehehe ... Mas, bolehkan kalau kita tidurnya terpisah? Aku masih malu tidur bersama, Mas." Sania cengengesan saat menyadari maksud dari ucapan Piero.
Laki-laki itu hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Dia mengerti kalau mereka berdua butuh waktu untuk saling menyesuaikan. Meskipun di luar bisa bersikap biasa di depan semua orang. Tapi saat di kamar berdua, tentu membutuhkan lebih banyak waktu untuk bisa saling menerima satu sama lain.
"Iya, Mas ngerti. Mas tidur di sofa ya!"
Keduanya pun langsung tertidur pulang karena rasa lelah yang mendera. Sampai saat menjelang dini hari, Piero merasakan udara yang semakin dingin. Antara sadar dan tidak, laki-laki itu berpindah tidur ke kasur dan menyembunyikan tubuhnya di balik selimut yang tebal. Dia langsung tertidur kembali dengan memeluk guling yang ada di sampingnya.
Keesokan paginya, perlahan Sania membuka matanya. Dia sangat terkejut saat menyadari kalau dia sedang memeluk tubuh Piero dan tidur di dalam dekapan laki-laki itu. Dia langsung menjauhkan tubuhnya dengan tangan yang menutup mulut karena merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukannya.
"Kenapa aku bisa memeluk Mas Piero? Rasanya malu sekali," gumam Sania. Dia bergegas menuju ke kamar mandi. Khawatir Piero akan tahu kalau dia telah memeluknya.
Kriet!
Terdengar suara pintu kamar mandi yang dibuka perlahan. Piero semakin menajamkan pendengarannya. Agar tidak terlewati setiap pergerakan Sania.
"Sepertinya, Mas Piero masih tidur. Aman aman!" gumam Sania saat dia membuka pintu kamar mandi.
Gadis itu jalan berjinjit seperti seorang orang maling. Dia yang hanya memakai handuk saja, mencari keberadaan tas baju yang dibawanya. Setelah menemukannya, Sania segera mengambil baju yang ingin dipakainya. Dia melihat ke arah Piero. Memastikan sekali lagi kalau suaminya masih tertidur.
__ADS_1
Saat sudah yakin kalau Piero masih tertidur, Sania pun memakai satu persatu bajunya dengan membelakangi Piero. Tanpa dia sadari, Piero membuka matanya. Laki-laki itu melotot sempurna saat melihat tubuh belakang Sania. Mendadak sesuatu yang dibawah sana langsung mengeras saat disuguhkan bumper Sania yang padat dan berisi.
Sungguh, Piero menjadi menyesal karena mengintip istrinya sedang berpakaian. Dia segera membalikkan badannya, kembali berpura-pura sedang tertidur. Sampai Sania keluar dari kamar, barulah dia membuka matanya.
"Sial banget, Jhon malah bangun! Lebih baik aku cepat-cepat mandi air dingin agar Jhon kembali tertidur," umpat Piero dalam hati.
Piero langsung bergegas ke kamar mandi, menidurkan kembali adik kecilnya. Saat semua urusannya di kamar mandi selesai, dia segera memakai baju dan menyusul istrinya turun ke bawah. Setibanya di bawah, Piero melihat Sania sedang dimarahi oleh papanya.
"Gadis sialan! Hanya membuat kopi saja tidak becus. Apa yang kamu bisa hah? Merayu anakku dan menyerahkan tubuhmu agar mengikat anakku dalam pernikahan. Cih! Gadis miskin yang ingin panjat sosial, tidak pantas tinggal di rumah ini. Lebih baik kamu segera berkemas dan jangan kembali lagi ke sini. aku tidak sudi melihat wajahmu," usir Yongki tanpa perasaan.
" Papa mengusir istriku? Baik, Pah! Aku juga akan pergi dari sini. Karena Sania sudah menjadi tanggung jawabku. Kalau Papa tidak suka Sania ada di sini, aku pun tidak akan ke sini lagi." Piero langsung menarik tangan Sania dan segera membawanya kembali ke kamar.
"Piero, berhenti! Papa hanya tidak suka pada istri kamu, bukan pada kamu. Selangkah saja kamu pergi dari rumah ini, maka Papa akan mencoret kamu dari ahli waris."
Piero menghentikan langkahnya, saat mendengar apa yang papanya katakan. Dia membalikkan badan dan melihat ke arah papanya dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Lakukan, Pah! Lakukan sesuka hati Papa. Aku yakin, istriku bukan wanita yang gila harta. Aku yakin dengan mengandalkan penghasilanku, aku masih bisa mencukupi semua kebutuhannya. Maaf, Pah. Aku tidak bisa tinggal di sini, sebelum Papa mau menerima istriku dengan lapang dada."
Piero kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamar untuk membawa barang-barangnya dan Sania. Karena memang, awalnya mereka diminta untuk tinggal di sana oleh mamanya. Namun, saat mendengar apa yang papanya katakan, Piero memilih untuk tinggal di apartemennya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....